Pendidikan oleh orang tua membentuk masa depan anak, dan nilai-nilai yang dipraktikkan dalam keluarga, seperti rasa syukur, membentuk karakter anak. Dalam budaya Tiongkok, dua kekuatan ini — pendidikan keluarga dan tradisi keluarga — telah lama dianggap sebagai fondasi penting untuk membesarkan anak-anak yang cakap dan penuh kasih sayang. Banyak tokoh besar dalam sejarah berasal dari keluarga yang memahami hal ini dengan baik.
Namun, saat ini, banyak orangtua berpusat pada kebutuhan dan emosi seorang anak. Anak-anak dengan cepat belajar bahwa mereka adalah pusat perhatian, dan setiap keinginan menjadi perintah yang harus segera dipenuhi oleh orang tua mereka. Seiring waktu, beberapa orang mulai memandang kenyamanan dan dukungan yang mereka terima bukan sebagai ungkapan kasih sayang, melainkan sebagai hak. Mereka belajar bagaimana menerima — tetapi bukan bagaimana menghargai, membalas, atau mempertimbangkan bagaimana tindakan mereka memengaruhi orang lain.
Orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik kepada anak-anak mereka. Namun, hadiah yang paling berharga bukanlah keuntungan materi; melainkan pola asuh yang memupuk karakter baik dan hati yang penuh rasa syukur. Seorang anak yang memahami rasa syukur mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada apa pun yang dapat dibeli dengan uang.
Sebuah kisah yang dibagikan secara luas di Tiongkok menangkap kebenaran ini dengan kesederhanaan yang mencolok.
Seorang pria tua Tiongkok yang telah tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun kembali ke rumahnya di kampung halaman, berharap untuk membantu siswa dari daerah miskin. Dengan bantuan dari pemerintah daerah, ia memperoleh informasi kontak beberapa anak yang membutuhkan. Ia mengirimkan buku dan beberapa pena kepada setiap anak, dan mencantumkan nomor telepon, alamat surat, dan alamat emailnya kepada mereka.
Keluarganya tidak mengerti mengapa hadiah sekecil itu memerlukan informasi kontak pribadi. Namun setelah mengirimkan paket, pria tua itu menunggu — di dekat telepon, di kotak surat, dan memeriksa emailnya — berharap salah satu anak akan membalas.
Akhirnya, seorang anak mengiriminya kartu ucapan terima kasih sederhana. Itulah satu-satunya balasan yang ia terima.
Dengan gembira, pria tua itu segera membuat dana pendidikan untuk anak itu dan mengakhiri dukungan bagi mereka yang belum membalas. Baru pada saat itulah keluarganya mengerti: ia ingin membantu, tetapi yang lebih penting, ia ingin mendukung seorang anak yang memahami rasa syukur.

Sebuah kartu tulisan tangan mengungkapkan seorang anak yang memahami rasa syukur — dan menjadi anak yang dipilih oleh pria tua itu untuk terus dibantu. (Gambar: dari Google Whisk)
Anak yang bersyukur lebih mungkin menemukan kebahagiaan karena mereka menghargai upaya yang dilakukan orang lain atas apa yang mereka lakukan untuk mereka. Orang tua menciptakan, mengasuh, dan membimbing anak-anak mereka melalui pengorbanan selama bertahun-tahun — namun tanpa rasa syukur, bahkan cinta terdalam pun dapat luput dari perhatian.
Apa yang terjadi ketika rasa syukur hilang
Satu kasus yang banyak dibahas di Tiongkok menunjukkan konsekuensi tragis yang dapat muncul ketika seorang anak tumbuh tanpa batasan atau penghargaan.
Seorang pemuda bernama Wang Jiajing telah belajar di Jepang selama lima tahun tanpa pernah bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri. Biaya kuliah dan biaya hidupnya sepenuhnya ditanggung oleh gaji bulanan ibunya sebesar 7.000 yuan (sekitar US$980). Ketika ibunya tidak dapat lagi meminjam uang untuk menutupi biayanya, ia kembali ke Tiongkok. Di bandara, alih-alih mengungkapkan keprihatinan atau rasa syukur, ia malah menyerang ibunya dengan pisau, yang mengakibatkan tragedi yang menghancurkan.
Di usia dua puluh lima tahun, seorang dewasa muda seharusnya sudah belajar bertanggung jawab dan mandiri. Namun, dukungan tanpa syarat selama bertahun-tahun telah membuatnya memandang pengorbanan ibunya sebagai kewajiban, alih-alih sebagai bentuk kasih sayang. Ketika ibunya tak lagi mampu memenuhi tuntutannya, rasa benci menggantikan rasa syukur.
