Jumlah korban tewas akibat bencana banjir di Nepal kini meningkat ke hampir 940 dengan 4000 orang masih hilang. Tim penyelamat kini berfokus pada fasilitas listrik tenaga air di mana para pekerja mungkin masih terperangkap dalam terowongan.
Para penyintas banjir di Nepal menggambarkan kejadian itu mirip seperti tsunami, dimana air menyapu seperti gelombang yang menghanyutkan mobil, pohon, rumah, serta manusia.
Nepal menyatakan mereka membutuhkan bantuan internasional khusus untuk penyelamatan di terowongan, identifikasi forensik, dan penyimpanan jenazah. Di seberang perbatasan Tibet, para keluarga juga sedang mencari kerabat mereka yang hilang, namun akses ke zona bencana tetap sangat dibatasi.
Partai Komunis China menangguhkan izin perjalanan ke daerah yang terkena dampak. Tibet tetap berada di bawah pembatasan ketat rezim China. Kebebasan bersuara dikontrol dengan ketat, dan jurnalis asing diwajibkan memperoleh izin khusus untuk memasuki wilayan. Berbagai pembatasan ini telah menyulitkan peliputan independen mengenai banjir Nepal, di mana sebagian besar kantor berita terpaksa mengandalkan media pemerintah China untuk mendapatkan informasi.

