Pada jaman dahulu, di Tiongkok kuno, ada seorang dokter bermarga Hao. Dr. Hao memiliki keterampilan medis yang luar biasa dan rendah hati. Dia sangat terkenal dan dihormati. Suatu hari, dia menyelamatkan jiwa seorang pasien dari sebuah keluarga yang berjarak 30 mil jauhnya. Saat pulang, matahari sudah terbenam dan jalanan menjadi gelap. Dia tidak tahu bahwa dia akan mengalami peristiwa yang melibatkan campur tangan ilahi.
Hao merasa sedikit takut. Dia memungut sebilah tongkat kayu untuk pertahanan diri untuk berjaga-jaga jika ada yang menyerangnya. Setelah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar lolongan dari dalam kegelapan. Hao berteriak: “Siapa itu?” Kemudian, empat pria muncul dari kegelapan. Wajah mereka berlumuran abu hitam, dan batang besi di tangan mereka memancarkan pantulan yang mengerikan.
Menyadari mereka adalah perampok, Hao memohon: “Saya adalah seorang dokter yang merawat dan menyembuhkan pasien. Bisakah kalian melepaskan saya?” Namun keempat pria itu menolak permintaannya. Mereka menggeledah dan menjarah semua barang berharga Hao. Mereka memperingatkan dia: “Enyahlah. Jangan sampai kami melihat kamu lagi!”
Menyelamatkan seorang anak dari dua ekor serigala
Hao selamat dan melarikan diri dengan panik. Saat dia berlari, dia mendengar seorang anak menangis. Hao bergumam pada dirinya sendiri: “Aduh, ada apa denganku. Masalah datang silih berganti. Saya tidak perlu menghiraukannya, biarkan saja dan segera pergi; semakin sedikit masalah, semakin baik.”
Namun semakin jauh dia pergi, semakin keras tangisan anak itu. Hao tidak kuasa menggerakkan kakinya lagi. Dia berpikir dalam dirinya: “Saya adalah seorang dokter yang membantu dan menyelamatkan orang. Bagaimana saya bisa meninggalkan seseorang dalam kesusahan?” Jadi dia mengikuti arah tangisan tersebut untuk menemukan anak itu.
Ketika Hao mencapai lokasi, dia menemukan dua ekor serigala sedang berputar-putar mengelilingi seorang anak. Hao dengan cepat menyalakan api dari beberapa rumput kering untuk mengusir serigala. Mengikuti petunjuk anak tersebut, Hao membawa anak itu pulang dengan selamat.
Ketika mereka sampai di rumah anak tersebut, ibu anak tersebut menangis terisak-isak. Dia sangat gembira saat melihat anak itu kembali tanpa cedera. Dia menjelaskan: “Suami saya meninggalkan rumah untuk berjudi hampir setengah bulan yang lalu. Baru-baru ini, penyakit “Mountain Fever” telah menyebar di area ini, dan anakku terinfeksi. Pamannya meminta saya membuang anak itu untuk mencegah anak-anak lain terinfeksi, dan dia meninggalkan anak itu di tempat terpencil.”
Setelah mengetahui penyakitnya, Hao berkata bahwa dia bisa menyembuhkannya. Dia menghibur ibu anak itu dan meresepkan ramuan obat yang tepat. Secara kebetulan, sang ibu memiliki tanaman herbal yang dibutuhkan di rumah. Sembari ibu anak itu menyeduh ramuan herbal di atas kompor, dia menyuguhi Hao secangkir anggur.
Tepat pada saat itu, pintu didobrak dengan keras, dan seorang pria dengan mata merah menerobos masuk ke dalam rumah. Dia meraih kerah baju Hao dan menuduhnya: “Hei bajingan! Beraninya kamu merayu istriku di tengah malam?” Ketika suami wanita itu mencekik leher Hao, sang istri mencoba menjelaskan, tetapi didorong ke lantai.
Bertemu perampok dan pencuri
Saat kedua pria itu bergumul, seorang pria lain melompat dari tiang atap rumah, menunjuk ke suaminya, dan bertanya: “Pria macam apa kamu ini? Aku benar-benar tidak tahan lagi.” Suaminya terkejut dan bertanya: “Siapa kamu?” Pria itu berkata: “Saya adalah seorang pencuri. Kamu bisa memukuli saya atau membawa saya ke pihak berwenang, tapi saya ingin bersikap adil terhadap orang ini.”
Ternyata pencuri ini sedang mencari kesempatan untuk merampok rumah tersebut dan melihat hanya ada satu wanita disana, maka dia menyelinap masuk dan bersembunyi di atap untuk menunggu saat yang tepat untuk merampok rumah tersebut. Sambil menunggu, dia mendengar percakapan antara wanita dan dokter itu, dan dia tersentuh sampai meneteskan air mata oleh sikap Hao yang tidak mementingkan diri sendiri. Membandingkan dirinya dengan dokter yang baik hati, pencuri itu merasa malu. Dia memutuskan untuk memperlihatkan dirinya. Setelah mendengarkan penjelasan pencuri tersebut, sang suami melihat lebih dekat ke wajah Hao dengan lampu dan berteriak: “Ya ampun!” Dia kemudian berlutut di lantai di depan Hao. “Kebaikanmu telah menyelamatkan beberapa nyawa. Apakah kamu ingat siapa saya? ” Tapi Hao tidak bisa mengenali pria di depannya.
Sang suami melanjutkan: “Saya beritahu Anda. Saya adalah salah satu dari perampok yang merampok Anda di gunung tadi. Ini saya kembalikan semua uang yang saya ambil darimu. Saya kembalikan semuanya. Anda adalah penyelamat keluarga saya. Saya mohon menginaplah malam ini dirumah kami. Jika tidak, saya lebih baik bunuh diri di hadapan Anda atau laporkan saja saya ke kantor pemerintah!” Hao akhirnya terpaksa menginap.
Malam itu, ketiga pria itu minum dan mencurahkan isi hati mereka satu sama lain. Hao mengaku sebenarnya dia enggan menyelamatkan anak itu saat pertama kali mendengar tangisannya. Saat fajar, suami dan pencuri itu bersikeras untuk mengantar Hao pulang. Kedua pria itu berseru, “Kamu tidak hanya menyelamatkan anak itu, tetapi kamu juga menyadarkan hati nurani kami berdua. Mari kita antar kamu pulang dengan selamat.” Hao tidak bisa menolak keramahan mereka, maka ketiga pria itu pergi menuju ke rumah Hao bersama-sama.
Siapa yang menabur, dia yang akan menuai hasilnya
Mendekati desa keluarga Hao, ketiga pria itu merasakan tiupan angin. Aroma terbakar tercium dari hembusan itu, dan mereka menemukan desa itu tinggal reruntuhan dengan mayat bergelimpangan dimana-mana.
Hao berkata: “Tidak baik,” dan kemudian pingsan. Teman-temannya berusaha keras untuk membangunkannya. Setelah Hao pulih, mereka mencari istri dan anak Hao di seluruh desa, tetapi tidak berhasil. Mereka mengira para penjahat telah membunuh seluruh penduduk desa di malam hari.
Pada saat itu, terdengar suara anak kecil berteriak: “Ayah!” Hao menoleh dan melihat kakak iparnya berjalan ke arahnya dengan dua keledai membawa istri dan anak-anaknya. Ternyata istri Hao sangat kesal pada malam sebelumnya saat Hao tidak pulang. Istrinya berpikir bahwa suaminya pasti sedang makan, minum, dan bersenang-senang dengan teman-temannya. Jadi dia membawa anak-anaknya pulang ke rumah orang tuanya.
Orang tuanya sangat pengertian dan membujuknya untuk pulang keesokan harinya agar menantu mereka tidak merasa khawatir kehilangan istri dan anak-anaknya. Menjelang fajar, kakak laki-lakinya menemani mereka pulang. Setelah tiba di desa, mereka baru mengetahui bahwa para penjahat telah membantai seluruh desa kecuali keluarga Hao.
Rangkaian peristiwa itu telah mengejutkan semua orang. Jika Hao tidak menyelamatkan anak itu pada malam sebelumnya dan pulang ke rumah, seluruh keluarganya akan dibunuh oleh para penjahat. Jika, setelah Hao membawa pulang anak itu, ayahnya tidak salah paham dan membiarkannya segera pulang, dia mungkin akan bertemu dengan para penjahat tersebut. Melihat kembali semua peristiwa itu, Hao menyadari bahwa semua peristiwa itu merupakan pengaturan Sang Pencipta. Dia menghela napas: “Kehendak Langit. Benar-benar kehendak Langit!”
Tapi teman-temannya berkata: “Apa maksudmu dengan ‘Kehendak Langit?’ Inilah yang dinamakan ‘siapa yang menabur, dialah yang akan menuai hasilnya.’ Dr. Hao, kebaikanmu telah mendapatkan imbalannya. Seperti pepatah lama mengatakan: ‘Jika Anda melakukan perbuatan baik sepanjang waktu, Anda tidak perlu khawatir dengan masa depan Anda!’” (visiontimes/sia/feb)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