Meskipun kasus ini ekstrem, hal ini menggarisbawahi kebenaran yang lebih luas: ketika anak-anak tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka berhak atas segalanya, bisa dipenuhi keinginannya, mereka mungkin kesulitan menghadapi tantangan hidup—dan reaksi mereka bisa menjadi tak terduga atau bahkan merusak.
Ketika Kemanjaan Menggantikan Bimbingan
Beberapa anak belajar sejak dini bahwa tuntutan yang terus-menerus pada akhirnya akan dipenuhi. Kekecewaan kecil dapat memicu kemarahan yang tak terkendali. Di beberapa keluarga, dukungan finansial berlanjut hingga dewasa, dengan orang tua yang terpaksa menguras anggaran—atau berutang—untuk mengakomodasi pilihan gaya hidup anak-anak mereka.
Mahasiswa semakin umum menghabiskan sejumlah besar uang orang tua mereka untuk ponsel terbaru, pakaian mahal, apartemen mewah, atau sering makan di luar. Beberapa terus bergantung pada orang tua mereka bahkan setelah mereka mulai bekerja, memandang dukungan finansial sebagai tanggung jawab orang tua mereka, alih-alih sebagai bentuk kemurahan hati, bahkan menyebutnya itu adalah “privilege” (hak istimewa) sebagai seorang anak.
Namun, anak-anak yang tidak pernah mengalami kesulitan akan kesulitan menyadari betapa besar upaya yang dicurahkan untuk kenyamanan yang mereka nikmati. Anak yang tidak pernah merasa kedinginan mungkin tidak menghargai kehangatan; anak yang tidak pernah menghadapi kegagalan mungkin tidak menghargai pencapaian.
Perlindungan yang berlebihan mungkin dapat menghindarkan anak-anak dari ketidaknyamanan sementara, tetapi seringkali justru merampas pengalaman yang membangun ketahanan, empati, dan rasa hormat terhadap orang lain.
Membantu Anak Belajar Bersyukur
Anak yang memahami rasa syukur menghargai apa yang mereka miliki, menghormati orang-orang yang mendukung mereka, dan menemukan kebahagiaan dalam berkontribusi pada kesejahteraan orang lain. Rasa syukur tidak hanya membentuk perilaku, tetapi juga pandangan.
Orang tua dapat menumbuhkan rasa syukur dengan cara-cara sederhana dan praktis:
1. Hindari melakukan segalanya untuk mereka
Ketika orang tua memenuhi setiap kebutuhan secara instan, anak-anak jarang belajar nilai dari usaha. Memberikan tanggung jawab yang sesuai usia—menata meja makan, memberi makan hewan peliharaan, atau merapikan kamar mereka—membantu mereka memahami pekerjaan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Dorong tindakan apresiasi kecil
Ucapan “terima kasih” yang tulus ketika orang tua memasak, membantu mengerjakan PR, atau memecahkan masalah mengajarkan anak untuk menghargai usaha orang lain alih-alih menganggapnya remeh. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini membangun kesadaran emosional seiring waktu.
3. Berikan batasan yang terstruktur
Rumah tangga seharusnya tidak hanya berpusat pada preferensi anak. Harapan yang jelas dan batasan yang konsisten membantu anak memahami bahwa rasa saling menghormati—bukan rasa berhak—menuntun kehidupan keluarga.
4. Teladankan rasa syukur secara terbuka
Anak-anak merekam apa yang mereka lihat. Ketika orang tua saling berterima kasih, berbicara dengan hormat kepada petugas layanan, atau menghargai bantuan orang lain, anak-anak belajar bahwa apresiasi adalah bagian alami dan bermakna dari kehidupan sehari-hari.
Rasa syukur sebagai fondasi karakter
Rasa syukur memelihara perkembangan emosional anak. Ketika mereka memahami bahwa kenyamanan dan kebahagiaan dalam hidup mereka berasal dari kerja keras dan niat baik orang lain, mereka mulai melihat melampaui diri mereka sendiri. Kesadaran ini menjadi kompas yang memandu tindakan mereka — membantu mereka memperhatikan kebutuhan orang lain, menawarkan bantuan, dan memperlakukan orang lain dengan hormat.
Membesarkan anak yang bersyukur bukan tentang disiplin yang ketat atau menahan kasih sayang. Ini tentang membantu mereka mengenali kebaikan, memahami usaha, dan mengembangkan empati yang akan membantu mereka berkembang sebagai orang dewasa. Dan pada akhirnya, rasa syukur bukan sekadar pelajaran — melainkan kekuatan seumur hidup.
