Fokus

Tiongkok Menghapus Bahasa Inggris dari Rambu-Rambu Petunjuk

Partai Komunis Tiongkok tampaknya akan mengambil langkah baru, dalam memisahkan diri dengan komunitas internasional.

Setidaknya terkait dalam hal bahasa.

Di Beijing, para pekerja secara bertahap mengubah tanda-tanda kereta bawah tanah lokal.

Kota ini menghapus nama-nama bahasa Inggris, menggantinya dengan bahasa Mandarin yang diromanisasi atau pinyin, sebagai gantinya.

Pinyin adalah ejaan fonetik kata-kata Mandarin menggunakan huruf bahasa Inggris.

Berikut salah satu contoh dari dalam stasiun kereta bawah tanah, tanda itu berbunyi: binhaiguojijichang. yang diterjemahkan menjadi: “Bandara Internasional Binhai.”

Itu bukan satu-satunya kasus, tanda transit lainnya berbunyi: “weigongcun zhan.”

Yang artinya: “Stasiun Weigongcun.”

Perubahan dimulai bulan lalu, hanya beberapa minggu menjelang Olimpiade Musim Dingin Beijing.

Otoritas Beijing mengatakan perubahan itu bertujuan untuk menyatukan terjemahan rambu, sesuai dengan peraturan.

Tapi beberapa, tetap tidak yakin, bahkan salah satu media utama Tiongkok yang dikelola pemerintah tampaknya menentang langkah tersebut, menyebut perubahan itu tidak praktis.

Dikatakan penutur bahasa Mandarin tidak memerlukan penyesuaian itu, dan orang asing yang berkunjung tidak akan dapat mengerti.

Banyak yang melihat langkah itu sebagai bagian dari penolakan Beijing terhadap bahasa Inggris.

Itu, di tengah perang ideologi pemimpin Partai Komunis, Xi Jinping melawan pengaruh Barat.

Ketika dia berkuasa pada 2013, pemimpin komunis itu mempromosikan kebijakan yang disebut “Kepercayaan diri secara budaya”, dan menekan bahasa Inggris adalah bagian dari itu.

Aspek lain termasuk meningkatkan pengawasan terhadap film dan publikasi Barat.

Upaya nyata Beijing untuk mengurangi penggunaan bahasa Inggris tampaknya juga bermunculan di tempat lain.

Perusahaan bimbingan belajar Tiongkok juga sedang berjuang, di bawah tekanan dari tindakan keras Partai Komunis Tiongkok terhadap sektor tersebut.

Perusahaan bimbingan belajar besar, New Oriental, mengalami penurunan nilai pasar hingga 90%.

Ini menurut komentar hari Sabtu oleh pendiri perusahaan tersebut.

Tindakan keras rezim dimulai tahun lalu.

Itu dimulai ketika Beijing menerapkan kebijakan baru, melarang bimbingan belajar untuk keuntungan, di luar kampus.

Pendiri New Oriental, Yu Minhong, mengatakan New Oriental telah membayar lebih dari 3 miliar dolar untuk pengembalian uang sekolah, pemecatan karyawan, dan pembatalan sewa lokasi pada akhir tahun 2021.

Dia menjelaskan pendapatan telah berkurang hingga 80%, dan bahwa perusahaan terpaksa melepaskan sekitar 60 ribu karyawan.

New Oriental adalah salah satu penyedia pelatihan ujian TOEFL dan IELTS terbesar di Tiongkok.

Ini adalah dua tes standar utama, yang digunakan untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris dari non-penutur asli.

Mereka juga diperlukan untuk non-penutur asli yang ingin belajar di AS, atau mendaftar di universitas berbahasa Inggris lainnya.

Bisnis perusahaan juga mencakup les bahasa Inggris untuk TK hingga kelas 12.

New Oriental adalah salah satu perusahaan pendidikan terbesar di Tiongkok, dan merupakan perusahaan pembelajaran Tiongkok pertama yang go public di Amerika Serikat.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI