Site icon NTD Indonesia

Cancan Belajar Menghargai

@pixabay

Cancan berbisik kepada Bisma, “ada anak baru nih, kayaknya oon, tambun dan bisa dikerjain!”.  “Siapa, Can?” tanya Bisma ikut antusias. “Itu tuh, si Acay anak pindahan. Gimana, ikut nggak?” ajak Cancan.  “Ikutlah masa nggak, urusan beginian kan seru,” timpal Bisma.  “Kalau gitu kita bagi tugas, bilang ama si Sahat suruh si Acay ke WC yah, aku sudah menunggu di sana,” titah Cancan merasa jagoan.

Benar saja, Sahat dengan muka bersahabat mengajak Acay ke WC, “Cay, teman-teman ingin berkenalan denganmu ayo kita ke belakang.”  “Ayo,” kata Acay sambil bingung, kenapa berkenalan harus ke belakang.  Benar saja, di belakang sudah menunggu Rafli, Bisma, Anggoro dan Cancan.

“Eh, anak baru, lu harus hormat ama kita semua ya! Nama gua Cancan“, ujar Cancan sambil mengelus-elus rambut Acay dengan semena-mena. “Nama gua Bisma,” kata Bisma sambil membenturkan dadanya ke dada Acay. Teman-teman lain memperkenalkan diri dengan gaya yang tidak menyenangkan pula. Tidak bersahabat dan cenderung melecehkan. Acay diam saja tertunduk, dia ngeri karena di sekitarnya tampak anak-anak liar yang tidak tahu aturan dan tidak menghargai orang lain. Cancan dengan enaknya berkata, “mulai besok lu harus traktir kita di kantin ya, kalau nggak, ingat aja deh pasti berabe jadinya!” ancam Cancan.

Esoknya Acay terpaksa mentraktir gengnya Cancan, sebanyak 11 anak, makan di kantin sekolah. Acay berharap kejadian itu adalah pertama dan terakhir. Tapi ternyata tidak, hampir setiap istirahat sekolah Cancan atau teman geng-nya datang dan meminta uang atau bekal makanan yang dimilikinya. Satu waktu Acay berkata, “aku udah tidak punya uang dan kebetulan tidak ada bekal makanan karena bangun kesiangan tadi”.  Cancan naik pitam, dan segera menarik Acay ke belakang menuju WC. Di belakang Cancan memukuli Acay dengan kasarnya dan berkata-kata penuh nada ancaman. Acay menangis kesakitan dan berlari ke dalam kelas dan segera ke luar lagi. Ternyata ia mengambil tas dan langsung pulang padahal masih ada 2 mata pelajaran lagi. Cancan berusaha mencegah tapi apa daya Acay sudah berlari begitu cepatnya.

Esok harinya Acay tidak masuk kelas. Orang tua Acay datang dan meminta penjelasan,  apa yang sebenarnya terjadi. Spontan saja wakil kepala Sekolah Pak Nancy, yang sekaligus mengajar pelajaran Budi Pekerti (BP) memanggil Cancan. Cancan masuk ke ruang guru dengan muka tertunduk. Tidak tahu apa yang harus dijelaskan lagi. Cancan mengakui semua perbuatannya dan orangtua Cancan harus segera datang kalau tidak urusannya akan semakin rumit.

Cancan ngeri sekali mendengar bahwa orangtuanya akan dipanggil ke sekolah. Pak Nancy sempat berkata, “kamu ini beda sekali dengan ayahmu, ayahmu itu kepala sekolah SMA. Beliau orang yang sangat baik. Mau ditaruh mana muka ayahmu?”  Cancan semakin menunduk dan keringat dingin mulai bercucuran. Ia tahu apa yang akan segera terjadi. Ayahnya pasti marah besar dan reputasi ayahnya sedang dipertaruhkan saat ini. Ia lupa bahwa Acay punya ayah sama seperti dia, yang akan membela anaknya jika diperlakukan tidak layak.

Benar saja ayah Cancan datang dan segera meminta maaf dengan sangat sopan bahkan sambil membungkukan badan di depan ayah Acay. Ayah Acay yang tadinya marah langsung menjadi ramah dan cair dalam pembicaraan orang dewasa. Tidak sedetikpun ayah menengok ke arah Cancan. Ia terus berbincang dengan santun dan hormat hingga akhirnya ditemukan solusi terbaik untuk semuanya.

Cancan diskors selama 3 hari dan membuat surat pernyataan jika melakukan pelecehan dan penganiayaan kepada teman lainnya ia akan langsung dikeluarkan dari sekolah tanpa peringatan lagi. Hukuman itu dibacakan oleh Pak Nancy sebagai kesepakatan di antara orang dewasa. Sebelum bubar Cancan masih sempat mendengar ayahnya sekali lagi berkata, “maafkan saya Pak, saya tidak mampu mendidik anak saya dengan benar, saya malu dan bersalah, sekali lagi maafkan saya”. Ayah lakukan semua itu dengan kesungguhan dan kerendahan hati.

Ayah segera menggandeng Cancan pulang dan selama perjalanan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Namun sempat Cancan melihat ayah mengusap matanya, ayah menangis. Hati Cancan semakin tidak karuan, tidak pernah ia membuat ayah hingga dipanggil ke sekolah. Selama ini semua kelakuannya yang semena-mena tidak pernah terungkap. Selama ini ia aman-aman saja. Di rumah Ayah akhirnya berbicara dan memanggil Cancan ke kamar. Ayah mengajak berdoa sebelum mulai berkata-kata, “Ayah kecewa dan malu.  Apakah kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?”  Cancan diam seribu bahasa dan hanya terisak.  “Apakah kamu tahu apa yang dirasakan oleh Acay, ketika engkau perlakukan semena-mena?  Ayo tunjukkan kehebatanmu di depan ayah, pukuli ayahmu sekarang! Ayo pukul!” kata Ayah sambil mengangkat tangan Cancan dan memukulkannya ke pipi ayahnya.  “Ayah, ampun, Cancan salah, ampun Yah, Cancan janji tidak main pukul dan sok jagoan lagi………” kata Cancan terisak penuh penyesalan.

Ayah segera memeluk Cancan dan menenangkan Cancan sambil berkata, “Ayah percaya padamu, kamu akan berubah, perlakukanlah orang lain dengan hormat maka kamu akan dihormati. Jika kamu tidak mulai dari sekarang akan terlambat. Kesan orang yang tertanam atasmu buruk. Ubahlah itu dan jadilah anak yang memiliki hormat dan penghargaan kepada orang lainnya”. Cancan mengangguk dan memeluk ayah, “ Cancan berjanji, Yah.” (ntdindonesia/can)