Keluarga

“Kemah”

@pixabay

Acara perkemahan tahun ini sepertinya akan sangat menyenangkan karena akan diadakan di luar kota, yaitu di daerah Tawamangu, Jawa Tengah. Serunya lagi hampir semua siswa ikut berpartsisipasi. Katanya acara perkemahan ini adalah untuk melatih tanggung jawab dan kemandirian siswa.

Aku, Pipin, Rizki, Sahat, Ade, Nanda, dan Hanggara jadi satu tim. Kami biasa bermain bersama di SMA. Jadi kami kira kami akan menjadi tim yang hebat melawan tim lainnya di acara perkemahan nanti. Kami bertujuh sudah mendaftar dan telah mempersiapkan segala sesuatunya.

Kamipun membagi tugas, Aku mendapat tugas untuk membawa perlengkapan masak, Pipin mencari tenda bagi kami bertujuh, Rizki menjadi pemimpin yang bertanggung jawab atas kami semua. Sahat bertanggung jawab untuk selalu mengingatkan kami tentang acara dan waktu. Nanda bertugas di bagian konsumsi bersama Hanggara. Sedangkan Ade, dia bertugas untuk mencuci dan menyiapkan alat makanan.

Hari yang ditunggupun tiba. Kami berangkat bersama menggunakan bis besar dan betapa kami sangat bergairah menunggu saat ini. Akhirnya kami berangkat dan kami bernyanyi selama perjalanan. Perjalanan cukup jauh kami tempuh. Hampir 18 jam hingga kami tiba di tempat perkemahan.

Sesampai di lokasi perkemahan kamipun langsung mendirikan tenda. Rizki sebagai pemimpin segera membagi tugas, ada yang memasak, ada yang bersih-bersih dan ada yang mencari tahu agenda acara selanjutnya. Kami semua sepertinya satu tim yang begitu solid dan tak terkalahkan.

Pertandingan pertama adalah pertandingan pemanasan antar kelompok, pertandingan ini berkaitan dengan daya tahan tubuh. Siapa yang paling kuat maka timnya akan menang. Tim kami tidak mengecewakan, tapi sepertinya Sahat kurang bersungguh-sungguh sehingga pada garis akhir kami dikalahkan oleh tim lainnya. Kami sempat menyalahkan Sahat “Nggak asyik lu, Hat!  Lain kali jangan lalai seperti itu, kita akan kalah terus kalau begini caranya…..”. “Oke boss, tenang aja”, ujar  Sahat santai.

Malam itu kami diminta mempersiapkan diri untuk menghadapi esok, karena tantangan besok lebih banyak dan menantang akan banyak pertandingan yang menguras energi mental dan fisik. Sahat bertugas untuk membangunkan kami jam 4 pagi agar kami punya waktu untuk mempersiapkan semuanya.

Paginya, kami terbangun dalam keadaan kaget. Ternyata kami semua ketiduran, termasuk si Sahat yang bertugas untuk membangunkan kami dan mengatur waktu.  Rizki berteriak “Sahat, lu lupa tugas yah, lihat ini udah jam berapa? Jam 6.00 tahu!  kita hanya punya waktu 30 menit untuk semua persiapan! Ayo bangun cepat!”  Kami masih setengah sadar dan dalam keadaan masih terkantuk-kantuk kami terperanjat karena hanya kelompok kami yang nampaknya belum siap. Kelompok lain sudah memasak, sudah makan bahkan sudah tinggal berangkat. Kami benar-benar merasa gondok pagi itu….

Kami tidak berdaya menghadapi hari yang buruk ini. Semua gara-gara Sahat tidak menuaikan tugasnya, membangunkan kami semua. Pekerjaan yang termudah padahal yang kami berikan padanya. Tapi justru yang mudah saja tidak bisa dilakukan. Kami jadi bingung harus bagaimana. Tapi beruntung kami punya ketua seperti Rizki. ”Cancan, kamu hubungi panitia minta tambahan air minum. Pipin, Nanda, Hanggara, siapkan makanan pagi dan makanan siang. Lihat perbekalan yang kita punya. Ade dan Sahat siapkan peralatan keberangkatan kita. Jangan sampai ada yang lupa, ya…” kata Rizki berusaha memperbaiki keadaan kami.

Kami segera saja mengikuti instruksi Rizki. Beruntung kami bisa menyelesaikan semua dengan baik. Kecuali makan pagi yang membuat lidah kami semua melepuh karena makanan yang masih panas yang kami santap. Suasana hening dan setiap mata sepertinya tertuju pada Sahat. Sebelum berangkat Rizki berkata sekali lagi, “cek semua yah jangan ada perlengkapan yang tertinggal.” “Air minum semua sudah diisi, kan? Setiap orang sudah punya cadangan air minum, kan?” Tanya Rizki memastikan. “Sudahhhh” kata kami sambil lalu.

