Tahukah Anda, beberapa negara di belahan dunia ini merayakan Hari Kakek-Nenek Nasional? Hari itu ditetapkan khusus untuk menghormati para kakek dan nenek, yang umumnya menunjukkan ikatan istimewa dengan cucu-cucunya. Namun, meski banyak negara yang memiliki Hari Kakek-Nenek Nasional, mereka menetapkannya pada tanggal dan bulan yang berbeda-beda. Bahkan terkadang, penetapannya dipisahkan antara Hari Kakek dan Hari Nenek.
Indonesia mungkin tidak mengenal Hari Kakek-Nenek Nasional, namun peran para kakek dan nenek ini, tidak dapat dipungkiri. Tidak hanya bagi para cucu, namun juga bagi orangtuanya. Mulai dari meminta saran atau pendapat, “mengimpor” nenek, atau menitipkan anak pada kakek dan nenek, saat orangtua harus melakukan kegiatan yang tidak dapat ditinggalkan. Kesemuanya itu adalah bentuk penghormatan sekaligus menunjukkan seberapa besar peran kakek atau nenek dalam sebuah keluarga.
Bagi para cucu, tidak ada hubungan yang lebih mendalam dan sangat dibutuhkan di dunia ini selain kedekatannya dengan kakek atau neneknya. Dimana lagi mereka dapat mengantongi sejumput permen setelah menghabiskan semangkok besar es krim dan dua buah donat toping keju dan coklat, sesaat sebelum makan malam tiba?
Banyak penelitian juga membuktikan dukungan penting dari kakek dan neneknya pada cucu mereka, terutama semasa mereka kanak-kanak. Menurut Dr. Karl Pillemer dari Cornell University, pentingnya hubungan emosional antara kakek-nenek dan cucu mereka menempati urutan kedua setelah orang tua dan anak.
Pillemer juga menyampaikan, “Penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 9 dari 10 cucu yang telah dewasa merasa kakek dan nenek mereka memengaruhi nilai dan perilaku mereka. Kakek-nenek mewariskan kepada cucu-cucu mereka nilai dan norma tatanan sosial.”
Kedekatan antara kakek-nenek dan cucunya ini juga dipelajari oleh Merril Silverstein dan Vern L. Bengtson, seperti dituliskan oleh Susan Adcox dalam artikelnya yang berjudul “6 Factors of Grandparent-Grandchild Closeness.” Silverstein dan Bengston mempelajari konsep yang mereka sebut “solidaritas antargenerasi.” Mereka telah mengidentifikasi enam faktor yang memengaruhi “solidaritas” ini. Keenamnya antara lain: kedekatan secara fisik, frekuensi kontak, peran kakek-nenek dalam keluarga, konsep kenormalan atau kebiasaan yang telah tertanam dalam tradisi, ikatan emosional akibat solidaritas tersebut, kesepakatan nilai antar generasi.
Meski kedekatan secara fisik dan frekuensi kontak sangat bergantung pada jarak atau letak geografis, namun saat ini banyak teknologi tersedia untuk mendekatkan “jarak” tersebut. Secara garis besar kakek-nenek yang menyayangi cucunya akan mencari cara untuk menjembatani masalah jarak tersebut. Namun demikian, jarak fisik bukanlah satu-satunya penghalang dalam kedekatan maupun frekuensi kontak antar kakek-nenek dan cucu. Perceraian orangtua atau adanya perselisihan yang dalam antara kakek-nenek dan orangtua umumnya memiliki efek yang drastis terhadap kontak antara cucu dan kakek nenek.
Ketika kakek-nenek ikut membantu mengasuh cucu-cucunya atau bahkan menjadi orang tua yang sebenarnya, mereka memiliki kesempatan yang lebih besar untuk merasakan kedekatan. Namun, banyak kakek-nenek yang melakukan peran ini sebenarnya berharap tetap menjadi “kakek-nenek biasa” daripada harus menggantikan peran orang tua, menurut Adcox dalam artikel yang sama.
Juga dalam kesepakatan nilai, mereka berdua seolah memiliki solidaritas antar generasi. Umumnya, kakek-nenek memiliki range tolerasi yang lebih luas, asalkan cucu tidak melakukan tindakan yang melewati batas. Mereka menawarkan saran berharga bagaimana menghadapi situasi yang sedang dihadapi cucu tanpa menyakiti harga dirinya.
Sebuah artikel tulisan Jason Ladock dengan judul “Why are grandparents so important” dalam laman Health Guidance menggambarkan kakek-nenek sebagai “a goldmine store of knowledge” atau tambang emas ilmu pengetahuan. Meski tidak semua kakek atau nenek memiliki pengetahuan luas yang mereka dapatkan dari buku, namun setidaknya mereka memiliki banyak pengalaman dan informasi dari kehidupan yang telah mereka jalani -yang tidak diajarkan di sekolah manapun- yang akan dengan senang hati mereka ceritakan pada cucunya.
Terlepas dari sikap kakek dan nenek -yang menurut para orangtua- terlalu memanjakan cucunya, kehangatan dan cinta tanpa syarat dari mereka telah menciptakan ikatan khusus antar dua generasi. Mereka memperkenalkan cucu-cucu mereka pada tradisi masa lalu, menjalin kedekatan di masa sekarang, dan membantu cucu-cucu mereka membentuk nilai-nilai yang akan bermanfaat masa depan. (ntdindonesia/averiani)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
