Fokus

Tiongkok akan Mengenakan Tarif Hingga 200% untuk Barang Impor Australia

Ketegangan perdagangan antara Tiongkok dan Australia mencapai ketinggian baru.

Ini, dengan Tiongkok memberlakukan tarif impor sebesar 200% pada Australia.

Kementerian Perdagangan Beijing akan memberlakukan tarif lebih dari 200% untuk beberapa impor anggur Australia.

Ini adalah langkah awal di tengah apa yang disebut investigasi “anti-dumping” terhadap impor Australia.

“Dumping” mengacu pada saat perusahaan mengekspor produk di bawah harga pasar wajar.

Tarif anti-dumping bisa diberlakukan untuk melindungi ekonomi dalam negeri suatu negara.

Kementerian Tiongkok mengumumkan pada hari Jumat, bahwa apa yang disebut “putusan awal” menemukan adanya “dumping substansial” anggur dari Australia ke pasar Tiongkok.

Tarifnya akan mencapai sekitar 110% hingga 210%.

PM Australia Scott Morrison segera menepis tuduhan tersebut. Dia berkata: “Tidak ada dasar terhadap klaim yang dibuat terhadap industri atau subsidi anggur Australia.”

Morrison juga menambahkan bahwa anggur Australia memiliki beberapa titik harga rata-rata tertinggi di Tiongkok selama paruh pertama tahun 2020.

Anggur Australia, Penfolds, sangat dihargai oleh konsumen Tiongkok.

Begitu populer sehingga merek peniru bernama, Benfords, dibuat untuk bersaing dengannya.

Tiongkok menerima hampir 40% dari ekspor anggur Australia, dan merupakan pasar terbesarnya.

Simon Birmingham, Menteri Perdagangan Australia, mengatakan bahwa pengenaan itu mungkin merupakan tindakan pembalasan oleh rezim Tiongkok.

Birmingham: “Dampak kumulatif dari sanksi perdagangan Tiongkok terhadap sejumlah industri Australia selama tahun ini memang menimbulkan persepsi bahwa tindakan ini diambil sebagai akibat atau sebagai tanggapan terhadap beberapa faktor lain.”

Lebih awal tahun ini, Australia menyerukan investigasi atas sumber awal virus PKT di Tiongkok.

Sejak itu, Tiongkok telah membatasi barang impor kritis Australia.

Itu termasuk daging sapi, jelai, makanan laut, gula dan kayu.

Beijing juga menyatakan kekecewaannya terhadap Australia karena memblokir peralatan yang dibuat oleh raksasa telekomunikasi Tiongkok, Huawei, dari jaringannya.

Selain tarif 200%, Tiongkok juga menahan ekspor batu bara Australia senilai lebih dari 700 juta Dolar (Rp 9,9 T) di lepas pantainya.

Sumber daya itu telah berlabuh di sana selama berbulan-bulan.

Ini, dengan alasan masalah yang jelas, terkait standar lingkungan.

Menurut Bloomberg, sekitar 50 kapal berisi batu bara menunggu di pelabuhan Tiongkok.

Inspeksi Tiongkok dilaporkan mencegahnya untuk merapat ke darat.

Tiongkok adalah mitra dagang dua arah terbesar Australia.

Perdagangan dua arah mencapai rekor $ 250 miliar (Rp 3.540 T) pada 2019.

Ekspor Australia yang signifikan termasuk bijih besi, jelai, dan daging sapi.

Tiongkok membeli lebih dari 80% bijih besi, dan sekitar 70% jelai.

Tiongkok juga merupakan pasar daging sapi nomor satu di Australia, dengan total sekitar 25% dari total ekspor daging sapi Australia.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.