Keluarga

Catatan di Hari Guru Nasional: Mengikuti Jejak Guru yang Hebat

Guru kelas
Guru kelas. @Pexels

Pada 25 November, Indonesia merayakan Hari Guru Nasional. Hari yang diperingati bersamaan dengan ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ini dirayakan sebagai bentuk penghargaan terhadap para guru.

Melansir dari laman Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) Kemendikbud, pada peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 25 November 2020 lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua guru, tenaga pendidikan, pemerintah daerah, serta para pemangku kepentingan pendidikan yang telah menciptakan perubahan dan inovasi yang luar biasa. Lebih lanjut Nadiem juga menyampaikan perhatiannya pada para orang tua yang saat ini begitu aktif terlibat mendampingi anaknya, bahu-membahu memotivasi dan menemani belajar serta turut menjadi guru bagi anak-anaknya di rumah.

Ungkapan yang disampaikan Nadiem dalam peringatan tersebut tentunya sangat relevan dengan kondisi dari kebanyakan orang tua saat ini. Setelah kurang lebih delapan bulan menjadi “asisten guru dadakan” di rumah masing-masing, banyak yang akhirnya memahami betapa sulitnya menjadi seorang guru. Mungkin ada yang berdalih, mereka tidak memiliki latar belakang sebagai guru, sehingga merasakan kesulitan saat mengajar anak. Lainnya beralasan jika anak-anak umumnya lebih patuh pada orang lain ?terutama pada guru? dibanding pada orang tuanya sendiri. Sebagian lainnya merasakan kesulitan membagi waktu antara membantu anaknya belajar dengan kesibukan mereka sendiri.

Terlepas dari semua dalih atau alasan tersebut, menjadi seorang guru tidak semudah yang dibayangkan. Tidak cukup hanya bermodalkan latar belakang pendidikan saja, namun juga diperlukan dedikasi tinggi, mental baja, maupun hati yang teguh. Meski semua bidang pekerjaan lain juga pasti menuntut karakter-karakter yang kurang lebih sama, namun profesi guru menjadi sangat relevan dengan apa yang dialami oleh para orang tua saat ini. Maka tidak ada salahnya jika mengikuti jejak para guru hebat di luar sana. Banyak cerita inspiratif dari guru-guru hebat yang pasti dapat diambil hikmahnya.

Kriteria Guru yang Hebat

Apakah kriteria dari “seorang guru yang bagus?” Tentu tidak jauh dari kualifikasi, pengalaman, dan kecerdasannya.

Namun apakah yang kemudian menjadikannya sebagai guru hebat? Rusul Alrubail dalam artikelnya berjudul The Heart of Teaching: What It Means to Be a Great Teacher meyakini bahwa seorang guru yang hebat tidak hanya memiliki kualifikasi, pengalaman, dan kecerdasan tinggi, namun juga kemampuannya dalam menunjukkan kebaikan, rasa sayang, dan empati pada muridnya. Dia juga fokus membangun komunikasi yang kuat antara guru dan siswanya. Karena komunikasi inilah yang kemudian menjadi jembatan yang kuat dalam mengembangkan dan menyampaikan suatu pembelajaran.

Tidak jauh berbeda dengan Alrubail, Jessica T. Servey dalam Teaching and Learning Moments: Remembering the Heart of a Teacher mengungkapkan bahwa mengajar adalah tentang mempelajari sesuatu, membangkitkan rasa ingin tahu, dan membentuk komunitas. Lebih lanjut dia juga menekankan bahwa seorang pengajar sebenarnya juga belajar banyak dari siswanya sebanyak siswanya mempelajari sesuatu dari dirinya.

Mengikuti Jejak Guru Hebat

Sebagai orang tua yang merangkap sebagai guru pendamping bagi anak-anak, tidak ada salahnya jika dapat mencontoh karakter terbaik dari seorang guru yang hebat.

Belajar dari anak. Dikatakan, guru yang hebat akan terus belajar, tidak hanya dari buku namun juga dari lingkungan akademiknya. Mengadopsi cara belajar tersebut, sebagai guru pendamping, orang tua diharapkan juga terus belajar. Tidak hanya dari buku maupun webinar, namun juga dari anaknya sendiri. Belajar berempati melalui respon anak, keingintahuan anak, bahkan kesalahan yang dilakukan anak sekalipun. Ketika orang tua mampu menempatkan diri pada posisi anak dan melihat sesuatu dari sudut pandang anak, maka diharapkan akan berdampak kuat pada keputusan dan tindakan yang akan diambil oleh orang tua.

Menyebarkan kebaikan. Guru yang hebat akan menunjukkan kebaikan dan rasa sayangnya tidak hanya pada anak didik, namun juga pada rekan sekerja dan orang tua siswa. Mengikuti jejak guru yang hebat, orang tua diharapkan dapat menunjukkan kebaikan dan rasa sayangnya, tidak hanya pada anak, namun juga pada lingkungan di sekitar anak, seperti pada asisten rumah tangga, pada kakek atau nenek, maupun pada tetangga. Studi menemukan bahwa kebaikan itu menjalar. Jika orang tua banyak menebarkan benih-benih kebaikan dan rasa sayangnya, maka dengan sendirinya akan beresonansi pada lingkungan di sekitar anak yang pada akhirnya akan kembali pada anak dan orang tua sendiri. Dengan demikian akan membuat anak lebih memahami lingkungan di sekitarnya. Selain itu, menunjukkan kebaikan dan rasa sayang pada anak akan membuat mereka merasa dipahami, disayang, dan diterima.

Menjalin komunikasi. Dikatakan, guru yang hebat dapat menjembatani kesenjangan dan membangun hubungan, persahabatan, dan komunitas. Sebagai guru pendamping, orang tua juga dapat menjalin hubungan dan persahabatan yang baik pada anak, sehingga akan terjalin komunikasi yang baik tidak hanya saat melakukan pembelajaran jarak jauh, tetapi juga hal-hal pribadi lainnya. Orang tua juga dapat mendorong anak untuk selalu berperilaku jujur dan berpikir positif dalam segala hal. Anak yang melihat orang tua berperilaku demikian, dia juga akan cenderung melakukan hal yang sama pada orang tua dan orang-orang terdekatnya yang pada akhirnya akan membentuk jalinan komunitas yang lebih luas.

Meskipun sedikit terlambat, selamat Hari Guru pada para pengajar dan para guru dadakan di seluruh Indonesia. (ntdindonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI