Keluarga

Bagaimana Mengasihi

©unsplash

Seorang gadis belia merasa sangat jemu terhadap ibunya yang sering kali mengomel. Sehingga kesannya terhadap sang ibu hanya sosok yang tiada henti mengomel. Juga kepada sang ayah, yang sibuk bekerja dari pagi sampai malam, ia kadang merasa iri pada temannya yang bisa dijemput pulang oleh ayahnya dari sekolah.

Sepasang suami isteri pada mulanya tidak mengerti kehendak anak mereka. Tidak memahami mengapa anak mereka itu bisa bertingkah laku aneh, selalu mencari masalah, baik kecil maupun besar tidak pernah berhenti. Diberi nasihat pun tidak pernah dihiraukan, selalu berseberangan dengan orang tua. Apakah anak itu tidak mengerti bahwa orang tuanya telah bersusah payah mencari nafkah demi memberikan mereka kehidupan yang tenteram? Orang tua mulai kehilangan kepercayaan terhadap anak mereka, kesan yang diberikan hanyalah anak bandel, tidak mau mendengarkan nasihat serta selalu menciptakan masalah!

Sepasang kekasih mulai bertengkar. Si pria mulai mencurigai kekasihnya tidak setia, sedangkan pasangannya marah karena pacarnya tidak mempercayai dirinya. Sehingga setiap kali berjumpa, akan menjadi arena pertengkaran. Karena kesal hati, mereka  mulai melakukan hal-hal yang semakin membuat kemarahan pasangannya. Percintaan mereka mulai dirasakan hanya indah diawalnya saja! 

Cinta kasih itu apa? Harus bagaimana bisa mengerti? Bagaimana mengasihi? Siang malam susah payah mencari uang demi memberikan anak-anaknya kehidupan yang berkecukupan dan segala materi yang mereka butuhkan. Tidak bisa diungkapkan melalui perkataan hanya bisa ditunjukkan melalui tindakan, inilah kasih dari seorang ayah ataupun suami, kepada anak-anak ataupun istrinya.

Terus mengkhawatirkan anak-anaknya sejak kecil. Diperingatkan dan diperhatikan terus-menerus, berubah menjadi bahasa percakapan yang diucapkan setiap hari. Inilah kasih seorang ibu.

Manifestasi yang semaunya sendiri, setiap kali menimbulkan masalah, tidak peduli dimarahi atau dipukuli, kian hari kian bertolak belakang dengan nasihat orang tua. Ini adalah kasih yang dimanifestasikan anak. Mereka akan melakukan hal-hal yang bisa menarik perhatian Anda, saya membutuhkan perhatian kalian yang benar-benar tulus, bukan perhatian yang berlandaskan uang.

Agar lebih memahami pemikiran dari pihak pria, serta agar pihak perempuan itu bisa lebih perhatian kepada dirinya saja, pihak pria dan perempuan mulai saling bertengkar. Ini adalah cinta kasih mereka. Karena mencintai Anda maka ia jadi lebih perhatian kepada Anda, oleh karena mencintai Anda maka ia baru melakukan hal-hal yang kian membuat Anda marah!

Lantas apa yang disebut cinta sejati?

Cinta yang tanpa pamrih di dunia ini tidak ada yang lebih dari pada cinta kasih seorang ibu, dan cinta yang paling bisa membuat manusia menjadi rela sehidup semati adalah cinta kasih sepasang kekasih. Mencintai dan dicintai seseorang semuanya mempunyai pergerakan hati secara relatif. Tetapi bagaimana baru bisa terhitung sebagai cinta sejati? Beda dengan orang barat yang sering mengungkapkannya lewat kata-kata seperti “I love you, Honey…”; Cinta  dari masyarakat timur selalu sulit diungkapkan, kebanyakan mereka menyatakan rasa cinta kasih mereka melalui tindakan.

Ada perkataan, “Empat unsur yang membentuk cinta: perhatian, tanggung jawab, saling menghormati, saling memahami.” Cinta itu bagaikan sebidang ilmu, juga seperti sebuah mata pelajaran, ingin mencintai seseorang pertama-tama Anda harus memahami lebih dulu, cinta itu apa?

Mencintai seseorang itu, harus lebih dulu mempercayai orang yang Anda cintai itu. Karena cinta itu tanpa syarat juga tidak ada bayaran. Persis seperti cinta kasih ayah dan ibu, adalah tidak menuntut balas, tetapi cinta kasih sepasang kekasih yang bersumpah sehidup semati, jika ingin saling mencintai sepanjang masa bukankah harus mempunyai dasar yang stabil?

Cinta itu harus saling menghormati. Karena cinta itu berasal dari saling percaya, melindungi, perhatian dan bisa menerima. Tetapi mencintai seseorang itu bukan hendak memiliki keseluruhan orang itu, melainkan bisa lebih mempertimbangkan dari sudut pandang dan perasaannya, serta bisa menyuarakan pada saat yang tepat.

Jika hanya ingin memiliki orang lain dan tidak mempedulikan segalanya, ini namanya cinta yang egois.

Bila hanya untuk bisa hidup bersama dan tanpa mempedulikan segalanya, ini namanya cinta dengan semaunya sendiri.

Saat menghadapi cobaan dan tekanan, bila memilih meninggalkan kekasih, cinta demikian ini bukan cinta sejati.Dalam mencintai seseorang, bila sejak awal bisa mempercayai pasangan, itulah manifestasi dari cinta. Bila dapat memahami perasaannya, dengan berpijak atas dasar pemikiran pihak lain, itulah yang disebut benar-benar mengerti bagaimana mencinta. Sebab bila Anda ingin benar-benar “mencintai”, bukan hanya menuntut balasan saja, tetapi harus ada pengorbanan dan tekad mengambil keputusan.  (Epochtimes/zhouyizhen/in)