Ketika para pemimpin tertinggi Beijing berkumpul untuk memetakan rencana 5 tahun ke depan, para pemohon, warga negara yang menuntut keadilan, telah berbondong-bondong ke Beijing untuk mengajukan banding ke otoritas yang lebih tinggi. Ini adalah antrean di luar badan yang bertanggung jawab untuk mendengarkan keluhan publik.
Pihak berwenang telah berusaha menghentikan dan memulangkan mereka. Ada puluhan ribu pemohon di China, mereka biasanya mengalami berbagai macam perlakuan buruk. Salah satunya adalah pemerintah daerah yang menghancurkan rumah mereka secara paksa agar pemerintah daerah dapat menyita tanah dan menjualnya untuk proyek konstruksi.
Biasanya sulit bagi para pemohon untuk mendapatkan keadilan melalui sistem hukum. Jika gagal di tingkat lokal, mereka akan berbondong-bondong ke Beijing untuk mengajukan banding ke otoritas yang lebih tinggi. Namun, mereka sering dihentikan di tengah jalan oleh petugas atau bahkan ditangkap.
Dalam berita lain, lebih dari 100 kambing dilepaskan di depan gedung pemerintah daerah di provinsi Shaanxi. Pemiliknya, bermarga Zhang, mengirim mereka untuk berunjuk rasa.
Zhang menuntut kompensasi yang wajar dari pejabat setempat. Konstruksi dari perusahaan milik negara merusak aliran air setempat, membanjiri peternakan kambingnya hingga kambing-kambing itu tidak punya tempat. Zhang hanya menerima kurang dari 300 dolar sebagai kompensasi.
Sementara itu para pengusaha China menghadapi lebih dari sekadar pasar yang lesu. Banyak yang kini khawatir akan sesuatu yang lebih serius: penahanan mendadak oleh Partai Komunis China.
Di antara para manajer tingkat tinggi perusahaan-perusahaan yang terdaftar di China, setidaknya satu orang telah ditangkap setiap minggu tahun ini. Hampir 80% dituduh melanggar aturan pengungkapan informasi.
Para kritikus berkata ini adalah tuduhan samar yang digunakan PKC untuk mengejar siapapun yang ditargetkannya. Ini adalah bagian dari apa yang disebut Beijing sebagai kampanye antikorupsi.
Beberapa kasus bunuh diri di kalangan pemimpin bisnis baru-baru ini menyoroti tekanan yang semakin meningkat. Kampanye antikorupsi telah bergeser dari perusahaan milik negara ke sektor swasta, membuat komunitas bisnis bertanya-tanya siapa yang mungkin menjadi target berikutnya.
