Keluarga

Apakah Baby Sign Language Bermanfaat? (Bagian 1)

Komunikasi bayi
Komunikasi bayi. @pexels

Mungkin Anda pernah mendengar bahwa mengajarkan “baby sign language” atau bahasa isyarat pada bayi adalah salah satu cara yang bagus untuk meningkatkan keterampilan komunikasi mereka sebelum mereka dapat benar-benar mengomunikasikan keinginan mereka melalui ucapan.

Bagi Anda yang belum pernah mendengar, mungkin agak bingung, dengan istilah tersebut. Apakah “baby sign language” atau “bahasa isyarat bayi” itu?

Mungkin istilah ini sedikit rancu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud bahasa isyarat adalah bahasa yang tidak menggunakan bunyi ucapan manusia atau tulisan dalam sistem perlambangannya. Atau secara linguistik, dapat diartikan sebagai bahasa yang menggunakan isyarat (gerakan tangan, kepala, badan dan sebagainya), dan khusus diciptakan untuk tunarungu, tunawicara, tunanetra, dan sebagainya.

Sedangkan bahasa isyarat bayi ini, sebaliknya, umumnya mengacu pada tindakan berkomunikasi dengan bayi yang menggunakan sejumlah isyarat simbolik atau gerakan isyarat sederhana bersamaan dengan pengucapan kata-kata yang dimaksudkan.

Ada beberapa tujuan mengapa sebagian orang disarankan untuk menggunakan bahasa isyarat ini. Selain untuk meningkatkan keterampilan komunikasi bayi, beberapa peneliti dan pendidik menyampaikan bahwa mengajarkan baby sign language memiliki manfaat kognitif jangka panjang. Lainnya berpendapat bahwa mengajarkan bahasa isyarat bayi juga dapat berperan dalam perkembangan emosional yang penting bagi bayi.

Namun, apakah penelitian mendukung klaim-klaim diatas?

Gwen Dewar, Ph.D dalam artikel berjudul “Baby sign language: An evidence-based guide” yang dimuat dalam parentingscience.com menyampaikan bahwa tidak semua penelitian mendukung klaim tersebut. Namun demikian, hal itu tergantung pada apa yang dimaksud dengan “bahasa isyarat” bayi.

Menurut Dewar, jika yang maksud mengajarkan bahasa isyarat bayi adalah mengajarkan bahasa isyarat yang”dipinjam” dari bahasa komunikasi untuk tunarungu, tunawicara, dan lain sebagainya (entah dari bahasa apapun), maka tidak ada bukti kuat mengenai keuntungan jangka panjang.

Namun, jika yang dimaksudkan bahasa isyarat bayi adalah penggunaan gerak tubuh yang lebih spontan atau gerakan pantomim, ini adalah hal yang berbeda. Ada bukti bagus yang menunjukkan bahwa gerakan isyarat ikonik (terutama yang mudah ditafsirkan) dapat membantu bayi belajar.

Penelitian terbatas lainnya menunjukkan bahwa bahasa isyarat bayi mungkin dapat mengajarkan cara berkomunikasi pada bayi beberapa bulan lebih awal dibandingkan pada bayi yang hanya menggunakan komunikasi vokal. Jay L. Hoecker, M.D dalam artikelnya “Is baby sign language worthwhile?” mengungkapkan, dengan bahasa isyarat bayi, dapat membantu meredakan rasa frustrasi bayi antara usia 8 bulan hingga 2 tahun – ketika bayi mulai mengetahui apa yang mereka inginkan, butuhkan, dan rasakan tetapi belum tentu memiliki keterampilan verbal untuk mengekspresikan diri.

Anak-anak yang mengalami keterlambatan perkembangan mungkin mendapat manfaat juga. Namun Hoecker dalam artikel yang dimuat di laman mayoclinic.org tersebut mengakui perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah bahasa isyarat bayi dapat mendorong tingkat bahasa, literasi, atau kognisi tingkat lanjut.

Terlepas apakah baby sign language memiliki manfaat jangka panjang maupun tidak, setidaknya baik orangtua maupun bayi akan mendapatkan manfaat pada saat itu juga.  Karena mengajarkan dan mempraktikkan bahasa isyarat pada bayi juga dapat menyenangkan. Sekaligus memberi kesempatan pada Anda dan bayi Anda untuk menjalin ikatan yang lebih intens dan kuat. (ntdindonesia.com)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI