Banjir, salah satu bencana alam yang kerap terjadi di Indonesia. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, telah terjadi 3,350 kejadian dari total 10,756 angka kejadian bencana. Kerusakan yang diakibatkannya cukup tinggi. Tercatat sebanyak 74 persen dari semua kerusakan akibat bencana alam disebabkan oleh banjir. Juga menimbulkan korban jiwa, luka-luka, dan mengungsi sebanyak 42 persen. Pada awal Januari 2020 sendiri, tercatat 92.261 orang telah mengungsi akibat banjir.
Banjir itu sendiri, antara lain terjadi karena curah hujan yang tinggi atau berkepanjangan, akibat krisis iklim maupun lokasi daerah yang berada dalam zona banjir. Namun, tidak menutup kemungkinan banjir juga terjadi akibat buruknya drainase dan berkurangnya resapan air.
Terlepas dari mengapa dan bagaimana terjadinya banjir, orang tua perlu mempersiapkan dan mengenalkan tentang bencana alam ini pada anak-anak sedari kecil. Simak beberapa langkah antisipasi banjir dari BNPB dan savethechildren. Secara keseluruhan, persiapan dapat dibagi dalam tiga tahap. Sebelum terjadinya banjir, saat terjadi banjir, dan setelah banjir surut. Berikut, beberapa kiat yang dapat dilakukan untuk menjaga anak aman dalam banjir.
Sebelum banjir :
- Mengenalkan tentang banjir. Luangkan waktu bersama keluarga Anda untuk membahas mengapa dan bagaimana banjir terjadi. Gunakan kata-kata sederhana yang mudah dimengerti oleh si kecil.
- Simak informasi. Selalu simak informasi terkini mengenai curah hujan dan posisi air pada pintu air melalui televisi, radio, atau lainnya. Evakuasi jika diminta melakukannya atau jika Anda merasa tidak aman.
- Siapkan peralatan keselamatan seperti: radio baterai, senter, korek api gas, lilin, selimut, tikar, jas hujan, dan ban karet.
Selama banjir :
- Matikan listrik. Saat banjir benar-benar terjadi, matikan aliran listrik di rumah atau hubungi PLN untuk mematikan listrik di wilayah yang terkena bencana.
- Ikuti panduan dari otoritas lokal. Otoritas lokal, umumnya lebih memahami daerah yang terkena dampak dan mengetahui daerah-daerah banjir yang harus dihindari. Jika air semakin meninggi, hubungi instansi yang terkait dengan penanggulangan bencana.
- Mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Jika air terus membanjiri lokasi rumah, Anda harus mengungsi ke tempat yang lebih tinggi dan hindari air yang mengalir agar tidak terseret arus banjir.
- Jauhkan anak-anak dari air kotor. Umumnya, anak-anak sangat suka dengan air. Mereka tidak memahami bahaya akibat banjir. Jauhkan anak-anak dari area berbahaya dan air banjir karena cenderung kotor, membawa bakteri, dan rentan terhadap sengatan listrik.
- Jaga kebersihan anak-anak. Seringlah mencuci tangan anak-anak (selalu sebelum makan) dan memastikan mereka mandi setelah terkena air banjir atau daerah yang terkena banjir (saat sudah berada di lokasi yang aman).
Setelah banjir :
- Pastikan utilitas dipulihkan. Sebelum anak-anak kembali ke daerah terdampak banjir, pastikan utilitas seperti listrik dan pipa telah berfungsi kembali pada area tempat tinggal dan lingkungan belajar.
- Jangan libatkan anak dalam pembersihan. Biarkan anak-anak berada dalam lokasi aman hingga area terdampak selesai dibersihkan dan didesinfeksi.
- Bersihkan atau buang mainan yang terkontaminasi. Jangan biarkan anak-anak bermain dengan mainan yang telah terkontaminasi oleh air banjir dan belum didesinfeksi. Bahan-bahan yang tidak dapat didesinfeksi dengan mudah, seperti boneka atau bantal, sebaiknya dibuang saja.
- Siapkan obat-obatan darurat seperti: Oralit, antidiare, dan antiinfluenza. (NTDindonesia/ averiani)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
