Judul itu sendiri memiliki dua arti.
Kebanyakan orang tua menganggap anak-anak mereka sebagai harta. Mereka mencintai mereka, merawat mereka, dan mencoba mempersiapkan mereka menjadi dewasa. Ketika anak-anak masih kecil, Ibu dan Ayah menggantikan popok, mengajari mereka cara berjalan, dan mengatakan ratusan kali, “Jangan berbicara dengan makanan di mulutmu.”
Kemudian, mereka membantu anak remaja mereka dengan pekerjaan sekolah mereka, bermain lempar tangkap di halaman belakang, dan menasihati mereka tentang pilihan pendidikan dan pekerjaan mereka saat kelulusan sekolah menengah sudah dekat. Bahkan setelah Ibu dan Ayah mengirim anak-anak mereka ke dunia luar, kesehatan dan kesejahteraan anak-anak mereka yang sudah dewasa tetap menjadi perhatian utama. Anak-anak memang meninggalkan rumah, tetapi mereka tidak pernah lepas dari hati orang tua.
Tetapi anak-anak juga merupakan peti harta karun bagi kita semua.
Ketika mereka dewasa dan memasuki dunia kerja, mereka dengan gajinya membantu membiayai masyarakat. Sebagian dari pendapatan itu digunakan untuk Jaminan Sosial, membantu orangtua, orang lemah, dan pensiunan. Sebagian besar pendapatan mereka, diambil dalam bentuk pajak, membiayai segalanya mulai dari militer hingga kesejahteraan bagi orang miskin, dari sekolah hingga departemen kepolisian dan pemadam kebakaran.
Selain itu, investasi keuangan mereka dalam bentuk rumah, saham dan obligasi, dan segala macam usaha lainnya terus berkembang di masyarakat. Kontribusi mereka untuk organisasi sukarelawan membantu orang-orang dari semua ras, kepercayaan, dan usia. Kreativitas mereka menghasilkan penemuan dan ide yang dapat bermanfaat bagi jutaan orang.
Kontribusi ini jelas nyata dan vital bagi masyarakat yang stabil. Namun, selama bertahun-tahun kemudian, harta karun ini kemudian berangsur-angsur menghilang.
Kelangkaan Kelahiran
Tingkat kesuburan pengganti untuk suatu populasi adalah 2,1 kelahiran per wanita, di luar imigrasi.
Situs online Statista melaporkan banyak negara yang berada jauh di bawah angka ini. Di Taiwan, misalnya, yang memiliki tingkat kesuburan terendah di dunia, jumlahnya 1,07. Di negara-negara seperti Jepang, Italia, Spanyol, dan Hongaria, jumlah kelahiran selama bertahun-tahun turun jauh di bawah tingkat pengganti.
Pada 2019, Tiongkok memiliki tingkat kelahiran 1,70 per wanita, meskipun ada upaya pemerintah untuk meningkatkan ukuran keluarga. Partai Komunis Tiongkok, yang dulunya sangat membatasi kelahiran, sekarang khawatir akan runtuhnya sistem mereka karena hanya sedikit wanita yang menginginkan anak.
Di Amerika Serikat, jumlah kelahiran kurang dari 1,70, tingkat yang pada 2020 turun 4 persen ke rekor terendah.
Penjelasan
Adanya peluang profesi dan pendidikan yang lebih luas pada wanita menjadi salah satu dari sekian banyak penyebab turunnya angka kelahiran, baik di Amerika Serikat maupun di luar negeri. Tuntutan untuk mendapatkan gelar dan mengejar karir telah menyebabkan banyak wanita menunda persalinan, yang berarti memiliki lebih sedikit anak.
Di luar itu, baik wanita maupun pria, menyebutkan tingginya biaya membesarkan anak sebagai alasan mereka untuk menunda atau menghindari memiliki anak. Di beberapa negara—Amerika Serikat salah satunya—para wanita dan beberapa pria juga mengambil sikap ideologis menentang kelahiran, merujuk pada kekhawatiran tentang pertumbuhan penduduk dan sumber daya bumi yang terbatas.
Wanita lain—dan saya mengenal beberapa di antaranya—menginginkan anak setelah mereka berumur 30-an, tetapi tidak dapat menemukan pria yang tepat atau menunggu terlalu lama untuk hamil.
Terakhir, ada orang-orang yang sama sekali tidak ingin terlibat dalam tanggung jawab pengasuhan anak, lebih memilih menikmati kebebasan untuk bepergian, menghabiskan waktu bersama teman-teman, dan melakukan apa yang mereka suka tanpa diganggu oleh anak-anak.
Beberapa argumen yang tidak menginginkan anak ini cukup berbobot.
Membesarkan anak membutuhkan uang, meskipun tidak sebanyak yang diklaim beberapa orang. Anak-anak juga menghabiskan banyak waktu dan energi.
Bertemu dengan teman-teman untuk minum, berolahraga setiap malam di gym, mengabdikan diri hanya untuk profesi Anda, atau bahkan tidur nyenyak di malam hari: Lupakan saja jika Anda memiliki bayi di rumah. Hidup Anda bukan lagi milik Anda. Dan begitu mereka beranjak remaja, Anda akan mendapati diri Anda sedang terbaring terjaga di tengah malam menunggu mereka pulang.
