Sore hari, ketika saya sedang menyapu lantai sekitar dapur, tiba-tiba terdengar suara “Braak!” Saya memalingkan kepala, melihat anak bungsu saya yang masih balita terduduk di lantai dekat meja makan, sekujur tubuhnya penuh dengan butiran nasi yang telah dia tumpahkan dari piring.
Tangannya sedang memegang buah pir. Saya segera mengerti, dia naik ke kursi makan untuk mengambil buah pir yang terletak di piring buah di atas meja. Ketika akan menuruni kursi, tangan kecil diatas meja yang digunakan untuk menopang tubuhnya turun dari kursi kurang sempurna sehingga menumpahkan sisa nasi di piring makannya ke lantai.
Badannya juga terjatuh ke bawah, pantatnya membentur lantai dan terduduk di sana. Reaksi pertama saya adalah harus tenang. Anak saya nampaknya tidak apa-apa, hanya saja tampangnya seperti orang yang baru saja mendapat musibah. Saya bergegas memegang tangan kecilnya dan memapahnya untuk berdiri.
Kemudian butiran nasi berserakan diatas lantai saya bersihkan, ketika saya melakukan hal ini, saya mendapatkan bahwa kali ini bukan hanya saya tidak marah, bahkan masih bisa menyadari bahwa ini adalah kesalahan saya, karena setelah selesai memberinya makan, saya tidak segera membereskan meja.
Dulu, jika anak menumpahkan sesuatu, secara naluri menganggap sepertinya kesalahan itu pada anak. Selalu akan berteriak memarahi anak itu karena membuat beban pekerjaan tambahan bagi saya yang sudah sangat sibuk ini untuk membersihkan ulang. Kemudian hari saya merasakan bahwa cara ini sangat tidak baik, lalu saya coba untuk merubahnya. Berangsur-angsur berubah lebih baik, tapi perubahan itu selalu kurang sempurna.
Sekali ini, akhirnya saya bisa menahan perangai, dan menemukan bahwa kesalahan itu berada pada diri sendiri. Kemudian saya berkata pada anak saya, “Ini adalah kesalahan Mama.”
Tampak anak saya menjadi agak lega karena tidak dimarahi, ia lalu bertanya, “Oh! Mengapa?”
“Karena setelah makan, Mama tidak segera membereskan piringnya! Lain kali adik juga harus lebih hati-hati ya,” dengan tulus saya berkata kepadanya. “Baiklah!” Anak saya menganggukkan kepala.
Saat itu, saya merasakan semacam suasana yang sangat damai menyebar di udara. Sekali lagi merasakan melewati kultivasi mengolah diri secara terus-menerus untuk melatih kesabaran, berangsur-angsur telah merubah konsep yang kurang baik, akhirnya bisa melakukan kebaikan yang keluar dari dalam lubuk hati.
Bermurah hati dan toleransi terhadap kesalahan orang lain adalah semacam perasaan yang sangat baik, bersamaan dengan itu juga bisa merasakan sedikit penyesalan terhadap hal-hal yang dulu dilakukan dengan kurang baik. Berangsur-angsur dapat mencari ke dalam terhadap semua kejadian termasuk yang memancing emosi. Bersamaan dengan hilangnya bagian-bagian yang kurang baik itu, kita akan merasakan perasaan bahagia, mantap serta kedamaian setelah kita mencapai peningkatan.
Kemudian pada suatu hari, ketika anak saya sedang makan, telah menumpahkan setengah mangkok kuah, tanpa keraguan sedikit pun saya segera berkata, “Tidak apa-apa, apakah adik terkena kuahnya?”
Lalu saya ambilkan lap untuk membersihkan kuah yang tertumpah dan membantu dia mengganti kausnya yang sedikit basah, terakhir dengan penuh perhatian saya berkata, “Lain kali adik harus lebih berhati-hati.”
Saat itu saya merasakan seluruh keluarga sangat harmonis. Sejak saat itu pula, anak saya jarang sekali menumpahkan sesuatu lagi, mungkin dia terkadang juga kurang hati-hati menumpahkan sesuatu, tapi sudah tidak dapat menyentuh hati saya, mungkin karena demikian sehingga saya tidak teringat.
Suatu hari suami saya akan menggunting kuku, dia menjadi agak marah karena tidak menemukan gunting kuku itu, dan dia juga tahu adalah saya yang meletakkannya di sembarang tempat, dia memberitahukan saya bahwa dia akan mandi sebentar, setelah mandi nanti gunting kuku itu harus sudah ditemukan!
Suasana rumah segera menjadi tegang. Saat itu anak saya berkata kepada ayahnya: “Kalau setelah papa mandi, gunting kukunya belum mama temukan, Papa harus berkata tidak apa-apa.”
Anak saya telah belajar bermurah hati! bermurah hati adalah semacam tindakan yang sangat mulia, dia bisa melumerkan banyak sekali perasaan hati yang sempit dan terbatas, dia bisa mempengaruhi orang, karenanya semua akan tidak bermasalah!
Tak kuasa menahan rasa haru didalam hati, hasil yang saya peroleh bukankah hanya terletak pada kultivasi diri?! Bersamaan dengan itu telah mempengaruhi dan merubah anak menjadi baik, karena perilaku anak adalah mencontoh dari orangtuanya. (epochtimes/lin)

