Fokus

Tiongkok-lah yang Mendorong Australia Hingga Meningkatkan Persenjataan

Kita beralih ke ketegangan nuklir antara Australia dan Tiongkok.

Seorang ahli Tiongkok memperingatkan Australia bahwa negara itu, menjadi target perang nuklir.

Semua karena Australia menandatangani pakta keamanan dengan AS dan Inggris.

Pakta baru itu memberi Australia, 8 kapal selam nuklir.

Dan meskipun mereka tidak akan dipersenjatai dengan senjata nuklir, pakar Tiongkok, Victor Gao mengisyaratkan kesepakatan itu bisa membuat Australia dalam masalah besar.

Dia mengatakan Australia akan ‘kehilangan hak istimewa’ untuk tidak menjadi sasaran senjata nuklir negara lain, sesuatu yang dia katakan harus menjadi peringatan bagi warga Australia.

Dan kepada 20 juta lebih populasi Australia, dia bertanya:

“Apakah Anda benar-benar ingin menjadi target dalam kemungkinan perang nuklir, atau apakah Anda ingin bebas dari ancaman nuklir ke depan?”

Ketika ditanya negara mana yang akan mengarahkan pandangan nuklir ke Australia,

Gao menjawab: “Anda tidak perlu tahu siapa itu.”

Seorang pakar keamanan nasional mengatakan peringatan seperti ini bisa berefek sebaliknya.

Alexander Gray, pakar keamanan nasional: “Bagi Tiongkok, untuk membuat komentar tentang senjata nuklir dan penargetan nuklir atas Australia, itu hanya akan memiliki efek yang sama dengan tindakannya dalam dekade terakhir, yang menurut saya memperkuat, secara bipartisan, baik Partai Buruh maupun Partai Liberal di Australia, menciptakan momentum ini, bukan hanya untuk kelanjutan AUKUS, tapi berpotensi lebih lanjut memperkuat pendekatan itu, terhadap hubungan luar negeri.”

Gray menunjukkan bahwa tindakan rezim Tiongkok-lah, yang mendorong Australia ke titik ini.

Gray: “Australia 10 tahun yang lalu, secara ekonomi sangat saling bergantung dengan Tiongkok, ada pertanyaan terbuka tentang arah mana yang akan diambil Australia, karena terkait dengan Amerika Serikat.”

Tapi satu dekade kemudian…

Gray: “Kita sekarang memiliki aliansi yang luar biasa ini. Dan apa yang terjadi sebelum waktu itu, Tiongkok mendorong Australia ke posisi di mana, mereka merasa ini adalah opsi geostrategis terbaik. Tiongkok melakukannya. Jika Anda melihat sepanjang tahun ini, dari jenderal PLA, ke anggota senior PKT, hingga akademisi Tiongkok dan komentator berita, The Global Times, terus-menerus melecehkan Australia, berbicara tentang bagaimana Australia akan dengan mudah dikalahkan dalam perang, bagaimana Amerika Serikat tidak dapat membela Australia, Anda melihat boikot anggur Australia …”

Gray mengatakan Beijing kini melihat konsekuensi atas tindakan itu.

Gray: “Saya pikir efek akhirnya adalah memaksa komunitas strategis Australia untuk membuat pilihan yang sangat sulit tentang apa yang menjadi kepentingan nasional mereka.”

Dia menjelaskan bahwa Australia sampai pada keputusan bahwa ambisi Tiongkok tidak sesuai dengan keamanan nasional Australia, dan itulah yang memaksa negara itu, ke dalam aliansi baru dengan AS dan Inggris.

Kini kita melihat ke Indo-Pasifik, di mana negara-negara di sekitar Tiongkok juga meningkatkan kemampuan pertahanan mereka.

Dan AS membantu beberapa dari mereka bersiap.

Itu adalah bagian dari reaksi mereka terhadap ekspansi militer Beijing.

Pertama, Australia. Negara ini telah menjadi berita utama karena membentuk aliansi baru dengan AS dan Inggris untuk melawan Tiongkok.

Di bawah pakta baru, AS dan Inggris akan berbagi teknologi kapal selam nuklir yang sangat sensitif dengan Australia.

Langkah tersebut adalah tidak biasa, karena AS hanya pernah berbagi teknologi itu dengan Inggris, dan itu, untuk melawan Uni Soviet.

Di bawah perjanjian baru, Australia juga akan mendapatkan 8 kapal selam nuklir, yang lebih cemerlang dari kapal selam konvensional.

Mereka lebih cepat, lebih hening, dan lebih mematikan.

Sebagai perbandingan, angkatan laut Tiongkok dilaporkan memiliki 6 kapal selam nuklir, dan berencana untuk memperluas armada itu dalam dekade mendatang.

Australia juga meningkatkan kemampuan serangan jarak jauhnya dengan rudal baru dari AS.

Rudal jelajah Tomahawk AS menawarkan jangkauan lebih dari seribu mil.

Terlebih lagi, Deplu AS telah menyetujui kesepakatan untuk menjual lebih dari 20 helikopter penyerang ke Australia, senilai lebih dari tiga miliar dolar.

Selanjutnya adalah Taiwan.

Pulau ini berencana untuk menghabiskan lebih dari 8 miliar dollar untuk meningkatkan kemampuan senjatanya.

Itu termasuk mendapatkan beberapa rudal baru.

Bulan lalu, Washington menyetujui potensi penjualan 40 sistem artileri ke Taiwan.

Kesepakatan senilai lebih dari 700 juta dolar, jika sukses.

Ini mengikuti penjualan serupa tahun lalu, ketika AS menjual sistem senjata senilai sekitar 5 miliar dolar ke Taiwan.

Kini ke Korea Selatan.

Negara itu berhasil menguji coba rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam, pekan lalu.

Korsel juga adalah negara pertama tanpa senjata nuklir, yang mengembangkan sistem seperti itu.

Adapun Korea Utara, negara itu menguji sistem rudal berbasis kereta pertamanya untuk menyerang apa yang disebutnya “kekuatan yang mengancam”.

Dan di Jepang, para pejabat telah menghabiskan jutaan dolar untuk senjata jarak jauh.

Negara ini juga mengembangkan rudal anti-kapal baru.

Itu memberi Jepang kemampuan untuk menargetkan kapal perang yang mendekati pulau Senkaku, dari jarak yang lebih jauh.

Tiongkok dan Jepang sama-sama mengklaim pulau Senkaku sebagai wilayah mereka.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI