Keluarga

Dari Sol Sepatu sampai Jiwa: Menambal Benda, Memperbaiki Diri Sendiri

Pasangan berbicara (Screenshot @Storyblocks)
Pasangan berbicara (Screenshot @ Storyblocks)

“Gunakan sampai habis, pakai sampai aus, pakai apa pun yang ada, atau tidak usah sama sekali.”

Sebagian dari kita masih melakukan praktek berhemat dari peribahasa New England itu. Kita memakai kaus favorit sampai robek, kita berharap ada keberuntungan dengan truk pikap berusia 10 tahun untuk bertahan satu atau dua tahun lagi, kita menambal kursi malas favorit dengan lakban dan tertidur di dalamnya saat siang.

Namun, secara keseluruhan, kita adalah masyarakat yang boros. Beberapa orang membeli mobil baru setiap beberapa tahun. Yang lain membuang ponsel lama mereka setiap kali ada tipe yang baru diluncurkan. Seorang eksekutif bank membongkar lemarinya, membuang semua gaun dan rok yang masih sangat bagus, dan kemudian pergi berbelanja untuk menggantikannya.

Seringkali proses “penyingkiran” yang sama berlaku dalam hubungan kita. Seorang teman menyakiti perasaan kita, jadi kita berhenti menelepon atau menemuinya. Seorang istri menganggap suaminya tidak menghasilkan cukup uang atau tidak memberikan perhatian yang cukup, lantas meninggalkannya. Seorang bos memecat seorang karyawan karena suatu kesalahan daripada bekerja sama untuk memperbaikinya.

Kita dapat menemukan alasan yang sah untuk beberapa penyingkiran ini, tetapi mungkinkah kita terlalu mudah membuang benda-benda dan hubungan kita?

Membuang barang tak berguna: Apakah Selalu Bijaksana?

Bahwa banyak diantara kita yang memiliki benda terlalu banyak adalah hal yang tidak dapat disangkal. Lemari kita telah menyimpan sweter dan celana panjang yang sudah bertahun-tahun tidak terpakai, rak kita penuh dengan buku-buku yang tidak pernah kita baca atau sudah lama kita lupakan, serta loteng dan garasi kita menyimpan segala macam perabotan, peralatan dapur, dan “harta karun” lainnya yang kemungkinan tidak akan pernah dikeluarkan lagi.

Selama sekitar 30 tahun terakhir, beberapa buku dan artikel telah mendorong kita untuk membuang atau mendonasikan barang tak terpakai dalam hidup kita. Bersihkan ketidakrapian dan singkirkan benda-benda yang tidak berguna.

Menurut para penulis ini, kita akan menjadi lebih sehat secara spiritual dan mental. Begitulah argumen yang melandasinya, dan saya setuju dengan beberapa ide mereka.

Tetapi saya juga menemukan bahwa ketika saya telah membuang barang-barang tertentu, saya segera menyesalinya. Ketika saya membuang buku-buku tertentu, misalnya, sebulan berlalu, dan kemudian saya membutuhkan biografi atau novel tersebut. Dua tahun lalu, saya membuang mantel yang telah saya pakai selama 15 tahun. Lapisannya sudah sobek, semua kancingnya hilang, dan kantongnya sudah berlubang. Namun, datanglah dingin dan salju di musim dingin berikutnya, dan saya merindukan mantel lama itu.

Sepatu jadi Sandal

Meskipun mantel itu mungkin tidak bisa diperbaiki, terkadang kita dapat menggunakan benda-benda usang itu untuk alternatif penggunaan lain. Kemeja tua dengan noda dan kerah menjuntai sangat cocok untuk dikenakan saat mengecat dek. T-shirt dengan lubang yang lebih banyak daripada saringan akan menjadi lap debu yang ideal.

Seorang teman yang baru-baru ini mengunjungi museum di California mempelajari bahwa di masa lalu, ketika gaun atau pakaian lain sudah compang-camping dan usang, para wanita dan putri mereka akan membuat karpet dari pakaian tersebut.

Seperti pepatah New England, kita benar-benar dapat menggunakan barang-barang itu sampai aus.

Sebuah contoh: Musim panas lalu, sepasang sepatu favorit saya sudah terlalu usang untuk dipakai di depan umum. Tumitnya hampir hilang, salah satu solnya terlepas, dan tidak ada semir yang bisa menyembunyikan lecet dan lapisan kulit yang pecah-pecah. Jadi, saya pergi untuk membeli sepasang sepatu lagi. Saat memilih sepatu, saya juga mencari sandal, tetapi tidak menemukan satupun yang saya suka.

Kembali ke rumah, saya hampir membuang sepatu lama saya ke tempat sampah ketika sebuah ide bagus muncul. Saya melepas tali-tali sepatunya, dan Voila! Saya punya sandal. Bahkan saya memakainya sekarang ketika saya menulis artikel ini sambil duduk di teras depan rumah saya.

 “Pakailah sampai aus,” kata pepatah. Saya pikir sandal dari sepatu saya masih memiliki masa hidup beberapa tahun lagi.

Butuh Perbaikan

Proses perbaikan  mungkin perlu kerja keras. Siapa pun yang mempunyai meja atau kursi bernoda tahu bahwa proses perbaikan ini membutuhkan waktu pengamplasan berjam-jam bahkan sebelum mengoleskan kuas.

Bahkan yang lebih sulit, upaya perbaikan terkadang diperlukan untuk menjaga hubungan tetap utuh. Dalam pernikahan yang bermasalah, misalnya, salah satu pasangan, atau keduanya, mungkin percaya bahwa bercerai akan lebih mudah daripada meluangkan waktu dan upaya yang diperlukan untuk memperbaiki ikatan mereka yang rusak. Terkadang, upaya perbaikan dinilai sebagai hal yang mustahil. Ini mungkin benar.

Tetapi seiring waktu berlalu, mungkin keputusan ini dapat menimbulkan penyesalan. Faktanya, seperti yang ditunjukkan Audrey Jones kepada kita dalam artikelnya “Restore Marriage After Divorce,” 6 persen pasangan yang bercerai akhirnya menikah lagi, dan kali ini dengan peluang pernikahan mereka akan bertahan lama jauh lebih tinggi daripada yang lain.

Menjaga hubungan keluarga dan persahabatan tetap baik juga semakin sulit, terutama di zaman ini ketika begitu banyak orang percaya pada slogan, “The personal is political” (yang kurang lebih berarti “Hal pribadi merupakan hal politik.”).

Mungkin banyak diantara kita pernah mengalami atau mengenal seseorang yang mendadak penuh letupan ketika membela satu presiden atau lawannya, atau menolak untuk di vaksin, atau mempertanyakan rasisme sistemik. Akibat pertengkaran seperti itu, tiba-tiba kita mencampakkan teman lama.

Seorang wanita kenalan saya kehilangan sahabatnya karena “kedinginan hati” temannya. Teman itu terluka oleh apa yang dia anggap sebagai ketidakjujuran dan kurangnya rasa sayang untuk mencoba memulihkan hubungan.

Saya memaafkanmu,” katanya, “tapi saya tidak menginginkanmu dalam hidupku lagi.”

Perawatan

Sama seperti jarum dan benang, lem, dan alat-alat pertukangan adalah beberapa peralatan yang diperlukan untuk memperbaiki pakaian dan perabotan, alat-alat tertentu diperlukan untuk memperbaiki hubungan. Ini juga termasuk adanya kebajikan seperti harapan, cinta, toleransi, pengertian, pengampunan, dan kesabaran.

Item terakhir dari daftar ini sering diabaikan. Untuk memperbaiki persahabatan atau pernikahan yang rusak, kita harus bersedia berusaha keras dan bekerja lama jika ingin mencapai kesuksesan.

Dan kita harus memiliki visi kemana tujuan kita. Ketika kita mulai memperbaiki meja atau kursi yang disebutkan di atas, kita perlu melihat benda tersebut nantinya akan bersinar jika diletakkan di ruang kerja atau ruang tamu kita. Ketika kita mencoba untuk memperbaiki hubungan yang rusak, kita juga harus memiliki sasaran tentang tujuan kita.

Tentu saja, menopang hubungan yang retak adalah proposisi yang jauh lebih sulit daripada memperbaiki furnitur, dan tidak akan berhasil jika pasangan tidak bersedia membuat kesepakatan dengan kita. Tetapi kegagalan melakukan upaya menjamin ketidakberhasilan.

Kintsugi

Selama berabad-abad, orang Jepang telah memperbaiki tembikar yang pecah dengan emas, memuji kecacatannya sambil membuat tembikar itu menjadi lebih indah. Dalam sebuah artikel online “Kintsugi: Gold Repair of Ceramic Faults,” Curtis Benzele, seorang profesor dan pematung, mengatakan, “Kemungkinan, sebuah kapal yang diperbaiki melalui seni kintsugi akan terlihat lebih cantik, dan lebih berharga, daripada sebelum retak.”

Hal yang sama mungkin berlaku bagi kita ketika kita berlatih seni memperbaiki dan menambal, khususnya dengan teman dan keluarga kita. (jeffminich/theepochtimes/sia/feb)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI