Keluarga

Harta Orang Kaya Hanya Sedikit Lebih Banyak

Uang (Sharon McCutcheon @ Unsplash)
Uang (Sharon McCutcheon @ Unsplash)

Kami membagikan 3 kisah kearifan yang dapat membantu Anda melihat kembali hidup Anda agar dapat menentukan apakah Anda kaya, sangat kaya, atau miskin. Anda mungkin terkejut dengan apa yang Anda temukan.

1. Cara mengetahui apakah Anda benar-benar kaya atau miskin.

Seorang kaya asal Singapura yang dikenal karena kekikirannya sedang memotong rambut. Si tukang cukur menyapanya: “Tuan, saya mendengar Anda kaya!”
Mendengarnya, orang kaya itu sangat bangga dan langsung menjawab: “Ya, sekaya Croesus!”
Tukang cukur itu melanjutkan dengan berkata: “Tapi, saya pikir kekayaan Anda paling hanya S$3,000 (32 juta) lebih banyak dari saya.”

Orang kaya itu sangat marah dan berbicara dengan lantang: “Bagaimana mungkin? Uang yang ada di saku saya sekarang saja lebih banyak daripada semua kekayaanmu!”
Tukang cukur itu buru-buru berkata, “Jangan marah, dengarkan dulu. Bolehkah saya bertanya pada Anda, berapa harga peti mati termahal di daerah kita sekarang?”

Orang kaya itu mengatakan kepadanya: “S$ 4000” (43 juta)
“Berapa harga yang termurah?” Orang kaya tersebut menjawab: “S$ 1000” (11 juta)
“Jadi, ketika waktumu tiba, kamu pasti membeli peti mati termahal. Saya miskin dan akan membeli yang termurah. Kekayaan terakhirmu hanya S$ 3.000 lebih banyak dariku, dan kamu tidak punya apa-apa lagi.”

Setelah mendengarkan ini, orang kaya tersebut tiba-tiba tersadarkan. Hidupnya pun berubah. Dia bersedia melakukan kebaikan, dan mengumpulkan kebajikan yang tak terhitung jumlahnya.
Ada kebajikan besar dari pencerahan orang lain. Meskipun tukang cukur itu tidak kaya, dia mendapatkan pahala yang tidak terbatas. Orang kaya menjadi tercerahkan akan kekayaan yang sebenarnya dalam kehidupan.

2. Kaki biksu kecil

Master Zen Mazu adalah seorang biksu terkemuka di Gunung Wutai pada masa Dinasti Tang. Dia senang “mempersulit” murid-muridnya saat mereka melakukan pencerahan diri.

Suatu hari, Master Zen Mazu sedang duduk dan membaca di atas kursi anyaman di jalan kecil belakang kuil. Tak lama kemudian, biksu yunior kembali dari kebun sayur dengan membawa gerobak. Master Mazu meregangkan kakinya ke tengah jalan yang sangat sempit, dan biksu yunior meminta Guru untuk menarik kembali kakinya agar dia dapat mendorong masuk gerobaknya.

Tanpa diduga Master Mazu berkata: “Saya selalu melakukan peregangan, tetapi tidak pernah menariknya.”
Biksu kecil itu tertegun sejenak, dan berkata dengan malu-malu: “Guru, jika guru tidak ingin menarik kembali kakimu, saya tidak bisa pulang ke kuil.”

Guru bahkan tidak mengangkat kelopak matanya, dan berkata: “Itu urusanmu.”
Biksu kecil itu berpikir sejenak dan berkata: “Guru, kamu adalah seseorang yang hanya meregangkan tubuh, jadi saya tidak bisa mematahkan kakimu, bukan? Mari kita bertukar posisi. Saya yang duduk di kursi dan Anda yang mendorong gerobak.”

Setelah mendengar ini, Master Mazu menjadi tertarik, dan berganti posisi dengan muridnya. Dia melihat bahwa biksu kecil itu juga meluruskan kakinya, tetapi ketika Tuan Mazu mendorong gerobak ke dekatnya, biksu kecil itu menarik kakinya. Master Zen Mazu bertanya: “Mengapa kamu menarik kakimu?”
Biksu kecil itu tersenyum dan berkata: “Guru, Anda hanya melakukan peregangan tanpa bisa ditarik, tetapi saya dapat menekuk dan meluruskan, jadi saya menarik kaki saya.”

Akhirnya, biksu kecil itu pergi mendorong gerobaknya, dan Master Ma Zu melihat punggungnya dan tertawa.
Bertahun-tahun kemudian, Guru Zen Mazu menyerahkan jubah kepada biksu kecil tersebut, yang kemudian menjadi biksu terkemuka, Guru Zen Yinfeng dari Gunung Wutai.

3. Jendela sempit sel penjara

Selama Perang Dunia II, ada dua orang dikurung di sel kecil di kamp konsentrasi Nazi. Sel itu memiliki sebuah jendela kecil, yang merupakan satu-satunya cara bagi mereka untuk melihat dunia luar. Setiap pagi, mereka berdua bergiliran ke jendela untuk melihat ke luar.

Tawanan perang yang pertama melihat langit biru dan burung-burung terbang bebas, berpikiran terbuka dan lega, serta penuh harapan akan masa depan.

Apa yang dilihat oleh tawanan perang yang kedua adalah selalu tembok tebal tinggi dan pagar kawat berduri. Hatinya penuh dengan kecemasan dan ketakutan, dan dia menderita sepanjang waktu.
Setengah tahun kemudian, tawanan yang kedua tersebut meninggal di penjara karena depresi; sedangkan yang pertama bertahan hidup sampai dia diselamatkan.

Tidak peduli seberapa sulit situasinya, Anda tidak boleh putus asa, juga tidak boleh depresi dan mengeluh. Jalan keluar dan jalan menuju keberhasilan selalu disediakan bagi orang-orang yang memiliki sikap positif dan pikiran yang jernih. (visiontimes/sia/feb)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI