Site icon NTD Indonesia

Bersyukur Membantu Anak Menjadi Bahagia

Anak bersyukur

Anak bersyukur. @Pexels

Catatan di Hari Anak Universal 2020

Sebuah studi yang diterbitkan pada 2019 dalam Journal of Happiness Studies karya Simone P. Nguyen mendapatkan bahwa rasa syukur dikaitkan dengan kebahagiaan pada anak-anak di usia 5 tahun, seperti disampaikan Amy Morin, LCSW dalam laman verywellmind. Ini artinya, menanamkan rasa syukur pada anak-anak di usia dini dapat membantu mereka tumbuh menjadi orang yang lebih bahagia.

Pada artikel yang sama, Morin juga menyinggung penelitian yang dilakukan oleh Jeffrey J. Froh dalam Journal of School Psychology pada 2008, yang menyebutkan bahwa anak usia 11 hingga 13 yang bersyukur, cenderung lebih merasa bahagia, lebih optimis, dan memiliki dukungan sosial yang lebih baik. Mereka juga dilaporkan lebih merasakan kepuasan terhadap sekolah, keluarga, komunitas, teman, dan diri mereka sendiri. Anak-anak yang bersyukur ini juga cenderung memberikan lebih banyak dukungan sosial kepada orang lain.

Jeremy Adam Smith dalam artikel Six Habits of Highly Grateful People di laman Greater Good menyampaikan bahwa “rasa syukur (dan saudaranya yakni, menghargai) adalah sebuah alat psikis yang kita gunakan untuk mengingatkan diri kita tentang hal-hal yang baik. Dia dapat menjadi lensa yang membantu kita melihat hal-hal yang tidak masuk dalam daftar masalah yang harus diselesaikan. Juga menjadi alat yang menyoroti orang-orang yang memberi hal-hal baik dalam hidup kita. Serta menjadi cat merah yang kita kuaskan atas berkah yang tidak nampak, seperti jalan yang bersih atau kesehatan atau makanan yang cukup untuk dimakan.”

Bagaimana caranya agar anak dapat merasakan perasaan bersyukur? Perasaan bersyukur bukanlah suatu hal yang dapat diperoleh secara tiba-tiba. Dia perlu dikenalkan, dirasakan, diterapkan, dan dilatihkan. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua, antara lain:

Menunjukkan dunia luar. Anak kita mungkin belum mengetahui jika di luar sana, banyak anak-anak lain yang tidak seberuntung dia. Anak-anak yang harus bekerja untuk makan. Anak-anak yang harus mengungsi. Anak-anak yang tinggal di negara yang berkonflik, dan lain sebagainya. Sampaikan pada anak kita seberapa beruntungnya dia karena memiliki makanan ketika lapar, memiliki boneka indah untuk dipeluk, memiliki baju bagus untuk berganti-ganti. Atau sampaikan hal-hal lain yang sekiranya dapat menyentuh hatinya.

Berterimakasih. Ajarkan pada anak untuk berterimakasih atas segala hal yang diberikan padanya. Berterimakasih pada orang-orang terdekatnya atau pada orang-orang yang telah membantunya. Berilah contoh nyata seperti mengucapkan terimakasih pada orangtua yang telah memberikan tempat tinggal. Pada asisten rumah tangga yang telah menyiapkan makanan. Pada guru yang telah mendidik dengan sabar, dan lain sebagainya.

Menghargai. Ingatkan pada anak Anda tentang hal-hal yang “tampak” wajar namun sebenarnya adalah suatu berkah. Ingatkan padanya bahwa hal yang dianggapnya sepele, jika tidak kita dapatkan, membuat kita menderita. Sampaikan padanya bahwa menikmati matahari terbit, mendengar kicau burung, menghirup udara segar, dan hal-hal lain yang mungkin tidak pernah terpikirkan olehnya mungkin tidak dimiliki oleh orang lain.

Pandang kegagalan sebagai pelajaran berharga. Tidak semua orang dapat melihat suatu kegagalan sebagai hal yang positif. Membantu anak untuk melihat sisi positif dari kegagalan akan membantunya untuk mengapresiasi prosesnya bukan hanya hasilnya. Dengan menghargai proses, akan membantunya untuk selalu belajar menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Menjadi lebih kreatif dalam mengubah kegagalan menjadi peluang untuk berhasil.

Terakhir, semua adalah titipan. Mengingatkan pada anak bahwa apapun yang dimiliki saat ini sebenarnya hanyalah titipan saat di dunia. Kita tidak perlu membanding-bandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Karena ketika saatnya kita “kembali”, semua benda yang kita miliki akan ditanggalkan semua (kecuali pahala atau dosa kita).

Membantu anak untuk bersyukur, secara tidak langsung juga mengingatkan diri kita sebagai orangtua, untuk selalu menghargai perasaan tersebut. Mensyukuri bahwa diri kita setidaknya telah memberikan yang terbaik dari yang kita miliki untuk anak-anak kita. Mensyukuri bahwa kita telah berhasil memberikan hak-haknya sebagai anak-anak, meskipun mungkin bukan yang sempurna.

Sebenarnya setiap tahun dunia juga selalu mengingatkan orang tua dan orang dewasa lainnya untuk selalu mengingat hak-hak anak. UNICEF menetapkan 20 November sebagai hari untuk mempromosikan kebersamaan internasional, meningkatkan kesadaran anak-anak di seluruh dunia, dan merayakan hak-hak anak untuk membangun dunia yang lebih baik bagi anak-anak. Melalui rasa syukur dari anak dan orangtua, kita peringati Hari Anak Universal.

Selamat Hari Anak Universal 2020. (ntdindonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI