Ingin terus mendapatkan informasi terkini mengenai pandemi di tengah-tengah himbauan ber-social distancing, adalah hal yang wajar. Namun dengan begitu banyak informasi yang beredar –yang terkadang berlawanan satu sama lain, entah mana yang benar dan hoax– tentunya membutuhkan pemikiran yang jernih untuk memilah dan memilihnya.
Terlebih, jika berita yang ditampilkan cenderung bersifat negatif. Berbagai saran dan kiat telah banyak diutarakan oleh para ahli agar kita tetap “waras” dan tidak terpuruk dalam depresi di tengah dunia yang sedang temaram ini.
Salah satu cara sederhana dalam memotivasi diri yakni dengan menyisihkan waktu untuk mendengarkan musik. Selain menyenangkan ternyata musik tertentu juga dapat digunakan sebagai terapi untuk depresi. Tidak mengherankan, jika sebagian orang bahkan melaporkan telah mengalami serangkaian sensasi tubuh dan mental yang kompleks seperti tercekat, tergerak hatinya, dan perasaan panas-dingin seperti sensasi kesemutan dan merinding pada kulit kepala, punggung leher, dan tulang belakang saat mendengarkan musik.
Rupanya hal ini berkaitan dengan sejumlah besar serat yang menghubungkan korteks pendengaran ke area yang terkait pemrosesan emosional, menurut sebuah studi berjudul “Brain connectivity reflects human aesthetic responses to music,” penelitian dari Matthew E. Sachs dan kolega, Department of Psychology, Harvard University.
Jurnal yang dipublikasikan di Oxford Academic tersebut juga menyebutkan, meski sistem emosi dan sistem penghargaan otak (reward system) dan musik adalah bahasa universal, namun ternyata tidak semua individu mengalami respons emosional yang intens terhadap musik. Karena kepekaan tersebut berkaitan dengan kemampuan musik, kebiasaan, keterlibatan, serta pengalaman seseorang terhadap musik.
Namun demikian, secara umum musik tetap dapat mengubah suasana hati seseorang. Sebuah studi ilmiah dari McGill University di Kanada, berjudul “The Rewarding Aspects of Music Listening Are Related to Degree of Emotional Arousal,” karya Valorie N. Salimpoor, menemukan bahwa neurokimia dopamin dilepaskan saat mendengarkan musik. Dopamin adalah sejenis neurotransmitter.
Dia berperan dalam merasakan kesenangan. Ini adalah bagian dari kemampuan manusia untuk berpikir dan merencanakan, yang artinya membantu kita untuk berjuang, fokus, dan menemukan hal-hal menarik, seperti artikel yang dimuat dalam WebMD Medical Reference yang diulas oleh Smitha Bhandari, MD, berjudul “Dopamine: What It Is & What It Does.”
Lebih dalam lagi, sebenarnya kekuatan musik sudah dikenali sejak di masa lampau. Kebudayaan Tiongkok kuno meyakini musik memiliki kekuatan untuk menyelaraskan jiwa seseorang dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh obat. Hal ini dapat dilihat dari aksara Tiongkok kuno untuk obat atau pengobatan sebenarnya berasal dari karakter untuk musik, seperti diungkapkan oleh komposer Shen Yun Symphony Orchestra, Gao Yuan.
Selain itu, pada masa pemerintahan Kaisar Kuning (2698–2598 SM), telah ditemukan hubungan antara skala pentatonik (tangga nada pentatonik), lima elemen, dan lima organ dalam tubuh menusia dan lima indera. Juga pada masa Konfusius, para cendekiawan menggunakan karakter musik menenangkan untuk meningkatkan dan memperkuat karakter dan perilakunya, lanjut Gao Yuan.
Maka, jika Anda tidak merasakan sensasi tubuh dan mental seperti pada orang lain, jangan khawatir, Anda dapat mendengarkan musik tradisional atau musik klasik secara teratur. Selain musik-musik dalam genre tersebut menenangkan, siapa tahu Anda juga mulai merasakan sendiri manfaatnya. (ntdindonesia/ averiani)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
