Site icon NTD Indonesia

Kisah Sederhana dengan Pelajaran Besar

Keluarga

Keluarga. @Pexels

Melalui kata-kata dan tindakan, orang tua dapat membimbing anak-anak mereka hingga tumbuh dewasa, mengajarkan pelajaran hidup yang berharga di sepanjang perjalanan mereka.

Suatu hari, seorang anak yang berusia 2 tahun berlari ke arah meja dan secara tidak sengaja kepalanya terbentur meja. Dia menangis keras dan lama. Ayahnya keluar dari kamar, berjalan ke arah meja, dan bertanya dengan keras: “Hei meja, siapa yang menyakiti dan membuatmu menangis keras?”

Bocah itu berhenti menangis dan mendongak dengan berlinang air mata. Ayahnya membelai meja dan bertanya: “Siapa yang melakukan ini padamu?” Sang putra menatapnya: “Ayah, itu aku.” Ayahnya bertanya: “Sudahkah kamu meminta maaf pada meja?” Si bocah berkata: “Maaf,” dan membungkuk ke arah meja. 

Dari pelajaran itu, dia belajar akan tanggung jawab! 

Di hari lain, ketika bocah itu menginjak usia 3 tahun, dia mulai menangis tanpa alasan yang jelas. Ayahnya bertanya: “Apa kamu merasa tidak nyaman?”

“Tidak.”

“Kenapa kamu menangis?”

“Aku hanya ingin menangis.”

“Begini, ayah tidak keberatan jika kamu menangis, tapi menurut ayah ada tempat yang cocok untuk menangis sehingga kamu tidak akan mengganggu orang lain. Setelah kamu merasa cukup, beri tahu ayah, dan kemudian kamu bisa keluar dari situ.”

Si ayah memerintahkannya untuk tinggal di kamar mandi. Dua menit kemudian, bocah itu mengetuk pintu dan berkata: “Aku sudah cukup menangis.” Dia kemudian diizinkan keluar.

Sekarang, anak yang sama sudah berusia 18 tahun dan dia tidak menggunakan emosinya untuk memanipulasi orang lain atau menumpahkan kemarahannya pada orang lain.

Bertindak Gegabah

Si ayah bersama putranya yang berusia 5 tahun menyeberangi jembatan. Melihat air jernih di bawah jembatan, si anak berkata: “Airnya begitu indah, aku ingin melompat ke sungai dan berenang.”

Sejenak sang ayah terkejut, tetapi kemudian berkata: “Baiklah, mari kita terjun bersama, tetapi pertama-tama kita harus pulang dan mengganti pakaian.” Sesampainya di rumah dan mengganti pakaian, putranya melihat sepanci air.

Ayahnya berkata, “Anakku, ketika kamu berenang, kamu harus meletakkan wajahmu di air, kan?” Dia mengangguk dan ayahnya melanjutkan: “Kamu perlu latihan beberapa kali untuk melihat seberapa lama kamu bisa bertahan dengan wajah di dalam air.”

Baru 10 detik, bocah itu mengangkat wajahnya dari air dan berkata: “Aku tersedak di dalam air. Itu tidak nyaman.”

Sang ayah berkata, “Ya, jika kamu melompat ke sungai, yang kamu alami akan lebih buruk lagi.”

“Ayah, kalau begitu tidak usah lompat ke sungai,” jawab putranya.

“Oke, kita tidak akan melakukannya.”

Sejak itu, bocah itu belajar untuk berhati-hati dan berpikir dua kali sebelum bertindak gegabah.

Jadilah pahlawan

Suatu hari, seorang bocah berusia 6 tahun berjalan bersama ayahnya dan melewati McDonalds sepulang sekolah.

“Ayah, ada McDonalds!”

“Ah, McDonald’s! Kamu ingin makan sesuatu di sana, bukan? Nak, ketika kamu menginginkan sesuatu dan pergi ke sana untuk membelinya, itu hal mudah. Siapa pun dapat melakukan. Tetapi jika kamu berhasil menahan keinginan dan tidak jadi mendapatkannya meski menginginkannya, kamu akan menjadi pahlawan. Apakah kamu lebih suka menjadi orang biasa atau pahlawan?”

Bocah itu menjawab: “Pahlawan.”

“Kamu yakin tentang itu, Nak?”

“Ayah, aku benar-benar ingin menjadi pahlawan.”

“Oke, pahlawan, ayo kita pulang!”

Sejak saat itu, si bocah telah belajar mengendalikan keinginannya dan tidak menyerah pada godaan.

Bata atau pisau?

Suatu hari, seorang anak laki-laki berusia 8 tahun bertengkar dengan teman-teman sekelasnya dan pulang menangis. Dia merasa dirugikan oleh teman-teman sekelasnya dan melampiaskan amarah sejadi-jadinya! Dia menangis keras dan makin keras.

Ayahnya bertanya: “Apa rencanamu? Apakah kamu ingin ayah membantumu?”

“Ayah, carikan aku batu bata, besok aku ingin memukul mereka dari belakang.”

“Oh gitu, ayah bisa melakukannya. Ada yang lain?”

“Ayah, beri aku pisau, aku ingin menikam mereka dari belakang.”

“Baiklah! Dengan begitu kamu dapat melampiaskan lebih banyak amarah. Ayah bisa mendapatkannya untukmu.”

Si ayah naik ke atas untuk bersiap-siap. Sementara itu, sang putra sepertinya sedikit tenang.

Sekitar 20 menit kemudian, si ayah membawa banyak pakaian dan selimut.

“Nak, sudahkah kamu mengambil keputusan, bata atau pisau?”

“Tapi Ayah, mengapa ayah membawakan begitu banyak pakaian dan selimut?”

“Anakku, begini: Jika kamu memukul mereka dengan batu bata, polisi akan memenjarakan kita berdua selama sekitar satu bulan, jadi kita perlu sedia jaket dan selimut. Jika kamu menggunakan pisau dan menikam mereka, kita akan berada di penjara setidaknya selama tiga tahun, jadi kita harus membawa lebih banyak pakaian, begitu kan? Tapi itulah hukumannya. Jadi kamu yang memutuskan dan ayah akan mendukungmu!”

“Ayah, kita belum melakukan hal-hal itu, kan?”

“Tapi Nak, bukankah kamu sangat marah dengan kejadian itu.”

“Ayah, aku tidak marah lagi, dan kenyataannya, memang aku yang bersalah,” putranya tersipu malu.

“Baiklah, Ayah mendukungmu!”

Sejak itu, si bocah telah belajar bahwa pilihan memiliki konsekuensi.

Gagal Matematika

Seorang anak laki-laki yang berusia 9 tahun, gagal di pelajaran matematika kelas empat dan menjadi depresi. Ayahnya bertanya: “Bagaimana itu bisa terjadi? Kamu gagal dalam ujian matematika.”

“Itu karena aku benci guru matematika. Kelasnya membosankan.”

“Benarkah? Ayah malah ingin belajar,” kata ayahnya, sambil menunjukkan minat yang besar.

Putranya mengelak dengan berbagai alasan, namun sesungguhnya gurunyalah yang tidak menyukainya.

“Oh, begitu. Ketika seseorang menyukaimu, kamu menyukainya; ketika dia tidak menyukaimu, kamu membencinya. Apakah kamu orang yang aktif atau pasif?”

Putranya menjawab: “Orang yang pasif!”

“Apakah kamu orang kuat atau lemah? Pria sejati atau pria biasa?”

“Aku orang yang lemah, dan orang biasa!”

“Kamu ingin menjadi apa – pria sejati atau orang biasa?”

“Pria sejati, Yah. Sekarang aku tahu! Entah guruku menyukaiku atau tidak, aku bisa menyukainya, menghormatinya, dan menjadi orang yang kuat.”

Keesokan harinya, anak laki-laki itu berangkat ke sekolah dengan senang hati. Setelah itu, keterampilan matematikanya meningkat dan dia mempelajari perbedaan antara menjadi pria sejati dan pria biasa.

Kecanduan video game

Suatu ketika, seorang anak laku-laki berusia 10 tahun terobsesi dengan game komputer. Ibunya telah menyarankannya untuk berhenti berkali-kali, namun tidak berhasil. Suatu hari, si ayah berkata kepadanya: “Nak, aku dengar kamu suka bermain game.” Dia mengakuinya dan menundukkan kepalanya. Kemudian si ayah bertanya kepadanya: “Bagaimana perasaanmu setiap selesai bermain?”

“Tersesat, kosong, bosan, dan malu.”

“Lalu, mengapa masih bermain? Itu karena kamu tidak bisa menahannya, kan?”

“Iya ayah.”

“Baik! Biarkan Ayah membantumu!” Si ayah meletakkan komputer di depannya dan memberinya palu kecil.

Nak, hancurkan!

“Ayah!” Anak laki-laki itu bingung. “Hancurkan! Ayah akan baik-baik saja tanpa komputer, tetapi tidak kalau tanpa kamu, nak.” Bocah itu menangis setelah dia menghancurkan komputer.

Dari pengalaman itu, si bocah mempelajari arti sebuah prinsip.

Panggil Ibumu

Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun tinggal bersama neneknya, sedangkan kedua orang tuanya tinggal di luar negeri.

Ayahnya menelepon setiap hari untuk mengirim salam kepada nenek. Suatu hari, anak laki-laki itu menjawab telepon.

Halo, Ayah!

“Halo. Dimana nenek? Biarkan aku berbicara dengannya.”

“Ayah, kenapa kamu menelepon nenek setiap hari?”

“Apa menurutmu itu aneh? Dia itu ibuku!”

“Bagaimana dengan aku? Aku juga suka berbicara dengan Ayah!” ujarnya.

“Carilah ibumu dan bicaralah dengannya,” kata ayahnya.

Oh! Sejak saat itu, ibunya menerima telepon dari bocah itu setiap hari pukul 6 pagi, hujan atau cerah – sudah 8 tahun lamanya!

Menggunakan sedikit drama untuk memberi pelajaran

Seorang anak muda yang berusia 12 tahun, merasa terbebani dengan banyaknya pekerjaan rumah dan diliputi kecemasan. Suatu malam, dia masuk ke rumah dan bibinya berkata: “Hei, nak, kamu memecahkan piringku kemarin.”

“Tidak mungkin, aku tidak melakukannya!” dia membalas.

Neneknya menambahkan komentarnya sendiri: “Aku melihatnya, dan aku tahu kamu melakukannya!”

“Bukan aku! Nenek salah!” Anak laki-laki itu duduk di lantai sambil menangis.

Lima menit kemudian, ayahnya keluar dari kamar dan bertanya: “Apa yang terjadi di sini?”

“Ayah, bibi, dan nenek menyalahkan aku!”

“Wah, masalah besar, seseorang telah menyalahkanmu. Kamu merasa dikalahkan dan menangis di lantai. Kamu bukan laki-laki! Seorang pria sejati akan berdiri bahkan jika langit runtuh, tetapi kamu malah menangisi piring yang pecah. Yang terburuk belum datang. Sepanjang hidup, kamu akan dianiaya, dikhianati, dan dipermalukan. Jadi apakah kamu ingin tetap di lantai dan menangis ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginanmu?”

Anak laki-laki itu berdiri dengan punggung tegak, dan berkata: “Ayah, aku mengerti sekarang. Apa yang harus aku lakukan?”

“Sekarang, tanyakan pada dirimu, apakah kamu punya banyak waktu luang atau banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan? Ingatlah, abaikan hal-hal kecil dan selesaikan apa yang harus Anda lakukan.”

Anak laki-laki itu mengambil tasnya, membungkuk kepada bibi dan neneknya, dan dengan tenang pergi ke kamarnya.

Ketiga orang dewasa itu tersenyum karena dia dapat mempelajari sesuatu yang penting dari drama kecil yang mereka buat dan mereka berharap suatu hari dia akan mengingat kejadian itu dan memahami apa yang telah mereka lakukan untuknya. (eva/visiontimes)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI