Banyak anak-anak yang beranggapan bahwa kejujuran atau jujur itu berarti tidak berkata bohong – dan mengatakan hal yang sebenarnya memerankan bagian terbesar dalam bersikap jujur.
Saat mereka beranjak remaja barulah memahami bahwa kejujuran tidak hanya berkaitan dengan perkataan namun juga melibatkan kejujuran hati dan kejujuran dalam melakukan tindakan. Maka tidak mengherankan jika anak-anak umumnya tidak mengenal istilah white lies. Mereka hanya mengenal berkata jujur atau berbohong – hitam atau putih – mereka tidak mengenal bagian abu-abu.
Namun demikian, anggapan anak-anak tersebut tidak sepenuhnya salah. Terbukti bahwa sebuah riset yang berkaitan tentang berkata jujur atau berbohong – tanpa melibatkan tindakan – juga memiliki dampak positif pada kesehatan maupun hubungan pribadi atau sosial peserta.
Meminimalisir kebohongan dikaitkan dengan peningkatan kesehatan yang signifikan, menurut hasil dari sebuah riset yang dilakukan Anita Kelly, seorang profesor psikologi dari University of Notre Dame. “Kami menemukan bahwa para peserta dapat secara sadar mengurangi kebohongan yang biasa dilakukannya sehari-hari secara drastis, yang pada akhirnya dikaitkan dengan peningkatan kesehatan yang signifikan,” kata Anita Kelly yang penelitiannya juga termasuk studi rahasia dan pengungkapan diri, dilansir dalam laman news.nd.edu
Dalam artikel yang sama juga mengungkapkan bahwa peserta dalam kelompok yang “tidak berbohong” melaporkan adanya dampak positif pada peningkatan hubungan pribadi dan interaksi sosialnya, ketika mereka tidak berbohong.
“Analisis statistik menunjukkan bahwa peningkatan dalam hubungan ini secara signifikan berkontribusi pada peningkatan kesehatan yang dikaitkan dengan mengurangi kebohongan,” kata Lijuan Wang, yang merupakan seorang ahli statistik.
Sebuah artikel lain dalam laman orbitermag memuat ringkasan hasil studi yang berbeda, dengan dampak yang kurang lebih sama. Dalam ringkasan tersebut disebutkan bahwa kejujuran dapat meningkatkan harga diri, kemampuan untuk menyayangi, kemampuan untuk menjalin keakraban, serta hubungan sosial. Kejujuran juga diketahui dapat menurunkan ketegangan otot, sakit tenggorokan, sakit kepala, serta mual.
Penemuan-penemuan ini seolah menjadi salah satu bukti bahwa menerapkan kejujuran juga berdampak nyata dalam kesehatan seseorang, bukan hanya sebatas tuntutan moralitas dan spiritual. Kejujuran yang umumnya mengacu pada aspek karakter atau moral, serta memiliki konotasi positif seperti integritas ternyata juga berdampak positif dalam kesehatan. (ntdindonesia/averiani)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
