Keluarga

Buku Versus E-book

@pexels

Di saat segala sesuatu beralih ke digital, perdebatan mengenai e-book (buku elektronik atau buku digital) vs buku, masih terus berlangsung, hingga saat ini. Banyak pro dan kontra mengenai kelebihan dan kekurangan keduanya. Sebagai orang tua, mungkin perlu melihat dari kedua sudut pandang agar dapat mempertimbangkan secara lebih seksama, mana yang lebih tepat untuk anak. Beberapa kelebihan yang umumnya dikemukakan oleh para penggemar masing-masing, antara lain:

Kelebihan buku

  1. Hadiah. Buku dapat digunakan sebagai hadiah, karena lebih bersifat personal. Memilihkan buku yang sedang disukai penerima, ditambahkan ucapan di bagian depan buku akan menambah kesan personal pada penerimanya.
  2. Sensasi sentuhan. Bagi mereka penggemar buku, sentuhan lembaran halaman dan aroma buku yang khas menjadi sensasi tersendiri yang tidak akan ditemukan dalam e-book.
  3. Tanpa listrik. Buku lebih mudah dibawa kemana saja, tanpa perlu khawatir akan mengisi baterai.
  4. Bertukar buku. Bagi sesama penggemar buku, saling bertukar buku, jamak dilakukan karena akan lebih menghemat biaya. Mereka dapat membaca buku yang mereka sukai, tanpa perlu membeli semua buku.

Kelebihan e-book

  1. Lebih murah. Meskipun harus membeli perangkat khusus untuk membaca, namun itu hanya di awal saja. Setelahnya, membeli e-book akan terasa lebih murah, terutama bagi penggemar berat membaca.
  2. Kamus bawaan. Dalam perangkat membaca e-book, terdapat kamus bawaan. Sehingga memudahkan pembaca saat kesulitan mengartikan kata-kata atau ingin mengetahui lebih detail kata-kata baru.
  3. Lebih ringan. Saat bepergian, cukup membawa satu perangkat e-book sudah tersedia ribuan buku yang dapat dibaca sepanjang perjalanan, juga lebih mudah memilih judul yang diinginkan.
  4. Akses penulis indi. Banyak penulis independen yang menerbitkan sendiri karya mereka dalam format digital. Banyak diantaranya cerita pendek yang terlalu pendek untuk diterbitkan sendiri dalam bentuk cetak, tetapi sangat cocok untuk dibaca secara digital.

Diantara kelebihan e-book, umumnya para penggemar akan menyinggung masalah eco-paper atau go green. Demikian juga saat memasarkan perangkat e-book. Kampanye seperti go paperless-save trees (mengurangi penggunaan kertas untuk menyelamatkan hutan) ini, banyak dilakukan.

Namun belakangan ditemukan, jika kampanye semacam ini sebenarnya tidak seluruhnya benar. Studi yang dilakukan oleh Dovetail Partners, Inc untuk Two Sides North America, Inc. berjudul “Contrary to Popular Thinking, Going Paperless Does Not ‘Save’ Trees” menyebutkan meski terjadi penurunan konsumsi kertas, penebangan pohon tetap stabil atau bahkan meningkat di daerah penghasil utama kertas. Di Indonesia sendiri, Statistik Produksi Kehutanan tahun 2016 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Indonesia menyebutkan jika produksi bubur kertas dari hutan “hanya” 15% dari keseluruhan penggunaan hasil hutan. Tentu saja prosentasi ini lebih kecil dibandingkan saat e-book belum diperkenalkan. Namun demikian, kampanye tentang “pengurangan penggunaan kertas untuk menyelamatkan hutan,” semestinya bisa dipertimbangkan kembali.

E-book sendiri diperkenalkan pertama kali pada 2007. Pada masanya, e-book sempat menjadi tren dan diprediksi sebagai pengganti buku. Namun belakangan ini, buku kembali memenangkan hati para pembaca. Menurut Michael Kozlowski, melalui laman Goodereader, penjualan buku hardback meningkat 6,2%, sedangkan buku paperback meningkat 2,2% dari tahun 2017 ke tahun 2018, dibandingkan penjualan e-book yang menurun 3,9%. Demikian juga pada tahun sebelumnya, menurut The Wall Street Journal, penjualan buku di USA meningkat 5%, sedangkan penjualan e-book turun 17%.

Kenaikan ini, mungkin saja karena kelihaian para penerbit yang dapat menarik perhatian pembeli. Namun, buku anak-anak juga memainkan peran penting.  Kebanyakan orang tua akan lebih memilih membelikan buku dibandingkan membelikan perangkat untuk membaca e-book untuk anaknya. Salah satu alasannya adalah, dalam buku terdapat ilustrasi dan gambar yang jauh lebih bervariasi daripada e-book. Selain itu, buku untuk anak batita umumnya juga dilengkapi dengan halaman bertekstur untuk melatih sensorik-motoriknya.

Pemilihan orang tua ini rupanya seseuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Joan Ganz Cooney Center di Sesame Workshop. Dalam studi ini menemukan bahwa membangun keaksaraan pada anak-anak lebih efektif dengan buku cetak daripada dengan e-book karena anak akan lebih fokus pada cerita dan memiliki peluang yang besar dari sisi interaksi antara anak dan orang tua saat sedang membacakan buku untuk anaknya. Sedangkan e-book, meski sama-sama menyampaikan cerita, dan mendorong anak-anak untuk berpartisipasi dengan add-on interaktif, namun tidak ada percakapan dan tidak ada yang mendorong anak untuk mengeksplorasi penggunaan bahasa. Penelitian itu juga menyimpulkan bahwa terkadang fitur tambahan “click-through” dapat mengurangi pengalaman membaca karena perhatian anak akan teralihkan.

Namun demikian, terlepas dari pro dan kontra antara pembaca e-book dan buku, sebagian orang tidak memilih salah satu, mereka tetap memilih membaca keduanya, karena bergantung pada situasi dan kondisinya. Karena yang jauh lebih penting sebenarnya adalah membaca itu sendiri. (NTD Indonesia/ averiani)