Keluarga

Apakah Satu Anak Cukup?

Keluarga (Nastya gepp @Pixabay)
Keluarga (Nastya gepp @Pixabay)

Sudah waktunya memberikan adik untuk si kecil.

Kapan menambah momongan lagi? Apakah si kecil tidak kesepian?

Bagaimana jika dia sudah besar, kalian pasti akan kesepian karena dia akan memiliki kehidupan sendiri …

Pasangan yang memiliki satu anak pasti tidak asing dengan pertanyaan-pertanyaan diatas. Mungkin karena keluarga besar, teman, atau lingkungan di sekitarnya termasuk keluarga yang memiliki dua anak atau bahkan lebih.

Tidak mengherankan jika umumnya mereka menganggap hanya memiliki satu anak belum cukup. Namun, apakah benar hanya memiliki satu anak, belum cukup?

Pasangan suami istri yang memilih untuk memiliki satu anak saja, pasti telah mempertimbangkan dengan masak atas pilihan mereka. Tentunya ada berbagai alasan yang melandasi mengapa mereka memutuskan demikian.

Diantaranya mungkin karena alasan kesehatan, faktor usia, faktor ekonomi, atau mungkin masih tetap ingin berkarier, namun mendambakan seorang anak, atau berbagai alasan lainnya.

Namun ada sebuah penelitian yang menyorot tentang pemilihan satu anak pada suatu pasangan. Penelitian yang dilakukan oleh Mikko Myrskylä dan Rachel Margolis ini sedikit banyak dapat menjelaskan mengapa pasangan modern cenderung memiliki keturunan lebih sedikit daripada pasangan suami istri di masa lalu.

Peneliti dari University of Western Ontario ini menuliskan, ketika pasangan suami istri memiliki anak, banyak aspek dalam kehidupan mereka kemudian berubah. Mereka menantikan kehadiran seorang anak, dan merasakan kegembiraan saat sang bayi dilahirkan, namun di saat bersamaan mereka juga mengalami perubahan dalam karier, pendapatan, kesehatan, waktu luang, dan juga kualitas perkawinan. Semua konsekuensi ini pada akhirnya terkait dengan kesejahteraan orang tua.

Penelitian yang berjudul Happiness: Before and After the Kids tersebut juga menemukan bahwa memiliki anak pertama dapat mempengaruhi keputusan orang tua baru tentang apakah mereka akan menambah anak lagi atau tidak. Ini merupakan teori dasar dalam psikologi dimana seseorang cenderung akan menghindari hal-hal yang akan membahayakan kesejahteraan mereka.

Ditemukan, meski kebahagiaan pasangan suami istri tersebut memuncak saat anak pertama mereka dilahirkan, terutama satu tahun sebelum dan satu tahun sesudah kelahiran anak pertama mereka, namun setelah itu, kadar kebahagiaan mereka cenderung menurun seiring bertambahnya jumlah anak.

Namun demikian, meski temuan ini cukup menarik, namun masih banyak variabel yang mempengaruhi kebahagiaan pasangan suami istri bersama anak-anak mereka dan memerlukan penelitian lebih lanjut, seperti faktor usia atau kondisi finansial keluarga tersebut.

Terlepas dari pilihan untuk memiliki satu anak maupun menginginkan lebih dari satu anak, masing-masing pilihan tentunya mengandung konsekuensi yang berbeda.

Namun sebenarnya kesemuanya itu berujung pada keinginan untuk membentuk keluarga yang berbahagia dan sejahtera. Pilihan tetap pada pribadi masing-masing pasangan. (ntdindonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI