Keluarga

Disiplin Sehat, Tanpa Membentak (Bagian 2): Strategi Disiplin Positif

Disiplin anak
Disiplin anak. @Pixabay

Pada artikel sebelumnya telah kita simpulkan bahwa disiplin adalah suatu bentuk ketaatan terhadap nilai-nilai yang dipercaya orangtua, yang ingin diajarkan pada anaknya agar terus dianutnya hingga dewasa. Namun demikian, telah diketahui juga bahwa menerapkan kedisiplinan pada anak akan lebih efektif jika dilakukan melalui pendekatan personal tanpa melibatkan emosi. Maka, tidak hanya anak yang harus belajar, sebagai pengajar, orangtua pun perlu melatih diri agar dapat menerapkan kedisiplinan secara positif dan sehat, tanpa perlu membentak maupun memberikan hukuman.

Hukuman sendiri adalah tindakan yang akan dikenakan pada anak karena berperilaku tidak baik atau melanggar nilai-nilai yang telah disepakati. Memberikan hukuman, meski berhasil diterapkan pada saat itu namun dampaknya bisa sangat merugikan. Mulai dari menimbulkan rasa sakit fisik atau emosional, atau bahkan menjadi tidak efektif dalam mengurangi perilaku buruk atau pelanggaran di masa depan,

Sebagai alternatif, orangtua dapat menerapkan disiplin positif yang dapat melatih atau mengajarkan anak untuk mematuhi nilai-nilai yang disepakati baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang melalui pengendalian diri dan membuat pilihan yang positif. American Academy of Pediatrics (AAP) dalam laman healthychildren.org juga merekomendasikan 10 strategi disiplin positif yang secara efektif dapat mengajarkan anak-anak mengatur perilaku mereka dan menjaga mereka dari bahaya sekaligus mendukung disiplin yang sehat. Mulai dari menunjukkan dan mempraktekkan mana yang benar dan mana yang salah hingga menerapkan metode “time-out” sebagai hukuman bagi anak.

Terlepas dari rekomendasi AAP, ada 5 hal yang perlu diingat bagi para orangtua saat menerapkan disiplin positif pada anak, antara lain:

1. Konsisten. Anak-anak, terutama anak usia dini memang masih kanak-kanak. Terkadang mereka belum memahami sepenuhnya nilai yang ingin ditanamkan orangtuanya. Oleh karena itu orangtua perlu menyampaikan nilai atau aturan secara jelas dan konsisten. Pastikan juga orangtua menjelaskan aturan sesuai dengan usia anak agar mereka lebih mudah memahaminya.

2. Berulang-ulang. Selain bermain, anak-anak cenderung lebih mudah melupakan hal-hal lain yang tidak menarik perhatian mereka, maka selain menyampaikan aturan secara jelas dan konsisten, sampaikan juga secara berulang. Terutama bagi anak usia dini, orangtua jangan bosan-bosannya untuk selalu mengulang hal yang sama berkali-kali hingga anak memahaminya.

3. Feedback. Ini hal yang perlu didengar oleh anak-anak. Mereka perlu mengetahui kapan mereka melakukan sesuatu yang buruk dan kapan mereka melakukan sesuatu yang baik. Tidak hanya menegurnya saat melakukan hal yang tidak baik atau tidak sesuai dengan nilai-nilai yang disepakati saja, namun berilah juga apresiasi saat anak telah melakukan suatu hal yang baik. Orangtua perlu memberikan pujian saat anak berhasil melakukan sesuatu yang baik atau sedang berusaha untuk tidak melakukan hal buruk.

4. Mendengarkan. Mendengarkan adalah hal yang penting. Berilah kesempatan pada anak untuk menyelesaikan cerita atau alasan mereka sebelum memberikan teguran atau membantu memecahkan masalah. Kenali pula bilamana saat anak-anak menunjukkan perilaku buruknya, apakah perilaku yang tidak baik itu muncul saat dalam pola-pola tertentu, seperti misalnya saat mereka sedang merasa iri atau saat sedang mengantuk. Diskusikan tentang hal ini pada anak, bukan hanya sekedar memberikan konsekuensi atau penalti.

5. Time-out. Salah satu hukuman dengan metode hukuman terbaik yang dapat diterapkan pada anak-anak ketika melanggar aturan tertentu, menurut AAP. Metode ini menunjukkan pada anak bahwa mereka akan mendapatkan time-out jika tidak berhenti melakukan sesuatu yang melanggar aturan, menegur atas kesalahan yang telah mereka lakukan dengan kata-kata dan emosi sesedikit mungkin, dan membawa mereka keluar dari apapun yang sedang mereka lakukan saat itu dalam durasi tertentu. Menurut AAP durasi yang tepat adalah 1 menit per berapa tahun usia anak. Sedangkan pada anak-anak yang berusia minimal 3 tahun, Anda dapat mencoba membiarkan mereka memilih sendiri berapa lama mereka akan melakukan time-out. Orangtua dapat menyampaikan, “Pergi ke kamar dulu dan kembali lagi ke sini saat kamu telah merasa siap dan dapat mengendalikan diri.” Strategi ini sekaligus dapat membantu anak belajar dan mempraktikkan keterampilan manajemen diri. Orangtua dapat menggunakan cara ini untuk anak yang lebih besar maupun remaja. (ntd/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor