Melihat orang tua yang sedih dan malu dengan anak yang tantrum, mengamuk atau berteriak-teriak di lorong supermarket atau di mall karena kurang sabar sungguh memilukan. Lebih mengecewakan lagi jika anak tersebut berusia lebih dari enam atau tujuh tahun atau seorang remaja. Tentu saja, perilaku ini mungkin disebabkan oleh beberapa gangguan mental, tetapi terkadang itu hanya karena anak tersebut tidak sabar.
Anak-anak yang lebih kecil mulai egois dan impulsif. Tetapi yang menakjubkan, seiring bertambahnya usia, anda dapat membantu membentuk perilaku mereka dari egois menjadi tanpa pamrih dan impulsif menjadi sabar.
Mengapa mengajarkan kesabaran kepada anak anda?
Saat ini, kepuasan instan adalah model setiap perusahaan. Jika anda ingin menonton film, anda tidak perlu menyewanya dan mengantre menunggu pelanggan lain mengembalikannya. Jika anda menginginkan makanan panas, anda dapat memesannya dan ada driver yang mengantakan dengan cepat. Jadi mengapa anda ingin menanamkan kesabaran pada anak-anak ketika mereka memiliki semuanya di ujung jari mereka?
Efisiensi sangat penting di dunia modern, tidak diragukan lagi. Namun, penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh menjadi orang dewasa yang sabar memiliki keterampilan sosial yang lebih baik, kesehatan mental dan fisik yang lebih baik, dan lebih mungkin mencapai tujuan mereka.
Cara mengajarkan anak-anak anda untuk bersabar
1. Jadilah panutan
Anak-anak belajar dari orang tua mereka. Mereka melihat apa yang anda lakukan ketika terjebak dalam kemacetan atau antrean panjang. Jadi cobalah untuk mengendalikan amarah atau ledakan emosi anda daripada bertindak cemas dalam situasi ini. Dengarkan musik atau luangkan waktu untuk berbicara dengan anak anda.
Cara lain untuk menjadi panutan kesabaran adalah dengan berbagi cerita anda. Bagikan keberhasilan dan kegagalan anda dan peran yang dimainkan oleh kesabaran (atau kurangnya kesabaran) di dalamnya.
2. Gunakan mendengarkan aktif dan reflektif
Anak-anak yang lebih kecil mungkin tidak dapat mengungkapkan perasaan mereka menggunakan kata-kata. Mereka mungkin tidak tahu bagaimana mengatakan bahwa mereka frustrasi atau marah, jadi bantulah mereka mengungkapkan perasaan mereka secara verbal.
“Mama tahu ini terlalu lama. Tapi kamu sudah bisa sabar menunggu, bagus sekali!” Anda juga dapat berpura-pura bergosip dengan pasangan anda atau siapa pun yang bersama anda. “Eh, Jojo keren banget lho, sudah bisa sabar menunggu hari ini”
3. Penguatan positif
Memuji anak-anak atas kesabaran atau usaha mereka dapat membantu mereka menjadi lebih sabar. Namun, hindari memberi mereka hadiah, permen, atau “suap” lainnya.
4. Gunakan aktivitas untuk mengajarkan kesabaran
Mengajarkan kesabaran dapat terlihat berbeda ketika berurusan dengan berbagai usia. Untuk anak-anak yang lebih kecil, terutama yang berusia di bawah dua tahun, sikap tidak mementingkan diri sendiri bukanlah hal yang “alami.” Jadi, gunakan aktivitas yang berfokus pada pengulangan dan contohkan memberi atau membantu orang lain.
Aktivitas seperti mengantri untuk bermain, menyusun puzzle, dan permainan jalan kaki sambil membawa telur dan sendok sangat bagus untuk anak-anak berusia lima tahun ke atas. Untuk anak-anak yang lebih kecil, permainan “pass sthe parcel” adalah permainan lain yang sangat bagus. Di sini, bungkus hadiah dalam beberapa lapisan, dan setiap orang membuka satu lapisan sampai orang terakhir akhirnya menemukan apa yang ada di dalam bungkusan tersebut.
