Keluarga

Empati, Alternatif Komunikasi pada Anak-Anak

Ayah menasehati anaknya (Keira Burton @ Pexels)
Ayah menasehati anaknya (Keira Burton @ Pexels)

Dapat menjalin komunikasi yang lancar pada anak-anak merupakan harapan dari semua orangtua. Namun adakalanya kelancaran komunikasi terhambat karena adanya berbagai hal. Mungkin karena anak merasa kurang dipahami atau mungkin karena orangtua merasa anak-anak tidak patuh, dan lain sebagainya.

Ketika keduanya merasakan hati yang tidak nyaman maka kemudian sering terjadi anak-anak menjadi rewel secara tidak jelas, atau cranky (lekas marah atau ngambek) dan sulit ditenangkan, atau saat-saat dimana mereka tidak mendengarkan atau bahkan tidak memperhatikan apa yang sedang Anda sampaikan.

Bagi orangtua sendiri, nada suara akan semakin meninggi ketika emosinya mulai terpancing. Ini tidak hanya terjadi pada satu atau dua keluarga saja, kemungkinan dapat terjadi pada banyak orangtua lainnya.

Dalam buku How to Talk So Kids Will Listen and Listen So Kids Will Talk karangan Adele Faber dan Elaine Mazlish, menumbuhkan sikap dan pola pikir yang penuh kasih sayang merupakan pendekatan yang lebih tepat diterapkan pada anak-anak dibandingkan dengan segala teknik, omelan, bentakan dan lain sebagainya.

Maka, alih-alih meninggikan suara, membentak, mengomel, atau lainnya, sebagai orangtua yang lebih dewasa dan matang dibanding anak-anak, tentunya diharapkan dapat menunjukkan bukti empati secara nyata. Sehingga anak-anak langsung dapat melihat dan sekaligus mempraktikkannya.

Kita tahu, anak-anak adalah peniru yang luar biasa, mereka cenderung menirukan apa saja yang dilakukan oleh orangtuanya. Lantas bagaimana?

Beberapa pandangan dari penulis buku best seller tersebut, Faber dan Mazlish, mungkin dapat menjadi pertimbangan Anda:

1. Mengomel dan menasihati

Meskipun anak telah melakukan kesalahan atau hal lain yang tidak Anda setujui, alih-alih mengomel atau menasihati secara panjang lebar, ada baiknya jika Anda mendengarkan apa yang ingin mereka sampaikan secara tuntas. Tenangkan diri terlebih dahulu, jangan terbawa emosi. Saat emosi Anda terjaga, akan lebih mudah untuk berpikir secara logis.

Dengan mendengarkan cerita mereka secara keseluruhan, Anda secara tidak langsung sedang menunjukkan empati Anda. Respon sederhana seperti “ooohh..” , “uhm..” , atau “oh iya..” sudah cukup bagi mereka untuk merasa diperhatikan.

Secara umum anak-anak belum dapat menceritakan suatu peristiwa secara runut dan sempurna, sehingga ketika mereka baru menceritakan suatu hal, kemungkinan besar banyak hal yang terlewatkan, yang seharusnya ingin mereka sampaikan pada Anda. Maka bersabarlah mendengarkan mereka sampai akhir.

2. Setengah perhatian

Kebalikan dari nasihat dan omelan yang panjang lebar, tidak memperhatikan apa yang mereka katakan, juga sama buruknya. Mungkin Anda merasa anak-anak terlalu berlebihan saat mengungkapkan perasaannya. Ini disebabkan perkembangan emosi anak terbentuk lebih dulu dibanding perkembangan logikanya.

Oleh karena itu, mendengarkan apa yang mereka utarakan akan sangat berarti bagi mereka. Jika saat itu Anda tidak sedang sibuk, luangkan sedikit waktu untuk mendengarkan cerita mereka sepenuh hati. Jika Anda benar-benar sedang ada aktivitas yang tidak mungkin ditinggalkan, sampaikan padanya, untuk menahan ceritanya sampai Anda menyelesaikannya dan kembali pada mereka. Tepati janji Anda.

Anak-anak cenderung akan menirukan apa yang dilakukan orangtua mereka. Saat Anda hanya mendengarkan setengah hati, mungkin mereka menganggap, respon seperti inilah yang biasa dilakukan. Maka saat mereka sedang bermain gawai dan Anda memanggilnya, bisa jadi mereka akan melakukan hal yang sama seperti Anda.

3. Mengakui perasaan anak

Saat anak sedang mengalami tantrum, alih-alih langsung menyerang atau menyepelekan perasaan mereka, akan lebih terasa hangat jika orangtua berusaha memahami dan mengakui emosi yang sedang mereka rasakan. Perlu diingat bahwa dibalik perilakunya yang sedang tantrum sebenarnya sedang ada suatu keinginan yang belum terpenuhi.

Maka, saat mereka merasa tidak dimengerti atau keinginan mereka disepelekan, kemungkinan mereka akan merasa semakin dikerdilkan. Di kemudian hari, mungkin mereka akan menganggap bahwa emosi orang lain juga tidak penting.

Oleh karena itu bantu mereka memberi “nama” (label) pada emosi yang sedang mereka rasakan tersebut. Apakah mereka sedang kecewa? Sedih? Atau marah? Dengan membantu mereka mengenalinya emosinya, secara bertahap Anda dapat membantu mereka meregulasi emosinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Dan selanjutnya dapat menuntun mereka memecahkan sendiri masalah yang sedang mereka hadapi.

Lepas dari semua itu, Anda juga sedang menunjukkan pada mereka bagaimana saat orangtua sedang berempati pada mereka.

4. Membanding-bandingkan

Membanding-bandingkan mungkin salah satu cara orang tua untuk memotivasi anak. Namun membandingkan anak dengan anak yang lain tidak akan pernah berhasil memotivasi atau mendorong mereka menjadi lebih baik. Jangankan anak-anak, orang yang lebih dewasa pun terkadang tidak ingin dibanding-bandingkan.

Alih-alih merasa termotivasi, anak-anak akan cenderung merasa orangtua mereka lebih memperhatikan anak lain, dibanding dirinya. Mereka juga akan merasa tidak berharga karena tidak sebaik anak lain yang dipuji oleh orangtua mereka. Anda dapat memotivasi mereka dengan cara lain, seperti memberi pujian atau menawarkan diri membantu mereka dan melakukannya bersama-sama, dan lain sebagainya.

Seperti kata Dr. Karyn Purvis, direktur the Rees-Jones dan co-founder the Karyn Purvis Institute of Child Development di Texas Christian University, “Our children need to know that they are precious in the sunshine and the rain.” Dia menegaskan bahwa anak-anak perlu mengetahui bahwa mereka adalah harta yang berharga bagi orang tua mereka, meski dalam suka maupun duka.

Memang berkomunikasi dengan anak tidak hanya membutuhkan kesabaran dan konsistensi, namun juga empati. Namun demikian, empati tidak datang secara alami. Empati harus terus dipelajari dan dipraktikkan untuk memastikan hasil yang baik.

Tidak hanya memberikan contoh pada anak-anak, dengan mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari orangtua pun semakin memupuk rasa empati dalam diri mereka.

Terlepas dari semua itu, tidak ada orangtua yang sempurna. Mereka cukup melakukan yang terbaik dari yang mereka bisa. Sampaikan maaf pada anak-anak ketika Anda melakukan kesalahan. Maafkan diri sendiri, dan terus mencoba lagi. (ntdindonesia/averiani)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI