Sebuah mikrofon yang menyala merekam Pemimpin Komunis Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin sedang berbicara tentang umur panjang. Mereka berbicara tentang kemungkinan hidup hingga 150 tahun berkat kemajuan dalam bioteknologi dan transplantasi organ. Percakapan terjadi saat keduanya menghadiri parade militer di Beijing hari Rabu. Momen tersebut disiarkan langsung di media pemerintah Tiongkok dan media internasional. Putin kemudian mengonfirmasi pada wartawan bahwa ia memang membahas umur panjang dengan Xi. Pemimpin rezim Korea Utara Kim Jong-un tersenyum dan melihat ke arah mereka, tetapi tidak jelas apakah percakapan itu diterjemahkan untuknya.
Kelompok-kelompok HAM telah menemukan bahwa rezim komunis Tiongkok telah secara paksa mengambil organ manusia dari tahanan hati nurani yang masih hidup dalam skala besar, selama dua dekade. Organ-organ tersebut dijual demi keuntungan bagi mereka yang membutuhkan transplantasi. Korbannya antara lain praktisi Falun Gong dan minoritas etnis dan agama.
Terkait hal ini, reporter NTD di Gedung Putih menanyai Ketua DPR Mike Johnson tentang tanggapannya.
[Melina Wisecup, Reporter NTD]:
“Dalam parade militer Tiongkok hari ini, Xi dan Putin terdengar di mikrofon membahas transplantasi organ dan tingkat kematiannya. Kita tahun Tiongkok masih terus merampas organ para tahanan hati nurani. Apa reaksi awal Anda terhadap mereka yang membahas hal semacam itu dan bagaimana Anda di DPR melobi Senat mengesahkan UU penghentian pengambilan organ ini?”
[Mike Johnson, Ketua DPR AS]:
“Ya, kami telah mendengar beberapa kisah mengerikan tentang transplantasi organ ini di Tiongkok, yang dirampas dari donor yang tidak bersedia. Fakta bahwa mereka tertangkap basah di depan umum membahasnya, saya baru pertama mendengarnya, itu hal besar. Itu menunjukkan betapa berbedanya pandangan dunia mereka dengan kita, dari sudut kekejaman. Kita telah mendengar kisah-kisah mengerikan, tentang Uighur, misalnya, minoritas agama yang teraniaya yang mereka gunakan untuk mengambil organ.”
Awal tahun ini, Kongres AS mengesahkan Undang-Undang Penghentian Pengambilan Organ Paksa dengan suara bulat 46 banding 1. RUU ini bertujuan untuk menghukum siapa pun yang terlibat dalam pengambilan organ paksa, termasuk dokter dan pejabat Tiongkok. RUU menunggu persetujuan Senat sebelum disahkan menjadi undang-undang.
