Keluarga

Dampingi Anak Hadapi Kegagalan

"Parenting" merupakan proses pembelajaran bagi orang tua dan pendewasaan anak (Image : Unsplash)
"Parenting" merupakan proses pembelajaran bagi orang tua dan pendewasaan bagi anak (Image : Unsplash)

Melindungi umumnya merupakan naluri alamiah setiap orangtua terhadap anak-anaknya. Namun sikap terlalu melindungi justru akan melemahkan anak. Orang tua, perlu berbesar hati dengan membiarkan anak menyelesaikan masalahnya sendiri. Bahkan ketika mereka mengalami kegagalan, orang tua sebaiknya jangan terlalu terburu-buru mengambil tindakan. Dalam praktiknya, memang hal ini tidak semudah berbicara. Namun membiarkan anak menghadapi masalah, menemukan solusi, atau mengalami kegagalan, adalah pembelajaran yang akan menjadi bekal baginya di kemudian hari.

Jika dulu dikenal istilah IQ (Intellgence Quotient), EQ (Emosional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient ), maka saat ini muncul istilah AQ. Menurut Paul G. Stoltz, seperti dikutip oleh Elly Risman, senior psikolog dan konsultan UI, AQ atau Adversity Quotient adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.  Pada kenyataannya, mereka yang berhasil dalam bidang apapun, umumnya memiliki AQ yang tinggi. Namun “kecerdasan” ini tidak serta merta muncul, dia perlu melalui proses pembelajaran yang cukup panjang. Bagi para orang tua yang juga sedang belajar membantu anak menghadapi masalahnya, berikut beberapa tips yang dapat membantu.

Mulailah dari risiko terendah

Biarkan anak mengerjakan hal-hal yang sudah mampu ia kerjakan. Biarkan anak makan sendiri, meski meja akan berantakan atau baju menjadi kotor. Atau biarkan anak mengenakan pakaiannya sendiri meski hasilnya tidak rapi atau terbalik. Atau biarkan dia memakai sepatu sendiri, meskipun lama, bersabarlah menunggu. Jika kegiatan berisiko rendah ini telah berhasil Anda lalui, tingkatkan risikonya. Biarkan jika dia ingin memanjat atau mengambil mainannya di tempat yang agak tinggi. Namun tetap sampaikan pesan untuk berhati-hati dan jangan lupa berpegangan atau cari pijakan yang kuat, sambil Anda tetap berjaga di sampingnya.

Komunikasi

Anda mungkin tidak bisa secara langsung membantunya, namun Anda bisa memberikan saran. Jika anak gagal membentuk gambar puzzle, bantu dia bermain ulang dengan memberikan petunjuk yang berguna baginya. Jika dia terjatuh dari sepeda, cari cara agar hal yang sama tidak terulang lagi. Komunikasikan bahwa belajar dari pengalaman adalah penting, agar tidak jatuh di tempat yang sama berulang-ulang.

Besarkan hatinya

Jika dia telah melakukan semampunya dan tetap gagal, berilah dia pujian. Tekankan pujian pada prosesnya, bukan hasilnya. Namun jika anak belum melakukan semampu dia, jangan memuji berlebihan. Alih-alih memuji, dorong dia untuk mencoba lagi.

Proses pembelajaran ini bagi sebagian orang tua mungkin cukup mengkhawatirkan atau menegangkan, namun perlu diingat bahwa dengan belajar menghadapi masalah dan mengalami kegagalan anak akan dibekali banyak kemampuan sebagai berikut:

  1. Kemampuan menangani stress
  2. Kemampuan melihat risiko dibalik setiap tindakannya
  3. Kemampuan untuk belajar dari kesalahan sehingga melakukan yang lebih baik di masa mendatang
  4. Kemampuan memecahkan masalah dan menemukan solusi
  5. Kemampuan berpikir kritis.
  6. Kemampuan belajar tentang kerja keras dan ketekunan.

Anda pasti tidak akan menyesal dengan hasilnya di kemudian hari. Selagi anak masih kecil, perlu untuk sedikit berakit-rakit ke hulu.

(NTD Indonesia/ Averiani)