Kami pun mendapatkan gilliran berangkat mencari jejak. Kami harus berjalan berdasarkan peta yang diberikan dan mencari pos-pos agar mendapatkan poin di setiap pos tersebut. Kami membulatkan tekad untuk memenangkan pertandingan pencarian jejak ini. Perjalanan cukup menegangkan karena melewati daerah yang sunyi dan penuh pepohonan. Sebentar saja kami mulai kehausan dan harus mengeluarkan air cadangan kami.

Bencana kembali datang. Sahat kelupaan mengisi air cadangan yang ditugaskan kepadanya. “Maaf teman-teman, tadi aku tiba-tiba sakit perut, jadi tidak sempat isi semua”, kata Sahat menjelaskan kelalaiannya. Spontan kami kehilangan gairah untuk menyelesaikan tantangan-tantangan berikutnya. Padahal kami sudah mengumpulkan banyak poin tapi apa daya kami kelelahan kekurangan air dan yang membuat lebih tak berdaya adalah karena kelalaian Sahat yang tidak melakukan tugas yang telah diberikan kepadanya.

Rizki sudah tidak banyak bicara, dia juga sepertinya kehilangan gairah dan semangat kepemimpinannya. Selama perjalanan kami menyalahkan Sahat sebagai biang keladi ini semua. Kami bertanya padanya, “Sahat, kenapa sih kamu diminta bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu tidak bisa dilakukan dengan benar, malah sepertinya menyepelekannya sehingga terjadi masalah?” tanya kami kesal. “Maaf teman-teman, saya tidak tahu harus berbuat bagaimana, karena sepertinya yang kalian lakukan semua biasanya sudah dilakukan semua oleh orang tuaku atau pembantuku. Jadi aku merasa bahwa hal ini tidak begitu penting.” Berulang kali Sahat minta maaf, khususnya kepada Rizki, “Riz, maafkan aku yah, aku nanti yang mencari air di rumah penduduk.” Akhirnya Rizki kembali membuat kesepakatan untuk menyelesaikan tanggung jawab pertandingan hingga selesai, “Teman-teman, walau mungkin kita kalah dalam pertandingan pencarian jejak ini, tapi setidaknya kita menyelesaikan semua yang sudah kita mulai.” Kami sepakat dan akhirnya kami menyelesaikan semua dengan baik meski kami tidak menang.

Malam harinya Sahat banyak bercerita tentang dirinya selama ini. Ia tidak pernah diberi tugas di rumah. Ia selalu mengandalkan orangtua dan pembantunya. Bahkan untuk keperluan dirinya ia selalu disiapkan. Jarang sekali ia mendapatkan tugas dan diminta untuk mengerjakan. Jika tidak tuntas melakukan pekerjaan, iapun tidak pernah mendapatkan hukuman. Ibu Sahat sangat berperan dalam kehidupannya, ibunya hampir berperan serta dalam kegiatan yang dilakukan Sahat. Ia sendiri bercerita sebenarnya ibunya tidak mengijinkan ia ikut kegiatan perkemahan ini. Tapi karena tahu Sahat berkemah bersama kami teman-temannya dan berkat dukungan ayahnyalah  maka akhirnya Sahat diijinkan ikut.

Sahat berkata, “Aku iri sama kalian, kalian begitu mampu melakukan tugas-tugas yang dipercayakan kepada kalian, apa lagi kamu, Riz. Aku belajar banyak. Kamu orang yang bertanggung jawab kepada kami semua.”  “Hat, aku kira untuk bertanggung jawab kepada orang lain, kita semua pertama–tama  harus bertanggung jawab dengan diri kita masing-masing dulu. Aku belajar bertanggung jawab karena aku sebagai kakak pertama dari 3 bersaudara dan kebetulan aku sudah tidak punya ayah lagi. Mungkin karena keadaan itu aku tidak mau merepotkan ibuku yang harus bekerja seharian mencari nafkah,” timpal Rizki dengan rendah hati.

Walaupun dingin, malam itu menjadi malam yang begitu hangat bagi persahabatan kami. Kami menjadi lebih mengenal siapa teman kami sesungguhnya. Kami juga belajar banyak dari Rizki yang bagi kami sebagai sosok pemimpin sejati. Ia berkata, “Kebijaksanaan bukan di dapat dari hasil permenungan belaka, tapi keberanian mengambil tanggung jawab di masa mendatang.” Ia lakukan ini karena ia tahu ia masih muda dan adik-adiknya masih kecil serta ibunya sendirian mencari nafkah. Kalau dia tidak bertanggung jawab, apa jadinya dengan keluarganya? (ntdindonesia/can)