Keluarga

Alasan Orang Tua Perlu Mengajarkan Anak Arti Berbagi

Anak berbagi makanan @Canva Pro
Anak berbagi makanan @Canva Pro

Ibuku memiliki meja tulis tua dengan laci yang selalu terkunci. Tak satu pun dari kami enam anaknya yang tahu apa yang ada di dalam laci karena ibu tidak pernah memperlihatkan isinya kepada kami.

Dua bulan setelah ibu meninggal, kakak perempuanku membuka laci tersebut. Tak ada barang berharga di dalamnya kecuali sebuah buklet kecil berisikan tanggal ulang tahun kami semua, lengkap dengan jam dan menitnya.

Ibu selalu berkata bahwa kekayaan paling luar biasa dalam hidupnya adalah anak-anaknya. Dia mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk mengajari kami berbagi, bertanggung jawab, dan selalu optimis. Ketika kami masih kecil, ibu kadang membelikan kami semua es loli dan berkata: “Biar ibu coba sedikit.”

Aku berharap ibu hanya makan sepotong kecil atau tidak sama sekali. Namun, dia selalu menyukai es loli milikku. Aku menjadi terbiasa seiring waktu, dan setiap kali aku punya sesuatu yang enak, aku akan selalu membiarkan ibu mencicipi.

Jika ibu tidak di rumah dan aku punya sesuatu yang enak, aku akan bertanya kepada saudara laki-laki atau perempuanku, “Dimana ibu?” Seolah-olah ada sesuatu yang kurang jika aku tidak membaginya dengan ibu.

Ketika ibu sedang di rumah sakit, dia meminta jus kacang dan kesemek. Aku akhirnya menemukan jus kacang, tetapi untuk buah kesemek ada cerita yang berbeda, karena adalah buah musiman.

Di hari yang sama, aku harus mengantarkan paket ke rumah walikota. Setelah aku memberikan kotak itu dan hendak pulang, istri walikota baru saja kembali dari pasar dengan sekeranjang kesemek segar. Aku senang sekali ketika dia memberiku enam buah.

Aku langsung berlari ke rumah sakit dengan sekantong buah kesemek segar dan memberikannya pada ibu. Ibu makan dua buah dan memberi tahuku bahwa rasanya sempurna. Sayangnya, ibu meninggal tiga hari kemudian.

Semua orang di keluarga tahu cara berbagi

Selain kami berenam, ibu membesarkan tiga cucu, dan kami semua tahu cara berbagi. Berbagi sudah merupakan tradisi dalam keluarga kami. Aku menceritakannya kepada putraku ketika dia masih kecil, dan sekarang dia terus-menerus memikirkan ibunya setiap kali dia akan makan sesuatu yang istimewa.

Suatu kali, sekolah putraku mengadakan pesta, gurunya memberi masing-masing murid dua potong cokelat. Setelah putraku menerima coklatnya, dia pergi ke belakang ruangan untuk mencariku dan berkata: “Ibu, satu untuk ibu.” Aku membuka mulutku, dan dia langsung memasukkannya! Ketika saya mengatakan kepadanya bahwa rasanya enak, dia berlari kembali ke tempat duduknya dengan senyum lebar.

Orang tua lain yang duduk di sebelah saya berkata: “Putramu sangat perhatian! Lihatlah anakku. Dia memakan dua potong cokelatnya tanpa melirik ke ibunya.” Aku tersenyum dan berkata: “Berbagi adalah kebiasaan yang dapat dipupuk sejak dini.”

Ketika putraku berusia 11 tahun, dia meneleponku di kantor dan berkata: Bu, bisakah ibu pulang lebih awal hari ini? Ada sesuatu di rumah.” Tentu saja aku menjawab ya, sayangnya aku harus bekerja lembur. Pada saat aku sampai di rumah, sudah jam 9 malam, dan putraku sudah terlelap di tempat tidur.

Lalu ibuku menemuiku dan berkata: “Kamu telah membesarkan putramu dengan baik. Dia dan ayahmu membuat udang goreng mentimun. Dia makan potongan kecil dan menyisakan semua bagian besar!” Hari itu aku menikmati udang terlezat di dunia.

Sekarang, putraku sudah beranjak dewasa dan memiliki seorang anak laki-laki. Jadi, setiap kali aku berkata padanya: “Berikan pada nenek!” cucu kecilku segera memberikan sesuatu yang dipegangnya padaku.

Ibuku meninggal dikelilingi oleh keluarganya. Meskipun ibu tidak meninggalkan sepeser uangpun kepada kami, namun dia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga. Dia mengajari kami bagaimana berperilaku sepatutnya, bertahan hidup, dan menyadari kebahagiaan itu datang dari berbagi. (nspirement/sia/may)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

VIDEO REKOMENDASI