Fokus

Warganet Mempertanyakan Alasan Tiongkok Menangguhkan Vaksinasi

Kota Guangzhou di Tiongkok menangguhkan vaksinasi karena khawatir tempat vaksinasi yang terlalu padat, tapi pada saat yang sama, otoritas di sana melakukan ‘pengujian virus di seluruh kota’, yang terbesar di dunia.

Pertanyaan meningkat tentang kemanjuran vaksin Tiongkok.

Pejabat Partai Komunis Tiongkok atau PKT di pusat virus terbaru Tiongkok, Guangzhou, menangguhkan vaksinasi virus PKT, namun kenapa?

Otoritas setempat mengatakan pekan lalu, (31 Mei) bahwa mereka akan mengalihkan fokus mereka dari vaksinasi ke pengujian virus.

Mereka mengatakan perubahan itu bertujuan untuk mengurangi infeksi di tempat vaksinasi yang penuh sesak.

Tetapi media lokal melaporkan, bahwa kota tersebut melakukan lebih dari 18 juta tes virus dalam waktu kurang dari dua minggu, membuat orang-orang datang ke tempat pengujian yang penuh sesak.

Perubahan mendadak pada distribusi vaksin memicu diskusi online di Tiongkok.

Warganet di media sosial Tiongkok, Weibo meminta otoritas lokal untuk “alasan yang lebih meyakinkan.”

Satu warganet berkata, “Menghentikan vaksinasi untuk melakukan tes virus terdengar seperti penjelasan yang tidak memadai.”

Para ahli mengatakan, akan ada kekebalan kelompok ketika 70% hingga 90% populasi divaksinasi, – artinya penyakit itu tidak mungkin menyebar lagi.

Dan itu tampaknya sudah menjadi tanda centang besar bagi Guangzhou.

Menurut data resmi kota, lebih dari 70% orang berusia 18 hingga 59 tahun sudah divaksinasi.

Dan di distrik kota yang paling parah terkena dampak virus, angka itu lebih dari 80% (82,6%).

Itu sebabnya kekhawatiran meningkat atas efektivitas vaksin Tiongkok.

Seorang warganet menulis di Weibo, “Saya kira karena vaksin saat ini tidak berpengaruh pada varian virus yang mewabah.

Jika vaksinnya efektif, kalau begitu vaksinasi seharusnya dipercepat.”

Kembali pada bulan Mei, media lokal melaporkan bahwa 5 ahli medis Tiongkok yang dikirim ke Vietnam, semuanya terinfeksi dengan varian India.

Seorang mantan pekerja medis Tiongkok mengatakan kepada Radio Free Asia, kalau mereka semua telah divaksinasi di Tiongkok sebelum pergi ke Vietnam.

Dan pada bulan Maret, perdana menteri dan presiden Pakistan, keduanya dinyatakan positif terinfeksi virus PKT, meskipun telah menerima vaksin Tiongkok.

Sekitar 90% dosis vaksin yang diberikan di Chili sejak Februari, adalah dari Sinovac Tiongkok.

Tapi kasus virus dan kematian di sana, meningkat.

Chili adalah negara pertama di dunia, di mana kasus virus tidak turun setelah vaksinasi, dan malah sebaliknya.

Wabah virus di Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan semakin parah.

Otoritas telah melabeli kota-kota seperti Guangzhou, dan lainnya di kawasan itu, sebagai kota yang berisiko tinggi terinfeksi.

Strain virus PKT, yang dikenal sebagai virus Partai Komunis Tiongkok atau COVID-19, yang biasa ditemukan di India, berada di balik infeksi baru.

Tapi analisis ahli mengatakan, wabah ini berbeda dari lonjakan sebelumnya.

Itu menurut laporan dari grup media Tiongkok, Caixin.

Laporan tersebut mengutip wakil direktur CDC Guangzhou.

Yang menjelaskan bahwa putaran wabah ini menunjukkan masa inkubasi yang singkat, penularan yang cepat, dan beban virus yang tinggi.

Seorang ahli top dari Pusat Penyakit Menular kota juga mengungkapkan fitur lain dari varian tersebut.

Dia menunjukkan temuan dari survei epidemiologi.

Menunjukkan bahwa infeksi dapat menyebar lebih jauh melalui udara, daripada sejauh 3 kaki (1 m) yang didukung oleh para ilmuwan sebelumnya.

Dia mencatat bahwa kemampuan penularan varian virus ini, adalah yang paling mengkhawatirkan baginya.

Penelitian menunjukkan, itu dapat menular selama 5 generasi, atau 5 pasien yang berbeda, tanpa melemah.

Dia menyebutnya: “jauh lebih buruk daripada versi 2020.”

Menurut Caixin, informasi tentang pasien nol wabah Guangzhou masih hilang, – dua minggu setelah dimulainya lonjakan.

Pejabat di sana menutup semua pasar petani lokal yang terletak di daerah berisiko menengah dan tinggi kota itu.

Itu, di atas zona yang dikarantina dan dikendalikan.

Terlebih lagi, mulai Senin, orang-orang di sana akan diminta untuk memindai kode QR kesehatan yang dikeluarkan pemerintah saat memasuki restoran dan fasilitas perawatan kesehatan.

Kode itu adalah bagian dari sistem pelacakan kontak Tiongkok.

Mereka menunjukkan apakah pengguna telah melakukan kontak dengan pasien virus yang dikonfirmasi.

Kota tetangga Guangzhou juga menerapkan tindakan pencegahan.

Otoritas kota Huizhou baru-baru ini mengumumkan bahwa siapa pun yang meninggalkan daerah tersebut, harus menunjukkan hasil tes negatif, yang diambil dalam 72 jam terakhir.

Semua kegiatan berkumpul yang tidak penting juga ditangguhkan.

Mandat tersebut menambahkan bahwa jika penduduk menerima pengunjung dari kota-kota berisiko tinggi, mereka harus melaporkan informasi tersebut pada saat kedatangan tamu mereka.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI