Fokus

Unjuk Rasa Mengenang Satu Tahun Gerakan Protes Kertas Putih di China

Seruan untuk kebebasan di China, datang dari jantung Kota New York.

Sekelompok aktivis memperingati satu tahun gerakan kertas putih, salah satu protes terbesar yang menyerukan demokrasi di China sejak gerakan mahasiswa tahun 1989 di Lapangan Tiananmen.

Sebuah unjuk rasa di pusat kota Manhattan pada hari Sabtu, menandai hari istimewa, peringatan satu tahun protes besar di China, yang disebut gerakan kertas putih.

“Saya pikir saya belum pernah melihat gerakan berskala besar seperti itu di China, sepanjang hidup saya. Orang-orang menjadi radikal di China secara menyeluruh. Ini sangat jarang terjadi. Saya pikir, saat tumbuh dewasa, saya selalu berpikir bahwa tidak mungkin bagi China untuk memiliki gerakan lain yang sebesar Lapangan Tiananmen.”

Gerakan ini mengejutkan banyak orang pada saat itu.

Gelombang demonstrasi terjadi secara nasional, mengutuk kebijakan lockdown COVID-19 yang ketat di Beijing.

Para pengunjuk rasa memegang lembaran kertas kosong saat berdemonstrasi, sebuah simbol sensor.

Para pengunjuk rasa mengatakan mereka tidak ingin menjadi budak, mereka ingin menjadi warga negara.

Seruan seperti ini terdengar di kota terbesar China, Shanghai, para pengunjuk rasa meminta pemimpin China, Xi Jinping untuk mundur.

Para pengunjuk rasa juga membidik langsung rezim komunis yang berkuasa.

Salah satu pengunjuk rasa di Shanghai pergi ke AS, bergabung dengan unjuk rasa di New York, untuk memperingati gerakan tersebut.

Baginya, sebuah protes semacam itu di China, tidak terbayangkan.

“Awalnya pikiran saya kosong, saya tidak memikirkan apa pun. Saya sedikit gugup, sedikit bersemangat. Namun setelah itu kemarahan muncul dalam diri saya setelah orang-orang mulai bersuara. Lagipula, kami terlalu lama dilockdown. Jadi orang-orang melampiaskannya dan meminta hak asasi manusia.”

Dia menceritakan bagaimana petugas polisi mengepung mereka.

“Beberapa orang ditangkap. Otoritas menyita ponsel beberapa orang. Petugas polisi kemudian membawa bus ke sini, sejumlah orang diculik [dan dibawa] ke dalam bus. Beberapa dipukuli.”

Jiao meninggalkan China setelah protes tersebut.

Dia mengatakan lockdown Beijing yang kejam merupakan peringatan bagi banyak rakyat China.

“Mereka muak dengan penindasan. Mereka juga melihat apa yang terjadi di sekitar mereka. Beberapa orang melompat dari gedung. Mereka juga melihat kobaran api yang terjadi di Xinjiang, banyak yang meninggal di gedung apartemen. Jadi mereka didorong ke tepi jurang dan mulai melawan [pemerintahan otoriter Beijing].”

Protes kemudian mereda.

Beijing mencabut pembatasan pandemi, tapi menangkap sejumlah pengunjuk rasa.

Beberapa dari mereka masih dipenjara hingga saat ini.

Para peserta unjuk rasa mengatakan pentingnya mengenali ketekunan mereka.

Dan bahwa mereka tidak sendirian, karena ada banyak yang di luar negeri, yang turut memperjuangkan demokrasi bersama mereka.

Kelompok itu juga mengecam pelanggaran yang dilakukan Beijing terhadap orang Tibet dan Uighur.

Rezim China telah mengumpulkan sampel darah dari warga Tibet untuk mendapatkan hasil pengawasan yang lebih baik.

Rezim China juga telah menahan lebih dari satu juta warga Uighur di China, sebuah kelompok minoritas Muslim yang tinggal di wilayah Xinjiang Barat.

AS mengatakan Beijing melakukan genosida terhadap mereka, melalui penahanan massal dan sterilisasi paksa.

Berbeda dengan keterbukaan unjuk rasa di AS, di China, para peserta gerakan kertas kosong tahun lalu menghadapi ketakutan, penindasan, dan pembalasan dari otoritas setempat.

Kami duduk bersama salah satu dari mereka untuk mencari tahu apa yang terjadi pada para demonstran di wilayah China.

Huang Guo’an adalah seorang spesialis teknis yang bekerja di kota Guangzhou, China Selatan.

Untuk memperingati satu tahun gerakan kertas putih China, dia menceritakan tragedi yang dia katakan terjadi di kotanya.

“Selama 3 tahun lockdown akibat pandemi, saya menyaksikan terlalu banyak orang melompat dari gedung, gantung diri. Orang-orang tidak bisa pergi ke rumah sakit tanpa melakukan tes COVID-19. Beberapa wanita hamil yang tidak menjalani tes, [ditolak oleh rumah sakit]. Mereka akhirnya mengalami keguguran. Beberapa orang lansia yang tidak melakukan tes ditolak atas perawatan medis darurat, dan ini sering terjadi di Guangzhou.”

Unjuk rasa yang terjadi secara nasional ini merupakan salah satu yang terbesar di China modern, didorong oleh pembatasan ketat akibat pandemic yang membuat orang-orang terjebak di rumah mereka selama berbulan-bulan.

Banyak dari mereka, kekurangan makanan dan akses terhadap perawatan medis.

Huang mengenang kesulitannya di bawah lockdown yang tiba-tiba.

“Saya tidak mempunyai banyak persediaan makanan, dan seiring dengan berlanjutnya lockdown, makanan saya hampir habis. Saya mengerti mengapa beberapa orang memilih untuk melompat dari gedung. Saat Anda kelaparan hingga putus asa, pikiran seperti itu bisa saja muncul. Jika Partai Komunis tidak mundur, rakyat biasa tidak akan bisa bertahan; mereka merasa putus asa.”

Saat pengunjuk rasa turun ke jalan, Huang bekerja di belakang layar.

Huang memperoleh informasi anti-komunisme dari luar negeri, dengan menerobos sensor internet China.

Dia mengambil rincian itu dan menyebarkannya di media sosial China.

Gerakan kertas kosong mendorong otoritas China untuk mengakhiri tindakan lockdown yang kejam.

Namun apa yang menunggu para pengunjuk rasa setelahnya, adalah pembalasan brutal dari rezim China.

“Saya ditangkap pada tanggal 20 Mei. Saya curiga ada orang yang mengungkapkan informasi tentang saya, di bawah penyiksaan.”

Hanya sebulan kemudian, Huang kehilangan kontak dengan banyak rekan demonstrannya.

Dia kemudian mengetahui bahwa mereka telah ditangkap.

Dan beberapa bulan kemudian, dia juga mengalami hal yang sama.

Huang ditahan selama 15 hari.

Dia mengalami berbagai bentuk penyiksaan selama itu, termasuk disoroti cahaya dengan intens, disemprot bahan kimia, dan dilarang tidur.

Dia juga kehilangan pekerjaannya, selama masa ini.

Setelah dibebaskan, dia melarikan diri ke Selandia Baru.

Meski Huang sekarang tinggal di tanah bebas, dia mengatakan polisi China masih mengganggunya melalui pesan teks, dan memanfaatkan keselamatan anggota keluarganya di China.

Terlebih lagi, tabungan banknya masih dibekukan di China.

Terlepas dari tantangan yang ada, dia mengatakan, akan terus mengekspos tindakan rezim Komunis terhadap rakyat China, serta berusaha untuk membawakan kesadaran kepada negara-negara lain.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

Lebih banyak informasi tentang Shen Yun silahkan kunjungi: shenyun.com