Keluarga

8 Pelajaran Sederhana untuk Anak-anak

Anak bersama orang tuanya(@Getty Images via Canva Pro)
Anak bersama orang tuanya(@Getty Images via Canva Pro)

“Aku sangat bosan… tidak ada yang bisa dilakukan di rumah! Bisakah kita menonton tv saja?” keluh putri saya yang berusia enam tahun, Sophie.

Putri saya tidak berbeda, dalam banyak hal, dari kebanyakan anak seusianya.
Dia mencari kepuasan instan. Dia menginginkan stimulasi yang konstan dan menjadi bosan ketika mainannya menjadi membosankan. Dia melihat apa yang orang lain miliki dan menginginkan lebih, yang kemungkinan akan memiliki mentalitas “rumput tetangga selalu lebih hijau” suatu hari nanti.
Anak-anak selalu mengamati apa yang kita lakukan, maka menjadi panutan bagi anak muda ini adalah pekerjaan penting.

Dan ketika anak-anak kita sendiri bertransisi dari tahap balita menjadi remaja yang lebih dewasa, kita menghadapi tantangan akan cara mengasuh anak-anak kita di dunia modern ini— dunia yang penuh dengan pilihan, efisiensi, kesibukan, dan stimulasi terus-menerus.
Mike dan saya memiliki kriteria ideal bagaimana hidup sederhana. Tetapi kami juga ingin berbagi kebiasaan dan nilai-nilai ini dengan anak-anak kami (dengan cara yang sesuai dengan usia, tentu saja).
Di bawah ini, saya menuliskan 8 pelajaran hidup dalam kesederhanaan yang menurut kami paling penting untuk diajarkan kepada anak-anak kami. Pelajaran-pelajaran ini mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk sepenuhnya meresap ke dalam kehidupan mereka, tetapi kami berharap bahwa pelajaran-pelajaran ini akan menuntun pada kehidupan yang sesuai tujuan dan berlimpah.

8 pelajaran hidup dalam kesederhanaan untuk anak-anak kita (berlaku untuk orang dewasa juga)

1. Hanya karena Anda memiliki sesuatu, bukan berarti Anda harus menyimpannya selamanya
Selama setahun, anak-anak kita memiliki tahap rasa sayang pada mainan. Dalam beberapa bulan, truk atau boneka kesayangan itu dapat dibuang dan diganti dengan barang lain sebagai mainan favorit baru. Hal ini mengajarkan pada anak-anak kita untuk menyimpan apa yang benar-benar mereka gunakan dan mereka mainkan.

Ini memungkinkan mereka untuk tidak terikat terlalu erat dengan “barang” mereka.
Sama seperti kita yang secara teratur melakukan declutter rumah, kita juga mengajari anak-anak kita untuk mengevaluasi barang-barang mereka. Jika ada yang bisa ditambal atau diperbaiki, mari diperbaiki. Jika tidak, saatnya untuk melepaskannya. Jika mainan kesayangan tidak lagi dimainkan, siapa lagi yang dapat mengambil manfaat darinya?

2. Lebih banyak pilihan tidak selalu berarti lebih menyenangkan
Terlalu banyak pilihan terkadang menyebabkan kelelahan dalam mengambil keputusan, kewalahan ketika tiba saatnya membersihkan, dan juga dapat menyebabkan rasa tidak tahu berterima kasih dengan apa yang mereka miliki. Untuk membantu, kami menggunakan wadah rotasi mainan.

Setiap beberapa bulan, kami meletakkan mainan di tempat sampah ini untuk membatasi jumlah pilihan yang dimiliki anak-anak dalam suatu waktu. Setelah beberapa bulan, kami meletakkan kembali mainan-mainan itu ke ruang bermain, bersamaan mengambil mainan lain dan meletakkannya ke dalam tempat donasi. Mainan apa pun yang tidak dimainkan setelah kami memasukkannya kembali ke ruang bermain biasanya disumbangkan, sehingga kami dapat berbagi mainan yang pernah mereka nikmati dengan orang lain.

3. Bosan itu wajar
Tidak apa-apa merasa bosan dalam waktu yang singkat, karena justru akan menumbuhkan solusi kreatif dan permainan imajinatif. Spesialis pendidikan, Jodi Musoff, mengatakan “Kebosanan juga membantu anak-anak mengembangkan strategi perencanaan, keterampilan memecahkan masalah, fleksibilitas dan keterampilan organisasi – kemampuan utama yang mungkin tidak dimiliki oleh anak-anak yang hidupnya biasanya sangat terstruktur”.

Selama waktu tenang di sore hari, kami menyediakan banyak bahan untuk mereka mainkan secara kreatif – lego dan magnatile, selotip dan lem (pita washi ini telah memberi mereka hiburan selama berjam-jam), potongan kertas, manik-manik dan payet, cat dan krayon. Sungguh menakjubkan apa yang dapat mereka ciptakan dengan pikiran yang bebas dan sedikit pengaturan.

4. Menghabiskan uang tidak selalu menjadi solusi
Pelajaran ini sangat sulit untuk dipelajari, bahkan bagi saya sebagai orang dewasa. Masyarakat kita mengajarkan bahwa ketika pakaian dan mainan kita tidak lagi memberikan kesenangan, kita harus membeli sesuatu yang baru untuk memenuhi keinginan itu.

