Presiden Trump memberi sinyal penundaan perjalanan ke China. Itu setelah ia meminta Beijing membantu menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, berkata China lebih membutuhkannya daripada AS. Berikut pernyataan Presiden Trump hari Minggu.
[Presiden Trump]:
“Kami berbicara dengan negara-negara tentang mengawasi Selat. Merekalah yang bertanggung jawab. Kita tidak mendapatkan minyak, sangat sedikit, 1-2%. Sementara China misalnya, mendapat 90% kebutuhannya dari sana. Itu tempat dimana mereka mendapatkan energi, mereka harus datang dan membantu kita melindunginya. Mungkin bahkan kita tidak perlu ada disana sama sekali karena kita tidak butuh. Kita punya banyak minyak.”
Sehari setelah menyerukan permintaan bantuan ke Selat Hormuz, Trump berkata ia ingin mendengar tanggapan Beijing sebelum perjalanannya ke China, yang semula dijadwalkan akhir bulan. Trump mengisyaratkan ia mungkin akan menunda kunjungannya namun tidak mengatakan berapa lama.
Hari Senin, Mentri Keuangan AS Scott Bessent membagikan lebih banyak informasi.
[Scott Bessent, Menkeu AS]:
“Yang ingin saya uraikan, ada narasi palsu diluar sana bahwa jika pertemuan ditunda, itu bukan karena presiden menuntut agar China mengamankan Selat Hormuz. Itu sepenuhnya salah. Jika karena suatu alasan tertentu pertemuan tersebut dijadwalkan ulang, itu terjadi karena masalah logistik. Presiden tetap ingin menjadi bagian dari NDC untuk mengoordinasikan upaya perang. Bepergian ke luar negeri pada saat ini mungkin tidak optimal.”
Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mendukung pernyataan Bessent dengan berkata Presiden Trump berharap dapat mengunjungi China meski tanggal perjalanan ditunda. Ia menekankan bahwa prioritas Trump saat ini adalah memastikan keberhasilan operasi Epic Fury.
China menanggapi keesokan harinya, menyerukan ke semua pihak agar menghentikan operasi militer namun tidak mengatakan apakah akan mengirim pasukan.
Menurut data resmi, sekitar 45% minyak China melewati Selat Hormuz. Gangguan di jalur air ini telah menaikkan harga gas China meskipun negara itu memiliki cadangan minyak yang besar. Militer Iran telah menutup Selat Hormuz di tengah operasi militernya dan mengancam akan menyerang kapal apapun yang mencoba menyeberang.
Negara Sekutu AS Tanggapi Permintaan Trump Amankan Selat Hormuz
Negara-negara sekutu menanggapi seruan Presiden Trump untuk mengamankan Selat Hormuz. Hari Senin, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berkata upaya membuka jalur air tersebut bukanlah misi NATO, melainkan harus melibatkan aliansi luas dari mitra Teluk, negara-negara Eropa dan AS.
[Keir Starmer, PM Inggris]:
“Pada akhirnya, kita harus membuka kembali Selat Hormuz untuk memastikan stabilitas di pasar. Itu bukan tugas yang mudah. Kami bekerja sama dengan semua sekutu termasuk mitra Eropa kami, untuk menyusun rencana kolektif layak yang dapat memulihkan kebebasan navigasi di kawasan tersebut secepat mungkin.”
Starmer berkata Inggris tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas di Iran. Ia membahas Selat Hormuz dalam panggilan telepon dengan Trump malam sebelumnya. Perdana Menteri Inggris juga bertemu dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney untuk membahas masalah tersebut.
Menlu Jerman mengatakan NATO tidak memiliki tanggung jawab terkait Selat Hormuz. Para menlu Uni Eropa akan membahas penguatan misi angkatan laut di kawasan tersebut, namun tidak meluas hingga ke Selat. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi berkata Jepang juga tidak berencana mengirim kapal angkatan lautnya. Ia berencana mengunjungi Washington minggu ini untuk berbicara dengan Presiden Trump terkait konflik Iran. Sementara, Korea Selatan mengatakan akan berkonsultasi erat dengan AS sebelum mengambil keputusan.