Anda juga dapat memasukkan kegiatan membuat kue, berkebun, dan membuat daftar belanjaan untuk anak-anak yang lebih besar di atas lima atau enam tahun. Selain itu, tanamkan empati dengan mengajak mereka melalui peristiwa nyata dan bagaimana rasanya berada di posisi orang tersebut.
5. Gunakan teknik melatih kesabaran
Teknik ini seperti berolahraga karena hasilnya terlihat secara bertahap. Katakanlah anak anda menginginkan mainan dari anda. Jangan langsung dikasih. “Tunggu sebentar!” lalu berpaling dan berpura-pura mencari sesuatu.
Setelah sekitar lima detik, kembali dan berikan apa pun yang mereka minta. Ini mengajarkan mereka bahwa kesabaran bukanlah hal yang buruk dan, pada akhirnya, mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Terus tingkatkan intervalnya, dan anda akan membangun pengendalian diri mereka dari waktu ke waktu.
Ingat, ini bukan seperti menggoda; anda berpura-pura akan memberi mereka sesuatu dan kemudian menahannya sama sekali.
6. Gunakan pengatur waktu
Pengatur waktu adalah alat yang sangat baik untuk membantu anak anda memvisualisasikan penantian mereka. Ini dapat membantu ketika anda sibuk, tetapi anak anda memohon perhatian anda. “Beri Ayah beberapa detik, dan ketika Pak Tick-Tock (bel weker) berbunyi, Ayah akan membacakan cerita untukmu.”
Namun, pastikan anda memberi diri anda cukup waktu untuk menepati janji anda.
7. Bantu mereka mengembangkan strategi untuk menunggu
Anda dapat membantu anak anda menemukan cara unik untuk menyibukkan pikiran mereka saat menunggu. Misalnya, para ahli merekomendasikan untuk meminta mereka menjadi pahlawan super favorit mereka saat menunggu. Setelah mereka mewujudkan pahlawan super favorit mereka, anak-anak menjadi imajinatif dan mungkin lebih sabar.
8. Pahami konteks dan usia
Anak berusia lima tahun berada di taman kanak-kanak dan mungkin lebih memahami pandangan dunia orang lain daripada anak berusia 3 tahun. Jadi, ketika meminta anak anda untuk bersabar, hal itu harus sesuai dengan usia dan konteksnya. Misalnya, anda tidak dapat mengharapkan seorang anak untuk menunggu makanan lebih dari satu jam di restoran, jadi pesanlah sesuatu sambil menunggu atau alihkan perhatian mereka dengan buku atau permainan.
Di sisi lain, jika anak anda, terutama yang lebih tua, berperilaku “seperti anak manja,” hentikan perilaku tersebut secara konsisten dan tegas.
9. Pertimbangkan prasekolah
Anak-anak berumur tiga tahun mulai memahami dunia dari perspektif orang lain. Untuk memastikan anak anda belajar kesabaran sejak dini, pertimbangkan untuk menyekolahkannya di PAUD. Jika tidak, anak yang egois dan tidak sabar akan dijauhi oleh guru dan anak-anak lain sejak taman kanak-kanak dan seterusnya — mereka akan kesulitan beradaptasi.
Kesimpulan
Kesabaran adalah kebajikan yang diremehkan, terutama dalam budaya kita yang menginginkan kepuasan instan. Untungnya, ada strategi untuk menanamkan kesabaran pada anak-anak anda, seperti menggunakan teknik pemberian hadiah tertunda atau aktivitas yang mencontohkan kesabaran.
Ingat, memperoleh kesabaran itu bertahap, dan bahkan orang dewasa pun mengalami kesulitan. Jadi, saat anda mengajarkan anak anda penundaan kepuasan, bersabarlah.