Kami mencoba mengajari anak-anak kami untuk berkreasi dengan apa yang kami miliki atau membiarkan kami membuatnya untuk sementara waktu, jika memungkinkan. Menolak pembelian impulsif dengan menerapkan aturan 48 jam adalah kebiasaan bermanfaat yang telah kami mulai, termasuk saat mereka menggunakan uang tabungan mereka sendiri.

5. Rutinitas yang sederhana dan berulang menciptakan ritme yang sehat
Ketika anak-anak tahu apa yang diharapkan, mereka merasa lebih aman dan terjamin. Rutinitas menetapkan struktur untuk mengatur hari-hari mereka. Sebagai anggota keluarga kita, anak-anak diharapkan membantu beberapa pekerjaan rumah yang sesuai dengan usianya.

Dengan melakukan pekerjaan ini, secara tidak langsung mengajari mereka bagaimana melakukannya secara mandiri dan mendorong mereka untuk bertanggung jawab, seperti merapikan tempat tidur, mengatur dan membersihkan meja makan, atau melakukan waktu istirahat siang mereka dengan baik.

6. Setiap barang memiliki rumah
Mengajari anak-anak kita bahwa setiap barang memiliki “rumah” dan mendorong mereka untuk membersihkannya sendiri adalah cara sederhana untuk mengurangi banyak mainan, pakaian kotor, dan sepatu yang berantakan. Ketika kami membuat rumah dari semua barang menjadi lokasi yang logis dan realistis, itu adalah tugas yang jauh lebih mudah untuk mereka selesaikan.
Salah satu strategi yang telah membantu anak-anak kami dalam pelajaran ini adalah pembuatan “tempat sampah sementara”.

Ini adalah sebuah wadah berbahan kanvas di ruang keluarga kami di mana mainan, sepatu, dan barang-barang lain yang berserakan di lantai dapat ditempatkan pada waktu tertentu (saat Mike atau saya lewat dan melihat lantai yang berantakan, kami cukup membuang barang-barang itu ke dalam tempat sampah sementara itu untuk disingkirkan anak-anak nanti). Manfaatnya adalah kami tidak selalu meminta anak-anak untuk membersihkan lantai, tetapi pada akhirnya harapannya adalah tempat sampah dikosongkan dan setiap barang dikembalikan ke rumahnya.

7. Puaslah dengan apa yang Anda miliki
Menunjukkan rasa terima kasih adalah nilai yang coba diajarkan oleh banyak orangtua pada anak-anak mereka, namun bahkan sebagai orang dewasa, proses ini adalah perjuangan yang terus-menerus dijalani. Tidak bersyukur adalah alasan pertama mengapa kita terus menginginkan lebih banyak “hal”.
Kami baru-baru ini mendapatkan katalog mainan melalui pos dan tidak mengejutkan, anak-anak saya mulai berputar-putar dan menunjukkan semua yang mereka inginkan.

Ruang bermain mereka yang penuh dengan mainan tidak sebanding dengan katalog di majalah ini.
Untungnya, di momen semacam ini kita dapat melakukan pendekatan dengan mereka dan menyampaikan tentang kebutuhan dan keinginan, mensyukuri apa yang kita miliki, dan menemukan kepuasan.

8. Hiduplah dengan hati yang murah hati
Mungkin pelajaran terpenting dari kesederhanaan ini adalah mengajari anak-anak kita bagaimana hidup dengan murah hati.
Kita hidup dalam masyarakat modern yang “berpusat pada diri saya”, di mana hak dan ambisi diri adalah kekuatan pendorong. Berbalikan dengan jalan ini, sekaligus meletakkan dasar bagi kehidupan yang sedang berkembang, kami mendorong anak-anak kami untuk berbagi dengan orang yang membutuhkan, yang hampir tidak mungkin dilakukan dengan baik di usia muda mereka.

Tetapi dengan mengajarkannya, setidaknya dapat mendorong mereka untuk memiliki sikap ini ketika kelak mereka remaja dan dewasa.
Kami secara teratur menyumbangkan mainan dan pakaian yang tidak lagi kami gunakan—tidak masalah jika hanya memiliki sedikit dan mengurangi pilihan untuk anak-anak kami. Selama beberapa tahun terakhir, kami telah mencari cara agar anak-anak kami dapat berbagi waktu dan hadiah mereka dengan orang lain.

Mereka senang mengunjungi tetangga kita yang sudah lanjut usia, membuat kartu nama untuk anggota keluarga, memberikan “barang-barang” favorit mereka pada sepupu mereka, dan menyumbangkan makanan ke orang yang membutuhkan— cara-cara kecil namun bermakna yang mengajari mereka untuk berbagi.

Ini adalah beberapa pelajaran yang kami coba berikan kepada anak-anak kami. Mereka, tentu saja, harus menjalani perjalanan ini sendiri dan memilih bagaimana hidup sebagai orang dewasa ketika mereka lebih tua, tetapi kami melihat nilai-nilai yang bagus untuk mempersiapkan mereka memulai kebiasaan ini sejak dini sebagai bekal hidup di dunia modern ini.

Jika Anda belum melakukannya, jangan ragu untuk mengikuti saya di Instagram karena saya secara teratur memposting tentang kesederhanaan dan pengasuhan anak.

Artikel ini awalnya diterbitkan di This Evergreen Home.
Blog Mollie (dan suaminya, Mike) di This Evergreen Home. Mereka membagikan pengalaman hidup sederhana, bermakna, dan relasional di dunia modern ini. Anda dapat mengikuti dengan berlangganan buletin dua kali seminggu mereka. (theepochtimes)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI