Terkadang kita lupa jika pasangan berada dalam tim yang sama dengan kita. Rutinitas sehari-hari, perbedaan argumen, kesibukan pekerjaan membuat kita melupakan kenyataan bahwa pasangan kita bukan musuh atau pesaing kita. Jika pasangan kita menang, kita juga menang. Jika pasangan kita kalah, kita juga kalah. Kita dan pasangan adalah satu. Kita adalah keluarga.
Sungguh menakjubkan apa yang dapat dicapai sebuah keluarga, ketika pasangan dapat saling bekerja sama dengan baik. Berdua saling menutupi kelemahan dan saling memperkuat satu sama lain. Ketika salah satu tersandung, yang lain membantunya berdiri. Berdua, memiliki takdir yang saling berkaitan.
Seiring berjalannya waktu, anggota keluarga mulai bertambah. Ini berarti kerja sama tim tidak lagi berdua. Mungkin tantangannya menjadi lebih besar, namun jika kerja sama tim tetap dapat dipertahankan, hasilnya akan lebih luar biasa. Ibarat suatu klub, manager tim membutuhkan kiat dan usaha untuk mengelola tim agar tetap solid dan kompak.
Berikut beberapa hal yang dapat dipertimbangkan agar tim semakin solid dan kompak.
- Bukan “Aku” tapi “Kita”
Dalam sebuah tim, baik itu tim sepakbola, tim perencanaan, penyanyi duet, atau tim-tim lainnya, menuntut anggotanya untuk menekan egonya masing-masing, agar mencapai hasil yang lebih sempurna. Pemain gelandang harus mengalihkan keinginannya untuk mencetak gol dengan memberikan umpan pada penyerang. Atau seorang penyanyi perlu meredam suaranya agar tidak terlalu menonjol, hingga serasi dengan teman duetnya.
Begitu juga dengan sebuah keluarga. Masing-masing individu perlu menekan egonya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Misalnya, bagi ayah atau ibu yang gemar masakan pedas, harus meredam keinginannya, saat mulai mengenalkan menu makanan keluarga pada si kecil. Atau saat akan berwisata bersama, kakak harus sedikit mengalah pada adiknya agar si adik dapat menikmati suasana liburan. Menekan keinginan untuk lebih menonjol dari anggota tim lainnya, tidak mementingkan diri sendiri, adalah syarat utama dalam sebuah tim.
- Komunikasi, kerjasama, dan koordinasi
Layaknya sebuah perusahaan yang sukses menjalankan roda bisnisnya, keluarga juga memerlukan komunikasi, kerjasama, dan koordinasi di dalam timnya. Komunikasi adalah awal dari terbentuknya sebuah kerjasama. Kerjasama yang baik memerlukan koordinasi yang terpadu. Koordinasi yang selaras dan terpadu, memerlukan komunikasi yang baik. Oleh karena itu, ketiga hal ini seperti mata rantai yang saling berkaitan untuk mencapai sasaran yang ditentukan.
Saat sebuah keluarga memiliki pola pikir layaknya tim, tanpa disadari, anak-anak dengan sendirinya akan berpikir demikian. Salah satu contoh sederhana, sebuah keluarga ingin berlibur ke luar kota. “Manager” akan menyampaikan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan sebagai persiapan (suatu bentuk komunikasi). Anggota keluarga kemudian melakukan tugasnya masing-masing. Ayah mengecek kondisi mobil, ibu mengatur konsumsi, kakak merapikan rumah, dan adik membantu mengembalikan mainan ke tempatnya (suatu bentuk kerjasama). Saat waktu yang ditentukan tiba, “manager” akan mengoordinasikan apakah semua tugas sudah terlaksana dengan baik. Jika ada tugas yang belum selesai dikerjakan oleh salah satu anggota, manager akan menginfokan pada anggota lainnya, untuk membantunya (suatu bentuk koordinasi). Disinilah pola pikir tim perlu dikenalkan. Anggota lain perlu menyadari jika ada salah satu tugas yang belum selesai dikerjakan, keberangkatan mereka akan tertunda.
- Proyek Bersama
Jika ingin memenangkan pertandingan, tentu harus banyak berlatih. Carilah aktivitas yang dapat menguatkan setiap anggota sebagai rekan satu tim. Ingatlah bahwa rekan satu tim harus selalu saling peduli, saling antusias, saling apresiatif, dan saling mendorong.
Salah satu cara sederhana adalah mengubah kegiatan favorit keluarga menjadi pengalaman tim. Misalnya, bermain basket melawan keluarga lain, atau berkemah bersama keluarga yang lain. Sekali waktu hadiri acara yang menampilkan satu tim, seperti acara olahraga, pertunjukan musik, atau bermain teater sebagai referensi tim.
Atau lakukan proyek pekerjaan rumah yang membutuhkan kerjasama tim. Misalnya, mengganti wallpaper ruang keluarga. Mulai dari membongkar wallpaper, mengukur dinding, dan mengganti dengan wallpaper baru. Saat tim berhasil melakukannya dengan sukses, di kemudian hari, Anda pasti akan selalu mengingat proses kerjasama dan koordinasi tim saat melihat wallpaper tersebut.
Terakhir, ingatlah bahwa upaya yang tulus dalam menyelesaikan suatu proyek bersama akan menciptakan “persahabatan” dalam tim Anda. (NTDindonesia/ averiani)
