Fokus

Tiongkok sedang Menimbun Chip Komputer dari Luar Negeri

Tiongkok sedang menimbun chip komputer lewat Hong Kong, sebelum sanksi AS terkait perdagangan dengan Hong Kong, berlaku.

Para importir Tiongkok membeli lebih banyak chip komputasi melalui Hong Kong, untuk mengantisipasi sanksi AS di pulau itu yang akan membuat perdagangan jauh lebih sulit.

Ekspor ulang semikonduktor lewat Hong Kong ke Tiongkok melonjak 11% pada semester pertama tahun ini, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019.

Ekspor ulang, yang merupakan ekspor barang asing atau barang impor, naik sebesar 21% pada bulan Juni saja.

Perdagangan Hong Kong mewakili lebih dari 38%, dari total impor chip Tiongkok.

Setelah Beijing memberlakukan undang-undang Keamanan Nasional di Hong Kong, pemerintah AS mencabut status perdagangan khusus Hong Kong, membuat pembelian chip komputer masa depan lebih sulit bagi perusahaan Tiongkok, seperti Huawei, Xiaomi, ataupun Lenovo.

Asosiasi elektronik dan teknologi Hong Kong memperkirakan, ada 300 perusahaan yang berspesialisasi dalam perdagangan.

Dikatakan perusahaan-perusahaan dagang di Hong Kong sedang berpikir untuk mendirikan kantor baru di India, Vietnam dan Kamboja untuk terus menjual ke pembeli Tiongkok, tapi biaya relokasi akan mahal.

Para ekonom mengatakan, aturan baru itu dapat menyebabkan penyumbatan pasokan untuk Tiongkok, yang mengakibatkan biaya transaksi lebih tinggi untuk industri teknologi Tiongkok.

Dua peretas yang terkait dengan Partai Komunis Tiongkok, dituduh telah menargetkan beberapa perusahaan AS.

Salah satu target adalah pengembang vaksin virus terkemuka.

Pekan lalu Departemen Kehakiman AS mengumumkan kepada publik sebuah dakwaan terhadap dua warga negara Tiongkok, yang dituduh memata-matai AS.

Salah satu target mereka adalah perusahaan bioteknologi, Moderna.

Moderna adalah pengembang riset vaksin terkemuka untuk virus PKT.

Para peretas, yang terkait dengan Partai Komunis Tiongkok, menargetkan Moderna awal tahun ini.

Moderna berbasis di Massachusetts. Pemerintahan Trump memiliki harapan besar bahwa perusahaan itu, dapat memproduksi vaksin virus PKT, dan mendukung pengembangannya dengan hampir setengah miliar Dolar AS.

Moderna mengkonfirmasi bahwa mereka telah melakukan kontak dengan FBI setelah insiden tersebut.

Juru bicara Moderna mengatakan bahwa perusahaan itu, tetap sangat waspada terhadap potensi ancaman keamanan siber.

Mereka mengelola banyak tim untuk melindungi informasi berharga.

FBI dan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, menolak untuk mengungkapkan identitas perusahaan AS lain yang juga menjadi target para peretas Tiongkok. (ntdtv/jl)

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.