Jadi Mengapa Memiliki Anak?
Baru-baru ini, saya mengejutkan seorang ibu beranak tujuh dengan pertanyaan: “Jadi, mengapa memilih punya anak?”
“Apakah Anda bercanda?” tanyanya sambil tertawa. Saat aku menggelengkan kepalaku, matanya melebar. “Oh, tunggu, apakah ini semacam pertanyaan jebakan?”
Baginya, pertanyaan itu tidak bisa dimengerti. Kemudian, setelah memikirkannya, dia menyampaikan pada saya, “Karena memiliki anak itu hal yang alami.”
Seandainya seseorang menanyakan pertanyaan itu kepada saya 35 tahun yang lalu, ketika saya dan istri saya sedang mengandung anak pertama kami, saya ragu apakah saya dapat menjawab pertanyaan itu juga—setidaknya, tidak dengan serta merta.
Tetapi sekarang, sebagai ayah dari empat anak dan kakek dari 21 cucu, ditambah tiga cucu yang sudah berada di surga, saya dapat memikirkan banyak sekali cara anak-anak memperkaya hidup saya.
Hidup di Bawah Tenda Sirkus
Dimulai pada 1960, Bil Keane menciptakan “The Family Circus,” sebuah kartun strip yang dilanjutkan putranya Jeff.
Judul itu saja sudah menjelaskan puncak sukacita dari memiliki anak.
Apakah Anda orangtua dari satu atau tujuh anak, hidup Anda menjadi seperti pertunjukan sirkus Barnum & Bailey yang pernah disebut sebagai “Pertunjukan Terbesar di atas Bumi.” Anda akan memiliki semua drama, komedi, dan keributan yang mungkin bisa Anda bayangkan hanya dengan membesarkan dan menjaga anak-anak Anda, bahkan setelah mereka meninggalkan rumah. Anak-anak akan menambahkan lebih banyak alur ke alis Anda daripada yang ditemukan di ladang jagung, tetapi juga akan menanamkan garis tawa di sekitar mata dan mulut Anda.
Dan ya, anak laki-laki dan perempuan itu akan menghabiskan banyak uang, siang dan malam didera oleh kekhawatiran dan ketakutan, dan banyak pertengkaran. Orang tua menghabiskan banyak waktu bertanya-tanya apakah mereka membesarkan anak-anak dengan benar, selalu menebak-nebak sendiri.
Tetapi hubungan itu! Apakah anak-anak itu anak kandung atau adopsi—dan percayalah, saya tahu—itu tidak relevan. Dengan memiliki anak, Anda berada dalam hubungan erat yang berbeda dengan yang lain. Saat mereka tumbuh, Anda tumbuh. Kemenangan mereka adalah kemenangan Anda, kehilangan mereka adalah kesedihan Anda. Pekerjaan sebagai orang tua menuntut Anda menjadi bankir, konselor, guru, instruktur militer, dan teman.
Jika Anda ingin bergabung dengan sirkus, milikilah seorang bayi.
Permainan Peluang
Tidak peduli seberapa keras Anda mencoba, bagaimanapun Anda mencoba melakukan segala hal dengan benar, membesarkan anak adalah pekerjaan yang berisiko. Putra yang setiap hari Minggu Anda ajak ke gereja, setelah menghabiskan semester pertama kuliahnya, pulang ke rumah menjadi pengikut Nietzsche.
Anak perempuan yang dahulu bersama Anda menghabiskan waktu dan uang untuk pelajaran balet berubah menjadi kecanduan obat terlarang. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang konservatif atau liberal, mengubah pandangan politik mereka saat dewasa dan sekarang jarang berbicara dengan Anda.
Sama seperti tidak ada jaminan di pasar saham, tidak ada jaminan dalam membesarkan anak-anak.
Mari Bertepuk Tangan untuk Para Orangtua
Di masa muda, saya sering mendengar bahwa “anak-anak adalah sumber daya terbesar kita.”
Dulu saya mempercayainya, saat ini pun saya masih mempercayainya.
Apa pun yang kita pikirkan tentang memiliki anak, dunia membutuhkan anak-anak yang baik, cerdas, kuat, dan bermoral. Kita semua dapat membantu mewujudkannya. Saat kita menyaksikan seorang ibu yang kesulitan mengatur ketiga anak kecilnya di kasir toko, mungkin kita bisa tersenyum pada mereka dan menyadarinya bahwa mereka adalah duta masa depan kita.
Ketika kita bertemu dengan beberapa remaja berperilaku baik yang membantu Ayahnya memilih hadiah ulang tahun untuk ibu mereka, kita mungkin dapat berhenti sejenak dan memberikan pujian pada mereka.
Orangtua membutuhkan isyarat dan kata-kata penyemangat ini. Mereka melakukan pekerjaan yang sulit, tidak hanya untuk diri mereka sendiri dan anak-anak mereka, tetapi juga untuk kita semua. (theepochtimes/sia/feb)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini
VIDEO REKOMENDASI
