CDC AS menyarankan para turis yang hendak mengunjungi China agar melakukan tindakan pencegahan wabah virus. Sejak Juni, sebuah provinsi di China selatan telah melaporkan lebih dari 7,000 kasus Chikungunya, yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Saat ini belum ada pengobatan yang efektif. Kematian jarang terjadi, tetapi mereka yang terinfeksi dapat menderita demam, nyeri sendi, sakit kepala, nyeri otot, atau ruam. Kebanyakan pulih dalam seminggu, namun untuk beberapa gejala dapat berlangsung berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. CDC AS juga menyarankan wanita hamil agar mempertimbangkan kembali perjalanan ke China, karena bayi dapat tertular virus dari ibu mereka. Peringatan perjalanan ini dikeluarkan sekitar sebulan setelah virus mewabah di China.
CDC China di Guangdong melaporkan sekitar 3,000 kasus dalam seminggu. Hingga Sabtu lalu, jumlah tersebut bertambah menjadi lebih dari 7,000 kasus sejak Juni. Beberapa tindakan lockdown era Covid19 telah kembali diterapkan di wilayah tersebut, seperti karantina selama seminggu, pengujian massal, dan tenaga medis yang memasuki rumah untuk menyemprotkan pestisida. Mereka yang melawan dapat dikenai denda lebih dari satu setengah juta rupiah. Ada pula laporan otoritas setempat memutus aliran listrik bagi mereka yang menolak.

