Presiden Trump berkata bahwa dalam kunjungannya ke China pekan lalu, Xi Jinping banyak membahas tentang Taiwan. Presiden Taiwan angkat bicara setelah Trump menegaskan kepada media bahwa ia tidak ingin Taiwan mendeklarasikan kemerdekaannya.
Pasca pertemuan Trump dan Xi, Presiden Taiwan Lai Ching-te mengunggah lima poin pernyataan di laman Facebook. Salah satu poin tersebut secara langsung merespons wawancara Presiden Trump yang menyatakan tidak mendukung kemerdekaan Taiwan. Lai menegaskan bahwa Taiwan sudah menjadi negara demokrasi yang berdaulat, sehingga tidak ada lagi isu kemerdekaan. Perwakilan Taiwan untuk AS mempertegas kembali hal ini dalam wawancara dengan CBS.
[Alexander Yu, Perwakilan Taiwan untuk AS]:
“Presiden kami baru saja mengeluarkan pernyataan. Dan itu jelas bahwa Taiwan merdeka dari agresi China, dari Partai Komunis China. karena, bukan kami yang memulai semua masalah ini. Anda tahu, ibaratnya seperti ada penyusup yang mencoba masuk ke rumah kami. Lalu kami memperkuat sistem keamanan kami. Kemudian si penyusup mengeluh bahwa karena kami memperketat sistem keamanan kami, hal itu membuat pekerjaannya menjadi lebih sulit.”
Ketika dimintai komentar saat berada dalam Air Force One, Trump berkata penjualan senjata AS ke Taiwan berikutnya akan diputuskan setelah ada pembicaraan dengan pemimpin Taiwan. Pihak Taiwan juga tidak menjawab seputar kemungkinan panggilan telepon antara presiden Lai dan Trump, dan menegaskan bahwa pernyataan itu harus datang dari Washington.
Sebelum resmi menjabat di periode pertamanya, Trump sempat menelepon mantan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. Meski mengaku banyak membahas soal Taiwan dengan Xi Jinping, Trump menegaskan tidak memberi komitmen apa pun kepada China. Saat ditanya apakah AS akan mengirimkan pasukan jika China menyerang Taiwan, Presiden Trump tidak memberikan jawaban. Pihak Taiwan berkata bahwa penjualan senjata AS ke Taiwan adalah demi kepentingan AS dan Taiwan.
[Alexander Yu, Perwakilan Taiwan untuk AS]:
“Kami percaya pada perdamaian melalui kekuatan. Jadi, masuk akal AS menjual senjata kepada kami agar kami bisa mempertahankan diri. Anda tidak perlu mendatangkan tentara Anda sejauh 9.500 mil untuk membela kami.”
Selama kunjungan ke China, baik Trump dan Menlu AS Marco Rubio mengatakan bahwa kebijakan AS terhadap Taiwan tidak berubah. Selain itu AS tidak menginginkan ada perubahan sepihak atas status quo.
Presiden Lai Ching-de mengatakan Taiwan akan selalu memperjuangkan status lintas selat saat ini, dan tidak akan berupaya mengubahnya. Lai menambahkan bahwa ekspansi militer China yang terus berlanjut di dalam dan sekitar Selat Taiwan menjadi sumber ketidakstabilan di kawasan tersebut.

