Site icon NTD Indonesia

Bagaimana Mengatasi Rasa Malu?

Kita semua pernah melihat dan mendengar orator seperti Obama atau presiden Soekarno yang pandai bicara di depan umum. Tetapi bagi sebagian dari kita, setiap kali kita tiba-tiba ditunjuk untuk maju berbicara di depan orang banyak atau orang asing, kita langsung merasa grogi. Mungkin suara Anda gemetar dan jantung Anda menjadi mulai berdebar-debar.

Untuk mengatasi rasa malu, Anda memerlukan pemahaman diri dan beberapa alat bantu yang bisa diandalkan. Namun, sebelum kita mempelajari tips untuk mengatasi rasa malu ini, mari kita telaah apa sebenarnya rasa malu itu dan mengapa beberapa orang lebih pemalu daripada yang lain.

Apa itu rasa malu?

Pernahkah Anda merasakan ketegangan di perut Anda saat berada di sekitar orang lain atau saat semua mata tertuju pada Anda? Ini bukan tentang pendiam atau introvert, tetapi memiliki campuran rasa gugup dan takut setiap kali Anda harus berbicara dengan orang asing. Sampai-sampai dapat membuat situasi sehari-hari menjadi luar biasa.

Orang yang pemalu sering kali menghindari kontak mata, dan kesulitan untuk berbicara. Bahkan tugas-tugas sederhana, seperti masuk ke sebuah ruangan dan memperkenalkan diri, bisa menjadi perjuangan yang berat. Pikiran mereka dipenuhi dengan kekhawatiran seperti: “Bagaimana jika saya mengatakan sesuatu yang salah?” atau “Bagaimana jika mereka menganggap saya aneh?”

Namun, menjadi pemalu bukan berarti ada yang salah dengan Anda. Banyak orang yang pemalu adalah orang yang bijaksana, jeli, dan baik hati. Rasa malu hanyalah sebuah reaksi – tubuh dan otak Anda mencoba melindungi Anda dari situasi yang terasa berisiko.

Mengapa beberapa orang pemalu?

Tingkat rasa malu dapat bervariasi dari satu orang ke orang lain. Tetapi mengapa hal itu bisa terjadi?

Interaksi masa kecil dan pengalaman hidup

Beberapa anak sering diejek atau dimarahi sehingga mereka mulai merasa tidak mampu atau minder. Hal ini juga dapat terjadi pada anak-anak yang sering berpindah-pindah tempat tinggal dan kurang memiliki kesempatan untuk bersosialisasi dan menjalin persahabatan yang langgeng. Akibatnya, saat mereka tumbuh dewasa, mereka mungkin tidak tahu bagaimana cara menghadapi situasi sosial – mereka selalu khawatir terhadap reaksi atau ejekan.

Temperamen yang berhati-hati

Di lain waktu, rasa malu mungkin merupakan bagian yang melekat pada sifat seseorang. Beberapa orang hanya berhati-hati atau sensitif berdasarkan temperamen. Mereka yang terlahir dengan sistem saraf atau “kelainan” yang bereaksi kuat terhadap rangsangan baru seperti wajah dan situasi baru dapat menjadi “pemalu secara alami.”

Ketakutan

Rasa malu dapat disebabkan oleh rasa takut dihakimi, terlihat bodoh, ditolak, atau tidak memenuhi ekspektasi. Ketakutan inilah yang membuat orang mengurung diri dan menghindari interaksi baru.

Namun, apa pun penyebabnya, rasa malu seharusnya tidak menjadi hukuman seumur hidup. Ini adalah sesuatu yang dapat Anda atasi dan tingkatkan dalam langkah-langkah kecil.

Cara mengatasi rasa malu

1. Mulailah dari yang kecil dan teruslah berlatih

Memulai dari yang kecil dapat melibatkan sesuatu yang sederhana seperti menyapa tetangga baru Anda atau saat menyapa pelayan untuk memesan makanan di restoran. Setiap kali Anda berhasil, Anda mengajari otak Anda bahwa situasi sosial tidaklah menakutkan. Ingat, bukan berarti setiap percakapan yang Anda lakukan akan berjalan mulus. Anda masih akan bertemu dengan orang-orang yang meremehkan, kasar, dan bahkan kejam, tapi itu adalah kesalahan mereka, bukan Anda.

2. Menantang pikiran negatif

Rasa malu terutama berasal dari pembicaraan diri yang negatif. Pengkritik dalam diri Anda mungkin mengatakan kepada Anda: “Saya akan terdengar bodoh,” atau “Orang-orang akan menertawakan ide-ide saya.” Pikiran-pikiran ini biasanya tidak benar.

Kapan pun pikiran ini muncul, coba tanyakan pada diri sendiri: “Apakah Anda akan mengatakan hal ini kepada seorang teman?” Jika tidak, gantilah dengan pembicaraan diri yang positif, seperti: “Ini tidak harus sempurna,” atau “Tidak apa-apa untuk merasa takut.” Seiring berjalannya waktu, Anda akan mendapatkan keberanian untuk tetap tampil meskipun terasa canggung.

3. Mengalihkan sorotan

Cobalah untuk tidak menjadi karakter utama dalam interaksi. Rasa malu dapat membuat Anda menjadi sangat sadar, membuat Anda stres tentang di mana harus meletakkan tangan dan kaki Anda, bagaimana cara duduk, atau apakah Anda telah memilih kata-kata yang tepat. Jika Anda fokus pada orang lain atau kerumunan, Anda dapat menghindari menjadi pusat perhatian.

Ajukan pertanyaan, tunjukkan rasa ingin tahu, dan buatlah orang lain merasa didengarkan juga. Anda dapat berlatih dengan bergabung dengan kelompok sosial, dan pendekatan ini bisa sangat menghibur.

4. Gunakan bahasa tubuh yang terbuka dan ramah

Anda dapat mencoba untuk menguasai reaksi tubuh Anda dan tampil percaya diri bahkan ketika Anda merasa gugup. Cobalah untuk menjaga dagu tetap tegak, bahu tetap lurus, dan tersenyum ketika seseorang berbicara kepada Anda.

5. Persiapkan sebelumnya

Mempersiapkan diri Anda jika Anda tahu bahwa Anda akan berada di lingkungan sosial dapat meningkatkan kepercayaan diri Anda. Persiapan bisa berupa dua atau tiga percakapan pembuka yang solid, seperti: “Apa yang membawamu ke sini?” atau “Sudahkah Anda mencoba makanannya?”

Anda mungkin juga memiliki jawaban untuk pertanyaan umum seperti: “Apa pekerjaan Anda?” atau “Dari mana asal Anda?” Jadi, setiap kali Anda terdiam atau merasa gelisah, pikiran Anda akan memiliki poin-poin pembicaraan yang sudah dilatih untuk digunakan.

6. Rayakan kemenangan kecil

Anda mungkin merasakan tekanan untuk menjadi supel, lantang, dan ceria, tetapi bukan itu yang dimaksud dengan mengatasi rasa malu. Ini tentang merasa nyaman dengan diri Anda dalam berbagai situasi. Jadi, rayakan setiap langkah kecil seperti pertanyaan yang Anda ajukan, senyuman yang Anda balas, dan percakapan yang tidak Anda hindari. Anda dapat secara bertahap meningkatkan kepercayaan diri dan kesehatan mental Anda.  

Meskipun demikian, tidak semua orang (atau setiap orang) akan bersikap hangat dan terbuka, dan itu bukan salah Anda. Terkadang, dunia memang tidak ramah, namun bukan berarti Anda harus mengecilkan diri untuk menyesuaikan diri, tunjukkan kepada orang-orang bahwa kehadiran Anda memiliki nilai.