Fokus

Wabah Belalang Kembali Melanda Tiongkok

Menurut Kementerian Pertanian Tiongkok, belalang bambu punggung kuning telah bermigrasi dari Laos ke Tiongkok tahun ini.

Kementerian menjelaskan, bahwa serangga itu “mulai lebih awal” dan “sering, dan banyak.”

Periode migrasi dapat berlangsung hingga pertengahan hingga akhir Agustus.

Kementerian Pertanian mengatakan, dalam lima tahun terakhir, frekuensi migrasi belalang bambu punggung kuning dari luar negeri telah meningkat, dan itu mungkin akan menjadi normal baru.

Sebuah video menunjukkan awan belalang terbang melintasi langit di provinsi Yunnan, Tiongkok Barat Daya.

Tiga hari kemudian, sebuah ladang jagung ditemukan penuh dengan belalang, dan banyak daun tanaman sudah dimakan.

Seorang warga desa dari Yunnan merekam situasi setempat.

Dia membenarkan bahwa serangga terbang yang terlihat di langit semuanya adalah belalang.

Dao, warga desa lainnya, mengatakan penduduk setempat terus menyemprot pestisida.

Namun menambahkan bahwa, adalah sulit untuk memusnahkan begitu banyak serangga.

Dia mengatakan kalau daerah itu telah dilanda wabah belalang selama sekitar satu bulan sejauh ini.

Dao, warga Yunnan: “Kemanapun belalang pergi, mereka memakan semuanya. Tidak peduli apakah ladang itu menanam jagung atau padi. Tapi kesukaan mereka adalah daun bambu.”

Menurut media Tiongkok, belalang ini telah pindah dari Laos ke daerah perbatasan Yunnan dalam sebulan terakhir, melanda lebih dari 20 ribu hektar lahan pertanian.

Sebelum ini, bencana lokal belalang telah melanda provinsi Timur Laut, Jilin dan Heilongjiang, serta provinsi Barat Daya, antara lain, Hunan dan Guangxi.

Otoritas Tiongkok sedang mengetatkan kendali atas paspor biasa.

Sebuah perintah baru-baru ini telah membatalkan berlakunya semua paspor biasa yang dipegang oleh para staf pemerintahan, di Wuhan.

Warganet menduga bahwa hal itu dilakukan untuk mencegah potensi munculnya pengungkap pertama lain, di masa depan, di Tiongkok.

Biro Keamanan Publik Wuhan baru-baru ini mengeluarkan pemberitahuan yang memerintahkan warga tertentu untuk menyerahkan paspor mereka, atau menyatakan bahwa paspor mereka tidak sah.

Jika mereka tidak melakukannya, paspor mereka akan dibatalkan.

Orang-orang yang dimaksud termasuk staf dari organisasi pemerintahan, perusahaan yang dikendalikan negara, serta lembaga-lembaga pemerintah.

Perintah ini akan mulai berlaku pada 1 Agustus.

Tapi Wuhan bukan satu-satunya wilayah yang menerapkan langkah itu.

Seorang petugas rezim dari wilayah Xinjiang mengatakan kepada Radio Free Asia, bahwa semua pejabat Tiongkok dilarang memiliki paspor sendiri.

Orang-orang dari provinsi lain juga melaporkan bahwa permohonan paspor mereka ditolak.

Pihak berwenang telah menghentikan pemrosesan aplikasi, baik karena pandemi, atau karena klaim bahwa negara lain terlalu berbahaya untuk dijadikan tujuan perjalanan.

Pada 20 Juni, Departemen Kehakiman Tiongkok memberlakukan hukum untuk menghukum para pejabat pemerintah atas kesalahan yang mereka lakukan.

Termasuk dalam daftar pelanggaran yang bisa dihukum, pasal 31 menyebutkan: meninggalkan Tiongkok atau memproses dokumentasi perbatasan tanpa izin.

Hukum mengatakan bahwa hal itu dapat menyebabkan hilangnya pekerjaan atau jabatan seseorang.

Seorang ekonom Tiongkok membagikan pemberitahuan Wuhan di Twitter, menulis: “Akan terlambat jika Anda tidak meninggalkan Tiongkok sekarang.”

Pengguna lain berkomentar bahwa perintah itu adalah untuk “mencegah munculnya Yan Limeng yang kedua.”

Mereka merujuk pada ahli virologi dan pelapor yang melarikan diri ke AS, untuk mengungkapkan kisah dari orang dalam tentang upaya penyembunyian Partai Komunis Tiongkok terkait virus PKT. (NTDTV/jl)

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.