Keluarga

Agar Anak Berperilaku dan Berpikiran Tepat

Ibu dan putrinya (Screenshot @ Storyblocks)
Ibu dan putrinya (Screenshot @ Storyblocks)

Orangtua mana pun mengharapkan putra dan putrinya bisa menjadi yang paling unggul di antara teman-temannya.

Namun dari pengalaman menggeluti dunia pendidikan nyata di taman kanak-kanak, saya dapat merasakan kegundahan dari kebanyakan orangtua dalam menghadapi penyimpangan perilaku putra-putri mereka.

Belakangan ini karena keberhasilan keluarga berencana, anak-anak bukan saja menjadi kesayangan dalam rumah-tangga, juga merupakan harapan perkembangan bangsa di masa mendatang, dengan demikian sudah seyogyanya orangtua memberikan perhatian serius sejak masa pendidikan kanak-kanak.

Ada orangtua yang  beranggapan, berhubung sang anak masih kecil, tidak perlu terlalu serius memperhatikan perkembangan perilaku mereka, tanpa menyadari bahwa sang anak selalu mengamati, mencoba serta menirukan bagaimana orang dewasa menjalani kehidupan mereka.

Pendidikan tidak seharusnya hanya merupakan kegiatan menjejalkan ilmu pengetahuan, melainkan juga harus berupa pembinaan yang mengajarkan perilaku yang tepat dan sikap pikiran yang benar, dapat mengarahkan perkembangan emosional, moral, semangat dan pikiran yang sehat, memupuk karakter yang sehat.

Hal ini memerlukan integrasi pembinaan yang tepat dari keluarga, sekolah, orangtua, para guru dan para senior, namun acapkali permasalahan justru timbul pada mata rantai yang saling berhubungan ini, sering kali terdapat penyimpangan lepasnya mata rantai, sehingga penyimpangan pandangan dan perilaku pada sang anak tidak bisa dikoreksi tepat pada waktunya.

Dengan demikian pembinaan sikap pikiran dan perilaku yang tepat terhadap manusia, dan peristiwa akan membantu mengembangkan karakter yang baik pada masa yang akan datang. Orangtua dan guru hendaknya menyelami dengan sungguh-sungguh bagaimana menjadi teladan dan memberikan bantuan.

Di bawah ini disajikan beberapa pandangan, semoga dapat menimbulkan gaung   pandangan yang lebih berharga dan mendorong pemikiran yang lebih mendalam:

1. Orang dewasa memiliki tanggung jawab untuk membimbing anak. Jangan pernah melepaskan seorang anak pun dari pengawasan.

2. Orangtua perlu menjauhkan anak-anak dari tayangan di media yang berbau kekerasan dan pornografi. Informasi negatif dapat mengarah pada penyimpangan perilaku anak (hendaknya informasi luar dipertimbangkan dan disaring dahulu oleh orang tua guna memberi bimbingan yang sesuai bagi anak).

3. Perkembangan karakter anak, boleh dikatakan berawal dari rumah tangga. Orangtua hendaknya berusaha menciptakan suasana yang hangat dan optimis. Rumah tangga yang berantakan, KDRT, dan perilaku yang tidak baik lainnya, merupakan kesalahan dan tanggung jawab orangtua, bagaimana mungkin tanpa memperbaikinya lalu berharap di kemudian hari sang anak “akan tumbuh menjadi rebung yang baik dari bambu busuk”?

4. Rajin mempelajari cara membangun hubungan orangtua dan anak yang baik, agar anak merasakan kepuasan batin dengan memiliki rasa aman, rasa sebagai anggota keluarga dan rasa diakui, untuk mengurangi hambatan emosional, selanjutnya dilatih kemampuannya untuk mandiri.

5. Orangtua, guru dan para senior hendaknya menjadikan diri sendiri sebagai teladan untuk mematuhi norma dan etika bermasyarakat, serta sejak dini membina anak-anak untuk bisa membedakan antara benar dan salah.

6. Sejak dini menanamkan pengertian tentang “ketulusan, kebaikan, sifat pemaaf dan karakter-karakter moral lain yang baik”. Ketika orang dewasa yang berada di sekitar anak-anak menunjukkan sikap tulus, baik, kasih dan ramah terhadap orang lain, rela berkorban tanpa ego, tanpa disadari, anak akan terpengaruh oleh apa yang didengar dan dilihat, jalur kehidupannya akan memasuki jalur yang benar.

7. Anak-anak dalam satu keluarga yang tumbuh bersama, masing-masing memiliki perbedaan dalam perkembangan karakter dan perilaku, hendaknya diperlakukan adil, untuk membantu perkembangan dan kematangan pribadi.

8. Mendorong anak mempelajari hal-hal yang berguna. Orangtua sebisa mungkin mengurangi berkata “tidak”, agar mereka mengembangkan nalar melalui belajar dengan cara meraba-raba, tumbuh dewasa dan kuat dengan menghadapi kesulitan.

9. Mempelajari ilmu pengetahuan untuk mengembangkan bakat terpendam anak di kemudian hari, orangtua hendaknya dengan kesabaran mengatur porsi yang sesuai. Jumlah kursus yang diambil bila terlalu banyak dan harapan yang terlalu tinggi, malah menyebabkan anak kehilangan minat untuk belajar, terkadang bahkan bisa melukai kepercayaan diri, sehingga akan mendapatkan hasil yang sebaliknya.

10. Orangtua hendaknya mengikuti program pendidikan anak dan pembinaan terkait pengasuhan (parenting), memperhatikan dan berusaha mengerti pengalaman dan arahan para ahli, belajar mendapatkan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan arahan dan pendidikan bagi sang anak.

Tak peduli bagaimanapun perkembangan zaman, pendidikan anak sangatlah penting. Membimbing perilaku dan berpikir yang tepat, bukan saja dapat memenuhi harapan orangtua dan guru terhadap anak, juga dapat menghasilkan manusia baru yang bermutu bagi masyarakat yang akan datang.(epochtimes)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI