Keluarga

Bagaimana Kartun Membentuk Pikiran Anak

Kartun
Dari semua hal yang mempengaruhi pikiran anak-anak, kartun mungkin berada di peringkat teratas (Image: mya/ntdindonesia)

Dari semua hal yang mempengaruhi pikiran anak-anak, kartun mungkin berada di peringkat teratas. Entah dalam bentuk karakter yang lucu, sedih, heroik, penuh petualangan atau membangkitkan perasaan lain namun karakter, keterkaitan, dan ideologi yang mereka sajikan dapat meninggalkan dampak yang mendalam pada pikiran anak-anak.

Tema kartun lintas generasi

Meskipun kartun telah ada sejak awal abad ke-20, tetapi mulai mendapatkan popularitas di akhir tahun 50-an ketika stasiun televisi berkembang dan dengan cepat bermunculan saluran-saluran baru, televisi mulai menayangkan serial kartun secara teratur. Sejak itu, tayangan kartun memiliki tema yang berkembang dan menargetkan pemirsa lintas generasi.

Era 1950-an dan 60-an: Masa Lucu dan Jenaka

Periode ini didominasi oleh tayangan seperti Tom and Jerry, Looney Tunes, Yogi Bear, dan Scooby-Doo. Sebagian besar tayangan ini fokus untuk membangkitkan tawa dari pemirsa. Beberapa tayangan memasukkan ajaran moral, seperti kepedulian pada teman, membantu orang yang membutuhkan, dan seterusnya. Sejumlah kartun mengubah karakterisasi dari subjek tertentu agar sesuai dengan zaman yang lebih modern dan berpusat pada kesetaraan. Misalnya, beberapa karakter Looney Tunes sebelumnya ? seperti Bugs Bunny, Daffy Duck dan Porky Pig ? memiliki stereotip ras Afrika, Meksiko, Jerman dan Jepang. Karakterisasi ini dihapus dari kartun tersebut ketika ditayangkan di televisi. Demikian juga aktvitas hal seperti minum alkohol, merokok, dan kekerasan yang dianggap tidak cocok untuk anak-anak juga dihilangkan.

Era 1970-an dan 80-an: Bangkitnya Para Superhero

Tayangan Superhero mulai mendominasi tontonan kartun selama periode ini. Tontonan seperti GI Joe, ThunderCats, He-Man, dan Teenage Mutant Ninja Turtles meraih sukses besar di kalangan anak-anak. Sebelumnya, kartun memusatkan perhatian pada subjek yang lebih sederhana. Tontonan superhero ini memperkenalkan idiom “menyelamatkan dunia” yang masih mendominasi industri pertunjukan hingga saat ini. Moralitas didefinisikan dengan mengalahkan kekuatan jahat yang ingin merusak dunia. Fokus perbuatan baiknya pada dasarnya bergeser dari karakter perorangan ke arah massa.

Ketika sebelumnya, kartun digunakan untuk memicu pertanyaan “bukankah saya harus membantu orang yang meminta bantuan saya?”, kartun baru memicu pertanyaan seperti “bukankah kita harus berjuang melawan penguasa yang jahat?” dan seterusnya. Tontonan mulai menampilkan karakter mekanik seperti robot dan hubungannya dengan manusia, dengan serial animasi The Transformer menjadi contoh yang sempurna mengenai kartun jenis ini. Pada 1989, The Simpsons mulai mengudara, yang sekali lagi menggeser tema tayangan animasi.

Tahun 1980-an memperlihatkan kartun bangkitnya pahlawan super seperti He-Man. (Gambar: YouTube/Screenshot)

Era 1990-an sampai sekarang: Kritik Sosial

Sebelumnya sebagian besar penonton kartun adalah anak-anak, namun The Simpsons memperkenalkan kartun dengan fokus orang dewasa di Amerika. Kartun serupa yang ditayangkan selama periode ini antara lain Family Guy, South Park, dan Futurama. Pada periode ini saluran kabel Cartoon Network menjadi populer. Tayangan semacam ini fokus pada tema orang dewasa seperti seksualitas, identitas perorangan, kritik budaya pop, dan sebagainya. Dengan demikian, anak-anak yang tumbuh dewasa pada era 60-an, 70-an, dan 80-an menonton tontonan kartun pada masa itu menjadi pemirsa tontonan ini selama masa dewasa mereka. Bahkan kartun yang ditujukan untuk anak-anak mulai memasukkan masalah sosial ke dalam beberapa episode dan tema keseluruhan tontonan mereka.

Identifikasi Melalui Kartun

Karena anak-anak belum mengembangkan identitas mereka sendiri atau seperti apakah dunia ini, mereka dengan mudah terikat pada hal-hal yang mereka sukai. Dalam hal ini, mereka mulai mengidentifikasi karakter dalam kartun melalui penderitaan dan emosi mereka. Sebagian besar anak-anak tidak menyadari bahwa karakter kartun yang mereka kagumi tidak ada dalam kehidupan nyata. Hanya setelah masuk ke sekolah dasar, kenyataan ini baru mulai tersingkap

 “Ketika anak-anak bertemu Robert Downey Jr., dia adalah Iron-Man. Mereka tidak dapat menerima jika pria ini tidak memiliki kekuatan Iron Man. Jadi sangat penting untuk diingat, ketika mereka melihatnya, bagi mereka, dia nyata. Sangat nyata,” Dr. Jessamy Comer, dari Departemen Psikologi Rochester Institute of Techonology kepada Reporter RIT.

Ketidakmampuan seorang anak untuk membedakan dunia nyata dari dunia fiksi membuat kebiasaan menonton mereka semakin kritis. Jika mereka melihat tayangan yang penuh kekerasan, dengan karakter yang arogan dan gegabah digambarkan sebagai orang yang penuh gaya, sangat mungkin anak-anak akan mengidentifikasi perilaku semacam itu sebagai tindakan yang ideal dan mencoba mengubah diri mereka seperti perilaku tersebut.

Bagi anak-anak, karakter kartun seperti Spiderman adalah nyata. (Image: mya/ntdindonesia)

Kartun dan kekerasan

Ada kritik yang ditujukan pada beberapa kartun karena menunjukkan adegan yang terlalu keras dan mungkin memicu kecenderungan perilaku kekerasan pada anak-anak yang masih kecil. Kebanyakan tayangan superhero memperlihatkan pahlawan sedang menghajar penjahat, beberapa diantaranya bahkan menunjukkannya dengan cukup kejam. Tontonan yang menunjukkan “main hakim sendiri” ini juga menormalkan kekerasan di luar batasan hukum. Bahkan tayangan sederhana seperti Tom and Jerry memperlihatkan satu karakter berusaha membalas dendam pada yang lain dengan menambahkan humor pada saat pengejaran.

Kartun Looney Tune’s Road Runner juga sama. “Seseorang selalu dipukuli. Dipukul dengan sangat keras. Melemparkan piano besar ke kepala seseorang, tembakan, bahan peledak di tangan atau mulut seseorang dan diikuti dengan ledakan keras, semua ini adalah pesan bawah sadar atau pesan langsung gambaran kekerasan pada pikiran anak-anak. Anak-anak menyerap adegan-adegan ini seperti spons dan menerima kekerasan sebagai sesuatu yang sangat normal dan umum,” menurut Yayasan Novak Djokovic.

Menurut Asosiasi Profesional Pediatris Amerika, anak-anak yang menonton kartun dengan kekerasan yang berlebihan cenderung menjadi agresif, gugup, dan tidak patuh jika dibandingkan dengan anak-anak yang lain. Mereka juga cenderung lebih tidak peka terhadap rasa sakit orang lain dan mungkin tidak merasakan ketidaknyamanan ketika dihadapkan dengan kekerasan ekstrem dalam kehidupan nyata. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Negeri Iowa menemukan bahwa beberapa tontonan kartun yang ditargetkan untuk anak-anak memiliki kekerasan yang jauh lebih brutal dibandingkan dengan yang ditujukan untuk penonton dewasa. Tontonan seperti itu sering diabaikan oleh orang tua dengan pertimbangan bahwa “itu hanya kartun.”

Kartun Looney Tune dikenal karena konten kekerasannya. (Image: YouTube/screenshot)

Orangtua perlu menyadari bahwa keterbukaan pikiran anak-anak adalah hadiah sekaligus berisiko. Kelompok-kelompok propaganda mungkin mencampurkan ideologinya dalam tontonan kartun sebagai upaya mempengaruhi generasi selanjutnya. Kaum fundamentalis konservatif dapat membuat kartun lucu yang menggambarkan membenci orang non-Kristen sebagai hal yang dapat diterima. Sebaliknya, kaum fundamentalis liberal dapat membuat tontonan animasi yang menggambarkan orang yang tidak menyetujui hubungan LGBTQ sebagai orang jahat.

Saat ini, bukan berarti kartun adalah bentuk hiburan yang paling berbahaya bagi anak-anak. Ada tayangan lain yang membantu anak-anak menambah pengetahuan mereka, mengembangkan rasa moralitas, berbelas kasih pada yang lemah dan sebagainya. Adalah tanggung jawab orang tua untuk memastikan bahwa anak-anak mereka tidak terpapar oleh kartun yang berbahaya.

 “Akan lebih baik jika orangtua juga secara teratur ikut menyaksikan dan mendiskusikan karakter kartun dengan anak-anak. Dengan cara ini mereka tidak hanya menjauhkan anak-anak dari kekerasan, namun juga dapat mengarahkan mereka ke kegiatan lain,” menurut Samaa. Jika Anda tidak mempunyai waktu untuk menonton kartun bersama anak-anak, setidaknya pastikan tayangan yang mereka tonton. Identifikasi tontonan mana yang memiliki kekerasan berlebihan atau ideologi jahat. Hapus saluran tersebut dari langganan TV anda atau blokir tontonan itu jika Anda menggunakan layanan streaming seperti Netflix. (visiontimes/sia/feb)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor