Keluarga

Kisah Sebuah Dompet: Mulianya Sebuah Kejujuran

Illustrasi (Image: Sylvain Thomas/Getty Images)

Suatu hari Aku mengajak Sally untuk pergi berjalan – jalan ke pertokoan Jatinegara. Ketika tengah melihat –lihat di sebuah toko pakaian, Sally secara tidak sengaja menemukan sebuah dompet persis berada di sebelah kakinya. Segera Sally mengambil dompet tersebut dan langsung membukanya seperti miliknya. Aku yang mengetahui kejadian ini hanya terdiam dan segera mengajak Sally ke luar toko. Aku mempertanyakan dompet tersebut milik siapa. Sally menjawab enteng, ”ini adalah milikku”. 

Sally membuka dompet tersebut yang ternyata berisikan uang lembaran seratus ribuan yang jumlahnya cukup banyak bagi seorang anak SMP. Sally kemudian dengan mudahnya mengeluarkan beberapa uang lembar dari dompet tersebut dan memasukkannya ke dalam sakuku. Aku merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Aku bingung, Aku tahu hal ini salah. Ini bukanlah milikku ataupun Sally. Sally sudah tidak jujur dengan dirinya, mengakui dompet orang lain sebagai miliknya. Tapi  di lain sisi aku merasa tidak enak karena tidak setia kawan terhadap Sally. Apa lagi Sally adalah sahabat setiaku selama ini.

Dengan berat hati Aku menolak uang yang diberikannya sambil berkata, ”Sally, ini tidak benar, ayo kembalikan, kita berikan saja pada satpam di sana”. Tapi Sally menolak. ”Nina ini adalah milikku. Aku yang menemukannya dan aku tidak mencurinya. Bukan orang lain yang menemukannya, masa sih kamu tidak percaya. Kamu sahabatku atau bukan? Jika kamu sahabatku kamu harus percaya padaku”. Bahkan ia mengancam, ”Nina, jika engkau tidak percaya padaku berati persahabatan kita berhenti sampai di sini saja”. Ia pergi sambil meninggalkanku.

Aku masih mengikuti Sally dan berharap ia mau berubah pikiran. Tapi ternyata tidak, Sally bahkan pergi menuju counter HP. Dan sekarang ia sudah terlihat begitu bersemangat memilih–milih dan memegang satu persatu hp yang ingin dibelinya. Hatiku bergejolak, bingung apa yang harus aku lakukan. Mungkinkah aku menghentikan Sally? Aku juga takut kalau Sally nanti disebut pencuri jika aku salah bertindak. Apa yang seharusnya aku lakukan?

Tanpa sadar aku segera menghampiri dan menarik Sally ke luar conter HP tersebut , ”Sally, orang di toko tadi mengetahui bahwa kita yang mengambil dompetnya, aku tadi sudah bertemu dengan orangnya dan…..” belum selesai aku bicara Sally sudah menyerahkan dompetnya kepadaku dan berlari pulang. Kini dompet tersebut ada di tanganku. Aku segera menuju toko pakaian tadi, dan segera menyerahkan dompet tersebut. Ternyata dompet tersebut adalah milik pemilik toko pakaian tersebut. Ia sangat berterima kasih dan ia memberikan aku 2 potong pakaian yang bagus sekali.

@pixabay

Aku teringat akan Sally, ia yang menemukan dompet tersebut dan ia yang sebenarnya berhak mendapatkan baju tersebut. Aku memutuskan untuk datang ke rumahnya dan menceritakan apa yang terjadi setelah ia menyerahkan dompet tersebut kepadaku. Sesampai di rumah Sally, ia tidak mau menemuiku. Ia berpura-pura sakit dan tidak mau ditemui olehku. Sally menitip pesan pada mamanya bahwa ia sedang tidak enak badan jadi tidak ingin diganggu. Kemudian aku menyerahkan 2 potong baju yang kuperoleh dari pemberian pedagang pakaian Jatinegara. Aku berkata pada mama Sally, ”Tante, hari ini Sally sudah berbuat benar. Ia jujur mau mengembalikan dompet yang ia temukan di sebuah toko pakaian. Sebagai ungkapan terima kasih, pemilik dompet menitipkan 2 pakaian ini kepadaku.”  Aku langsung pamit dan meninggalkan rumah Sally.

Baru ketika aku hendak membuka pintu, Sally datang sambil berlari dan memeluk aku. ”Maafkan aku Nina, tidak seharusnya aku bersikap kasar terhadapmu tadi. Seharusnya aku jujur padamu dan segera mengembalikan dompet tersebut.”  ”Aku juga minta maaf ya Sally.  Aku juga bingung harus bagaimana. Di satu sisi kamu adalah temanku  tapi di sisi lain aku tahu yang benar adalah mengembalikan dompet tersebut kepada pemiliknya. Aku tidak bisa membohongi diriku, Sally.” Sally pun kemudian menatapku tajam dan berkata, ”Nina, engkau adalah sahabat baikku, terima kasih telah menyelamatkanku  dari kesalahan yang nyaris aku perbuat.” Sore itu kami habiskan bersama berdua sambil berbincang dan mengingat kejadian tadi dan menarik kesimpulan pembelajaran dari peristiwa tersebut. Sebelum pulang Sally berbisik, ”ini bagianmu, Nina.” Ia memberikan sebuah baju yang tadi aku berikan padanya. ” Terima kasih Sally,” kataku sambil tersenyum. (ntdindonesia/can)