Keajaiban musik memang tak terbantahkan. Saat seorang anak belajar memainkan alat musik, sebuah dunia baru terbuka bagi mereka—mirip seperti belajar bahasa asing. Namun, membuat anak menikmati proses belajar alat musik bisa menjadi tantangan tersendiri.
Saya mengajar gitar dan ukulele kepada anak-anak saya sendiri, murid-murid privat, hingga grup selama bertahun-tahun. Dari pengalaman itu, saya merangkum lima cara untuk membantu anak-anak tidak hanya belajar memainkan alat musik, tetapi juga mencintai proses belajarnya.
1. Biarkan Mereka Melihat Anda Bermain
Melihat Anda memainkan alat musik bisa menginspirasi anak atau cucu Anda untuk mencobanya juga. Anda bahkan tidak perlu benar-benar mahir. Misalnya, bayangkan Anda sedang berkumpul keluarga dan ada piano di ruangan. Jika Anda mulai memainkan beberapa nada, bisa dipastikan ada anak kecil yang akan mendekat dan ikut mencoba membuat musik mereka sendiri.
Saat anak-anak melihat Anda berusaha memainkan alat musik dan menghasilkan melodi yang indah, mereka akan ikut terdorong untuk mencoba.
2. Bermain Bersama Mereka
Bermain musik bersama bisa menumbuhkan kecintaan anak dalam belajar alat musik. Akan sulit meminta anak berlatih piano jika ia tidak pernah melihat orang dewasa—selain gurunya—memainkan piano. Anak juga cenderung tidak menikmati bermain musik jika tidak ada teman bermain, padahal bermain musik harusnya menyenangkan. Namanya saja “bermain” musik, dan bermain selalu lebih seru saat dilakukan bersama orang lain.
Anda tidak perlu menjadi musisi hebat—Anda hanya perlu ikut bermain. Bisa saja dengan memainkan “Twinkle Twinkle Little Star” di ukulele atau harmonika, yang bisa dipelajari hanya dalam waktu 10 menit dengan bantuan internet.
Belajar musik secara berkelompok juga sangat efektif. Di Irlandia, musisi pub belajar musik secara komunitas. Mereka berdiri melingkar, satu atau dua orang mulai memainkan lagu, yang lain mendengarkan dan ikut perlahan-lahan. Tanpa sadar, mereka bisa memainkan lagu tersebut bersama.
3. Coba Berbagai Metode Pembelajaran
Belajar musik tidak harus terpaku pada satu cara.
Mengenal notasi musik memang penting, tapi jika Anda atau anak Anda belajar gitar, akan lebih berguna untuk bisa membaca akor (chords) dan tab—cara penulisan khusus yang menunjukkan fret dan senar mana yang harus ditekan.
Menghafal lagu bisa memperkuat ikatan emosional dengan musik. Di sisi lain, bermain musik secara otodidak (by ear) dapat melatih pemahaman intuitif terhadap struktur lagu dan alurnya. Semakin beragam metode belajarnya, semakin besar manfaat yang bisa didapat, mulai dari koordinasi motorik yang lebih baik hingga perkembangan kognitif dan emosional.
4. Dengarkan Berbagai Genre Musik
Di era sekarang, kita bisa mengakses segala jenis musik dengan mudah. Tapi, seberapa sering kita memanfaatkannya?
Jika seorang anak tumbuh hanya dengan mendengarkan lagu-lagu pop dari media sosial, telinga-nya hanya akan terbiasa dengan jenis musik itu saja. Ia tidak akan bisa menikmati alunan musik dari Afrika atau konser klasik dari Eropa. Dorong mereka untuk mendengarkan musik yang berkualitas dari berbagai genre dan budaya.
5. Ciptakan Kenangan
Kenangan indah saat bermain musik sering kali muncul tanpa direncanakan.
Pada semester lalu, saya mengajar ukulele pada sekelompok siswa. Mereka telah memainkan banyak lagu bersama—dari The Beatles hingga Counting Crows dan lagu-lagu rakyat. Pada salah satu kelas terakhir, ketika kami hampir selesai, salah satu siswa mulai memainkan akor lagu “Zombie” dari The Cranberries. Tanpa dikomando, kami semua ikut bermain dan bernyanyi. Lagu itu membanjiri ruangan dengan irama dan kebersamaan.
Setelah lagu selesai dan kata-kata habis, kami tetap memainkan akor tersebut, berharap momen itu tak berakhir.
Meski akhirnya momen itu berlalu, saya yakin kenangan itu akan terus hidup dalam diri para siswa. Dan saya tahu, beberapa dari mereka mulai belajar gitar sejak saat itu.
Keputusan mereka untuk terus bermain musik sepanjang hidup adalah musik yang paling indah bagi telinga saya. (theepochtimes/Tyler Wilson/feb)
