Fokus

Waktunya Bisnis Taiwan Keluar dari Tiongkok: Ahli

Bisnis Taiwan telah beroperasi di Tiongkok selama beberapa dekade.

Tapi kini, beberapa ahli mengatakan sudah waktunya bagi mereka untuk pergi.

Secara total, perusahaan Taiwan telah menarik hampir setengah dari investasi mereka, keluar dari Tiongkok dalam sepuluh tahun terakhir, tapi sepertinya gelombang kemunduran yang lebih besar, sedang dalam perjalanan.

Pakar Taiwan, Lin Thung-Hong mengatakan bisnis-bisnis Taiwan di Tiongkok telah memasuki fase penurunan.

Lin adalah peneliti dari Institut Ilmu Sosial dari Academia Sinica di Taiwan.

Dalam seminar baru-baru ini, dia menjelaskan tiga tahap untuk perusahaan Taiwan yang beroperasi di Tiongkok.

Dia menyebut fase pertama “lapisan emas.”

Tapi menunjukkan bahwa masuknya modal asing tidak membuat Tiongkok menjadi lebih demokratis.

Fase kedua dia sebut “gelombang besar.” Saat itulah ekonomi Tiongkok melonjak.

Tapi lingkungan bisnis tumbuh kurang menguntungkan.

Lin menyoroti biaya tenaga kerja yang tumbuh cepat di Tiongkok.

Pakar urusan Tiongkok yang berbasis di Taiwan, Hsieh Chin-ho, sependapat dengan Lin.

Dia mencontohkan teman sekelasnya yang sekarang berbisnis di Tiongkok.

Dan menjelaskan bahwa pekerja Tiongkok lebih suka melakukan pekerjaan pengiriman, daripada bekerja di pabrik.

Hsieh: “Saya punya teman sekelas yang merupakan produsen peralatan asli untuk Louis Vuitton. Dia bilang dia punya 4.300 pekerja di saat puncak, sekarang hanya tinggal 43. Saya bertanya-tanya mengapa, dan bertanya apakah dia memberi mereka kenaikan gaji. Dia bilang gajinya sudah dinaikkan menjadi lebih dari 7.500 yuan Tiongkok, atau sekitar 1.200 dolar AS (Rp 17 juta).”

Hsieh menyebutkan bahwa pada 1990-an, gaji pekerja lini perakitan Tiongkok sekitar 350 yuan Tiongkok, atau sekitar 55 dolar (Rp 778 ribu) sebulan, sekarang gajinya hampir 1.200 dolar.

Lin mengatakan, bertahun-tahun setelah “gelombang besar”, perubahan kebijakan pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, mengantarkan pada fase ketiga, yang dia sebut fase penurunan.

Lin mencantumkan banyak kondisi yang tidak menguntungkan, termasuk pajak yang lebih tinggi, lebih sedikit tanah, lebih sedikit kebijakan preferensial, dan lebih banyak persaingan domestik.

Dia mengatakan, itu sebabnya banyak bisnis Taiwan pergi.

Hsieh mengungkapkan keprihatinan serupa dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

Dia juga menyebutkan tentang krisis listrik Tiongkok baru-baru ini.

Hsieh: “Jadi, saya percaya krisis listrik adalah bendera merah untuk bisnis-bisnis Taiwan. Itu berarti memindahkan jalur produksi, tidak bisa dihindari.”

Hsieh memperkirakan bahwa krisis listrik dapat berlangsung lebih lama.

Mempertimbangkan berapa banyak bisnis Taiwan yang beroperasi di Tiongkok, itu akan menjadi tantangan besar bagi perusahaan-perusahaan tersebut.

Hsieh juga khawatir tentang kebijakan Xi tentang “kemakmuran bersama.”

Kebijakan tersebut, yang bertujuan untuk menyamakan distribusi kekayaan, telah memaksa orang-orang terkaya Tiongkok untuk menyumbangkan dalam rekor jumlah.

Hsieh: “Misalnya, kali ini, ‘Asosiasi Perusahaan Investasi Taiwan di Tiongkok Daratan’ telah menanggapi kebijakan ‘kemakmuran bersama.’ Jika bisnis Taiwan menyumbangkan uang yang mereka hasilkan, maka saya yakin mereka akan menghadapi kesulitan yang lebih besar. Jadi, mereka harus ekstra hati-hati sekarang.”

Bisnis-bisnis Taiwan telah berjalan di Tiongkok selama tiga puluh tahun.

Tapi data menunjukkan bahwa persentase investasi Taiwan di Tiongkok telah turun hampir setengahnya dalam dekade terakhir.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI