Keluarga

Anak Yang Terlibat Pekerjaan Di Rumah, Kelak Mudah Mendapatkan Pekerjaan

Anak mengerjakan pekerjaan rumah (Gustavo Fring @Pexels)
Anak mengerjakan pekerjaan rumah (Gustavo Fring @Pexels)

Tidak saja dapat meningkatkan kemampuan anak untuk mengerjakan sesuatu, tetapi juga dapat mengembangkan rasa tanggungjawabnya, selain itu juga lebih berpeluang besar untuk mendapatkan pekerjaan di masa depan. Namun, hal ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan perencanaan yang matang, agar anak-anak dapat melakukannya secara sukarela.

Dalam laporan The Guardian disebutkan, bahwa kurangnya pengalaman kerja harian di rumah akan membuat anak-anak secara relatif tidak punya rasa tanggungjawab. Sebuah studi di Harvard University, AS, menyebutkan: Perbandingan tingkat kerja anak-anak yang senang mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan anak-anak yang tidak suka melakukan pekerjaan di rumah kelak setelah dewasa adalah 15:1, sementara tingkat kriminal 1:10.

Sebenarnya, dalam proses pertumbuhan anak-anak, pekerjaan rumah tangga itu erat kaitannya dengan keterampilan motorik, perkembangan kemampuan kognitif, dan pengembangan rasa tanggunjgjawab pada diri anak-anak. Kalau begitu, bagaimana membuat anak-anak agar suka melakukan pekerjaan rumah tangga? Para ahli terkait merekomendasikannya sebagai berikut:

Sabar Menyikapi Kesalahan Anak-anak, Praktekkan Secara Berulang

Anak-anak suka meniru, orangtua bisa memeragakan sebuah contoh saat mengajarkan suatu ketrampilan pekerjaan rumah sehari-hari, dan pada saat demikian, kesabaran orangtua itu sangat penting. Kendati jika anak- anak melakukan kesalahan atau lupa dengan langkahnya, sebaiknya jangan mengkritik dan menyalahkannya, sampai si anak bisa menyelesaikannya secara mandiri.

Contoh: Charlie, seorang Ayah dari Inggris, putranya berusia 12 tahun, ia tidak saja bisa mengurus kehidupannya sehari-hari, tetapi juga bisa memperbaiki saluran pipa air dan mengganti bohlam yang mati di rumah.

Putranya pertama kali melakukan pekerjaan rumah, adalah saat ia baru berusia 2 tahun. Ia merasa penasaran saat melihat ayahnya sedang mencuci piring. Lalu, Charlie menggendong putranya dan mendudukkannya di tempat pencuci piring. Si bocah langsung melompat ke dalam tempat pencuci piring dan melakukan apa saja. Dan sudah tentu baju maupun celananya basah karena berada di dalam pencuci piring yang dipenuhi dengan air. Piring atau mangkuk bukan saja tidak bersih, malah justru memecahkan sebuah piring.

Namun, Charlie tidak menyalahkannya apalagi menghentikannya, ia hanya berdiri di samping sambil melihat kelakuan putranya. Perlahan-lahan, putranya mulai merasa bosan, sekujur badannya dipenuhi dengan noda, tak lama kemudian, ia merasa dingin, lalu minta bantuan ayahnya. Charlie mengangkatnya dan mengganti pakaiannya dengan yang bersih, kemudian ia membiarkan anaknya melihat Charlie membersihkan satu per satu piring itu hingga bersih.

Selanjutnya, Charlie meletakkan mainan putranya seperti piring, mangkuk dan sebagainya, kemudian dimasukkan ke dalam baskom air. Kali ini, si bocah mencuci piring atau mangkuk mainan, dan saat itu pakaiannya hanya setengah basah. Berikutnya, untuk ketiga kalinya, hanya lengannya saja yang sedikit basah. Charlie kemudian mengajarkan caranya membersihkan mangkuk. Lama kelamaan si bocah mulai bisa melakukannya dengan lebih baik.

Berikan Pekerjaan Rumah yang Bisa Dilakukan Anak-anak

Elizabeth Pantley, ahli parenting AS yang pernah menghasilkan delapan buku terlaris, merancang sebuah “Tabel usia anak-anak melakukan pekerjaan rumah tangga” berdasarkan karakteristik dari berbagai usia.

Usia 9 – 24 bulan : Anda dapat memberi beberapa petunjuk sederhana pada anak-anak, misalnya membiarkan buah hati Anda menempatkan popok kotor ke tempat pakain kotor.

Usia 2 – 3 tahun: Dengan bimbingan orangtua dapat membuang sampah ke tempat sampah, atau membantu ibu menggantung pakaian ke gantungan, merapikan mainan sendiri, menyiram bunga di pot atau di taman, dan menggosok gigi menjelang tidur pada malam hari.

Usia 3 – 4 tahun: Memberi makan hewan peliharaan, membantu ibu merapikan ranjang, seusai makan meletakkan sendiri piringnya ke tempat cucian piring, membantu ibu meletakkan pakaian bersih yang telah ditata rapi ke lemari pakaian, meletakkan pakaian kotor sendiri ke baskom atau keranjang pakaian kotor.

Usia 4 – 5 tahun: Belajar menyiapkan sarapan sendiri, membantu meletakkan piring kotor seusai makan ke dapur, menyiapkan pakaian sendiri yang hendak dipakai untuk hari berikutnya.

Usia 5 – 6 tahun: Menyiapkan tas sekolah dan sepatu yang hendak dipakai ke sekolah untuk hari berikutnya, dan belajar keterampilan untuk merapikan atau membersihkan kamar sendiri.

Usia 7 – 12 tahun: Belajar memasak/menanak makanan yang sederhana, membantu mencuci mobil / mengepel lantai, membersihkan toilet, menyapu halaman, belajar menggunakan mesin cuci.

Usia 13 tahun ke atas: Mengganti bola lampu yang mati, mengganti kantong sampah di dalam mesin penyedot debu, membersihkan kulkas, tempat kompor, memotong rumput, atau pekerjaan ringan lainnya.

Memuji dan Memberi Dorongan Semangat, Tidak Mengejar Kesempurnaan

Orangtua tidak perlu mengejar kesempurnaan. Bagi anak- anak, proses berpartisipasi secara aktif lebih penting daripada hasil. Jika anak-anak tidak cukup bersih saat membersihkan meja, atau tidak sengaja memecahkan piring saat hendak merapikannya, sebaiknya jangan menegur mereka. Perlu diketahui, kritik itu rentan menyebabkan harga diri anak-anak terhempas, bahkan akan mengurangi kesediaannya untuk bekerja sama dengan orang lain. (epochtimes/jhn)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI