Site icon NTD Indonesia

Bagaimana Membantu Remaja dalam Era Social Distancing

Aktivitas di rumah

Aktivitas di rumah. (Pixabay)

Dengan segala kebijakan bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah atau social distancing belakangan ini, rupanya himbauan dari berbagai pihak tersebut belum begitu menyentuh hati para remaja.

Menerapkan social distancing memang tidak mudah bagi usia berapapun, namun kondisi ini dirasakan lebih menyulitkan bagi para remaja dan dewasa-awal. Namun demikian, para ahli psikologis menganggap tindakan para remaja ini masuk akal. Karena bagaimanapun juga, remaja memang tidak diciptakan untuk mengisolasi diri.

Menurut Michelle Drouin, Ph.D., seorang profesor psikologi di Purdue University Fort Wayne dan Senior Research Scientist di Parkview’s Mirro Center for Research and Innovation dalam artikel berjudul “How to Talk to Teens & Young Adults About Social Distancing” yang dimuat dalam laman “psychologytoday”, ada tiga alasan yang menyebabkan para remaja cenderung mengabaikan himbauan dan lebih memilih tetap bersama “kelompok”nya dan melakukan aktivitas bersama.

Pertama, dari perspektif biologis dasar, komando fungsi eksekutif pada prefrontal cortex usia remaja dan dewasa-awal belum sempurna terutama terkait perencanaan dan pertimbangan konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan. Sehingga mereka belum mampu berpikir akibat yang terjadi di masa depan, sebagaimana pemikiran yang biasa dilakukan oleh orang dewasa.

Kedua, dari sudut pandang sosio-emosional, remaja dan dewasa-awal umumnya berada dalam tahap perkembangan pembentukan identitas. Di masa ini, mungkin mereka akan “menguji” peraturan dan batasan yang diberlakukan oleh orang tua atau otoritas lainnya. Bukan karena mereka ingin menentang, tetapi lebih karena ingin mencoba mencari jawaban atas pertanyaan “Siapa saya?”

Ketiga, banyak remaja dan dewasa-awal merasa jika mereka adalah pribadi yang unik dan tak terkalahkan ?ilusi ini? yang kemudian membuat mereka percaya virus pneneumonia wuhan atau lebih dikenal COVID-19 ini tidak akan dapat “menyentuh” mereka.

Lantas apa yang dapat dilakukan para orang tua saat putra putri mereka bersikap seolah akan menentang kebijakan otoritas saat ini?

Pertama (dan yang paling penting), adalah tunjukan rasa simpati pada mereka. Bagaimanapun, pada saat ini mereka sedang mengalami masa-masa yang belum pernah dialami oleh orang tua di masa lalu. Mereka sedang kehilangan momen yang tidak mungkin akan didapatkan kembali di masa depan. Biarkan mereka berbicara tentang apa yang mereka lewatkan. Alih-alih mengabaikan kekhawatiran mereka atau menceritakan (kembali) hal-hal yang akan diakibatkan oleh virus, cobalah untuk mendengarkan mereka. Pahami bahwa ini adalah momen besar dalam hidup mereka, dan berilah kesempatan pada mereka untuk bersedih karena kehilangan peluang ini.

Kedua, mengingat para remaja dan dewasa-awal ini sedang dalam zona pembentukan identitas, umumnya mereka menjadi sangat sensitif jika diperlakukan seperti anak-anak. Mereka ingin mandiri, independen, dan “lepas” dari peranan orang tua. Maka, ada baiknya jika orang tua menghindari perkataan yang cenderung memerintah saat ingin mereka melakukan kewajibannya. Mungkin Anda dapat mengubah cara berbicara. Seperti misalnya dengan bertanya, “Apa rencana kegiatan hari ini?” untuk menggantikan perintah “Selesaikan pekerjaanmu hari ini.” Berilah kebebasan pada mereka untuk mengelola diri mereka sendiri, tugas sekolah, dan tanggung jawab mereka. Bukan berarti kita melepaskan mereka tanpa target atau membiarkan mereka sesukanya tanpa menetapkan kerangka pendidikan. Utamanya, orang tua perlu memberikan cukup ruang bagi anak untuk mengerjakan tanggung jawabnya dengan batas-batas yang telah disepakati bersama.

Ketiga, dorong para remaja dan dewasa-muda berpikir di luar lingkup mereka. Misalnya, dengan menghubungi teman atau saudara yang terpaksa tetap tinggal di RS karena banyaknya pasien yang dirawat. Atau Anda dapat menanyakan pada kenalan yang menjadi relawan. Atau bahkan tindakan sederhana seperti menelpon kakek atau nenek mereka dan menanyakan kabar karena mereka termasuk kelompok ang berisiko jika tertular dari seseorang yang tampaknya sehat, namun sebagai carrier. Jika Anda memberi kesempatan pada mereka untuk membantu dan bersimpati pada orang lain, mungkin mereka akan melihat kesengsaraan orang lain melebihi kesengsaraan mereka. Dengan cara ini diharapkan mereka mendapatkan pemahaman dan gambaran yang lebih baik.

Sekali lagi, perlu diingat oleh orang tua bahwa hal-hal semacam ini adalah fenomena psikologis yang umum. Meski terlihat sangat egois. Namun demikian, orang tua harus terus berusaha memahami, jika tidak, kemungkinan akan meningkatkan perilaku impulsif mereka.

Dengan mengakui bahwa kondisi semacam ini sulit bagi semua orang, termasuk pada orang tua, mungkin dapat membuat mereka mendapatkan gambaran yang lebih besar. Dan ini akan menjadi salah satu pelajaran besar menuju kedewasaan bagi mereka, karena mereka harus dapat melalui hal-hal yang sulit. (ntdindonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI