Jika mendengar kata disiplin, dalam benak kita mungkin akan langsung tertuju pada semacam bentuk hukuman. Konotasi ini tidak sepenuhnya salah mengingat sering ditemukannya suatu hukuman “fisik” pada anak yang tidak mematuhi aturan. Sebenarnya bentuk disiplin yang efektif pada anak membutuhkan lebih dari sekedar hukuman. Dia memerlukan perhatian, pendekatan, dan hubungan yang baik antar anak dan orang tua.
Sebenarnya apakah arti disiplin itu sendiri? Jika kita mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesa maka kita akan mendapatkan arti: 1. tata tertib; 2. ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan. Sedangkan dalam Wikipedia disebutkan bahwa disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya merupakan tanggung jawabnya.
Bila disimpulkan, suatu bentuk disiplin adalah bentuk ketaatan terhadap nilai-nilai yang dipercaya orangtua, yang ingin diajarkan pada anaknya agar terus dianutnya hingga dewasa. Oleh karena itu, kita sebagai orangtua perlu memahami dengan benar nilai-nilai yang akan kita ajarkan, sehingga saat mengajarkan kedisiplinan pada anak, kita dapat meyakinkan nilai-nilai itu sebelum belajar menerapkannya.
Tom Beardshaw dari Fathers Direct menyebutkan bahwa disiplin yang efektif membutuhkan perhatian positif dan hubungan yang baik. Maka, menerapkan kedisiplinan tidak perlu dengan membentak atau memukul, karena akan berakibat negatif padanya. Beberapa penelitian telah membuktikan efek negatif ini, terutama pada anak usia dini. Namun demikian, menghadapi anak saat melakukan kesalahan atau melawan dengan kepala dingin, memang tidak semudah berbicara.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan para orangtua. saat akan mengajarkan nilai-nilai yang ingin ditaati oleh anak-anak.
Regulasi emosi
Sebagai pendidik, pertama-tama, orangtua mutlak harus belajar meregulasi emosi diri sendiri. Karena emosi tidak akan memecahkan masalah. Saat Anda merasakan emosi mulai menguasai diri, berilah ruang yang cukup pada diri sendiri, agar Anda tetap dapat berpikir dengan jernih dan kepala dingin. Diam sejenak atau meninggalkannya untuk sementara adalah beberapa cara yang dapat dilakukan saat “darah mulai meninggi”.
Cara lain untuk melatih regulasi emosi yakni dengan melakukan aktivitas hening atau mindfullness -seperti meditasi- secara rutin dan teratur. Isilah pikiran Anda dengan hal-hal yang baik dan menenangkan. Karena ketika kita selalu menjaga pikiran kita agar terus berada dalam kondisi tenang dan damai, saat Anda menemukan masalah, Anda telah terbiasa dan memiliki waktu yang cukup untuk berpikir dengan tenang. Cara ini tidak hanya dapat digunakan saat menghadapi masalah dengan anak Anda, namun juga saat menghadapi masalah-masalah lainnya secara umum.
Kesepakatan kedua orangtua
Untuk mengajarkan suatu nilai pada anak, kedua orangtua harus sepakat terlebih dahulu. Apa saja hal-hal yang harus diterapkan, bagaimana menerapkannya, atau hal-hal apa saja yang dirasa perlu menerapkan hukuman, dan lain sebagainya.
Namun ada kalanya pasangan juga berbeda pandangan meskipun telah melakukan diskusi bersama. Maka saat salah satu orangtua menerapkan nilai yang dirasa kurang, ada baiknya pasangan tetap mendukung. Anda dapat menyampaikan keberatan setelah pasangan selesai dengan anak Anda,
Bersedia berproses
Orangtua juga harus siap untuk terus berproses. Karena nilai-nilai yang diajarkan pada anak umumnya berubah atau bertambah seiring dengan usia anak. Jika kita merasa telah melakukan kesalahan atau ada hal-hal yang terlewatkan saat anak masih di usia dini, jangan berkecil hati. Anda hanya perlu menerapkan secara perlahan.
Tidak ada kata terlambat untuk melatih disiplin pada anak. Karena mengajarkan disiplin tidak hanya berhenti di masa lalu, namun juga saat ini, dan di masa depan. Cecilia H.E Sinaga pada webinar “Tips Agar Si Kecil Memahami Aturan & Disiplin Tanpa Harus Marah Atau Membentak” menyampaikan “Tidak ada kata terlambat untuk mendisiplinkan anak. Kesalahan atau segala sesuatu yang kurang tepat yang dilakukan sebelumnya, masih tetap dapat diubah. karena anak2 masih dalam usia pertumbuhan atau perkembangan, jadi pembentukan karakter tidak terjadi di belakang, tetapi sekarang, dan juga ke depan.”
Satu hal lagi yang perlu diingat oleh orangtua adalah, anak hanya meniru orangtuanya. Segala tindakan, persepsi, maupun nilai yang kita lihat pada diri anak sebenarnya adalah cerminan dari diri kita. Maka, melatih atau mengajarkan disiplin pada anak, sebenarnya sedang melatih atau mengajarkannya pada diri sendiri. (ntdindnesia/averiani)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI

