Keluarga

3 Tips Meningkatkan Komunikasi pada Pasangan

Komunikasi
Komunikasi. @Pexels

Salah satu kunci pernikahan yang sehat dan bahagia adalah komunikasi yang efektif pada pasangan. Komunikasi yang baik dan efisisen akan sangat berpengaruh pada kesehatan dan kebahagiaan suatu hubungan. Sebaliknya komunikasi yang buruk dapat memisahkan pasangan. Kabar baiknya, keterampilan komunikasi yang efisien dalam pasangan adalah sesuatu hal yang dapat dipelajari dan ditingkatkan. Berikut tiga hal yang dapat dipelajari dan diterapkan untuk meningkatkan komunikasi dengan pasangan Anda.

Percakapan sederhana

Anda pikir mungkin membicarakan sebuah konten di internet atau acara di televisi atau membuat daftar belanjaan bersama-sama dengan pasangan, jauh dari pembicaraan yang akan mendekatkan hubungan emosional. Namun seorang psikoanalis kebangsaan American, Harry Stack Sullivan beranggapan bahwa detail-detail kecil yang seringkali dianggap tidak penting ini, justru dapat meningkatkan ikatan emosional Anda dengan pasangan, seperti dituliskan oleh F. Diane Barth, L.C.S.W., seorang psikoterapis, guru, dan penulis di New York City dalam artikel “6 Surprising Ways to Communicate Better With Your Partner.”

Percakapan-percakapan kecil secara tidak langsung akan mengungkapkan lebih banyak mengenai sisi yang belum pernah kita ketahui sebelumnya dari pasangan. Bagaimana masa kecilnya dahulu, kebiasaan buruk dan baiknya, atau impian-impiannya. Mungkin Anda merasa, ingin mengetahui lebih banyak hal detail dari pasangan seperti sedang melakukan interview padanya. Namun perlu diingat bahwa hal-hal kecil yang ingin Anda ketahui bukan untuk mencari-cari kesalahannya, melainkan untuk mengetahui apa minat mereka.

Sebaliknya, jika Anda merasa bosan dengan cerita detail tentang pipa yang sedang bermasalah atau film yang dia tonton tadi malam, ingatlah bahwa hal-hal kecil semacam itu menjadikan Anda lebih dekat pada pasangan. Mungkin Anda tidak akan menemukan hal-hal baru, tetapi Anda sedang mengomunikasikan ketertarikan yang tulus pada detail kecil yang membentuk hari-hari dan realitas hidup bersama pasangan Anda.

Mendengarkan

Mendengarkan adalah suatu bentuk keterampilan, dan ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengasah keterampilan Anda. Dengarkan baik-baik saat pasangan Anda sedang menyampaikan sesuatu tanpa bersikap defensif. Seperti ungkapan dari Jeff Daley, “Two monologues do not make a dialogue,” bahwa dua orang yang sedang berargumentasi, tidak akan membentuk suatu komunikasi yang efektif. Kedua pasangan harus dapat mendengar keluhan satu sama lain tanpa bersikap defensif. Saat salah satu sedang mengungkapkan kekesalannya atau menyampaikan pendapatnya, lainnya harus menjadi pendengar yang tulus. Komunikasi yang baik terbentuk dari kedua belah pihak.

Mengetahui bahwa Anda sedang didengar adalah salah satu pengalaman yang paling mungkin memperkuat perasaan terhubung dengan pasangan. Mungkin ini terasa jauh lebih sulit daripada belajar bagaimana mengekspresikan perasaan negatif secara efektif. Namun Anda dapat meningkatkan keterampilan tersebut.

Salah satu cara melatih keterampilan tersebut, menurut Barth dalam artikel yang sama, yakni dengan menggunakan teknik yang disebut “mendengarkan secara aktif.” Ini adalah bentuk keterampilan mendengarkan yang tidak hanya membutuhkan respon mendengarkan ? seperti dengan anggukan kepala atau mengatakan “ooohh atau oh, ya?” ? namun juga memahami apa yang dia katakan, seperti “Saya mengerti maksud kamu.”Jika Anda tidak setuju dengan penanganan atau konsep secara keseluruhan yang disampaikan pasangan, tunggulah sampai dia selesai berbicara sebelum Anda menyatakan ketidaksetujuan.

Namun menariknya, mendengarkan secara aktif juga dapat digunakan untuk menginterupsi dan mengklarifikasi bahkan saat terjadi perselisihan. Pastikan untuk minta izin, saat Anda akan menyela. “Maaf, bolehkah saya mengajukan pertanyaan?” adalah cara yang masuk akal untuk melakukannya, lanjut Barth. Kemudian sampaikan pertanyaan atau klarifikasi tentang apa yang dikatakan pasangan pada Anda.

Pengendalian diri

Anda harus belajar mengendalikan diri sebelum semua menjadi tidak terkendali. Jerry Duberstein, dalam artikel “How To Communicate With Your Spouse Without Fighting,” mengibaratkan sepasang suami isteri sebagai tentara atau atlet. Seorang tentara yang sedang berperang, harus mengikuti aturan yang spesifik. Tidak peduli betapapun frustrasinya atau marahnya seseorang yang sedang dalam medan perang, mereka tetap harus mengikuti aturan. Kegagalan dalam mengendalikan emosi amarah dan perilaku yang impulsif, reaksioner biasanya akan berakibat hukuman.

Demikian juga dengan pasangan suami istri. Mereka yang tidak mengetahui cara berkomunikasi yang efektif dan efisien dengan pasangan, meskipun tanpa bertengkar, serasa hidup di medan pertempuran yang tiada hentinya.

Kyle Benson, dalam artikel “The Anger Iceberg” menyebutkan saat seseorang sedang marah, sebenarnya banyak emosi-emosi lain yang tersembunyi di baliknya. Beberapa orang percaya menghindari konflik membuat pernikahan tetap bersama. Ini tidak tepat. Menghindari konflik hanya memindahkan konflik ke lain waktu. Strategi ini tidak akan berhasil dalam jangka panjang.

Saat kedua pasangan mulai merasakan timbulnya emosi amarah, mereka harus belajar untuk mengenali dan mengerti kemarahannya. Apakah kemarahan itu untuk melindungi perasaan rentan, takut ditinggalkan, malu, ketakutan, atau kesepian?

Ketika hati dan pikiran telah terbiasa berada dalam kondisi tenang, saat terjadi perselisihan, masing-masing pasangan tidak akan mudah tersulut. Mereka akan memiliki waktu untuk berpikir logis, mengenali kemarahannya, dan mengomunikasikannya dengan lebih santun tanpa terbawa emosi. (ntdindonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI