Keluarga

Kisah Sukses yang Menginspirasi, Dipicu oleh Keluarga dan Keuletan

Griffin Furlong
Griffin Furlong. (Gambar: Audrey Abram)

Griffin Furlong, 26, sedang menulis buku. Bukan thriller, bukan novel grafis, bahkan bukan fiksi sama sekali; meskipun mungkin tampak seperti dongeng. Pemuda ini sedang membagikan kisah suksesnya yang menginspirasi tentang bagaimana ia berjuang melalui hidup dalam kemiskinan dan tunawisma, bagaimana ia mempertahankan sikap positif dan tidak pernah menyerah, dan bagaimana ia menjadi pemuda yang sukses dan bertanggung jawab seperti sekarang ini.

Hidup Griffin mengalami perubahan dramatis kali pertama ketika dia kehilangan ibunya akibat penyakit leukemia di saat berusia enam tahun. Meskipun dia tidak dapat memahami gawatnya situasi selama ibunya sakit, namun dia tahu bahwa ibunya sedang kesakitan. Bahkan saat dia semakin lemah di rumah sakit, ibunya membantu dia belajar membaca. Dia ingat saat itu dia menyadari bahwa “hidup itu sangat, sangat rapuh.”

Terakhir kali dia memegang tangan ibunya adalah pada saat pemakamannya. Tangannya terasa dingin dan tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Setelah itu, sambil menangis di ruang tidur mereka, dia dan kakak laki-lakinya, Sean, bersumpah bahwa mereka akan selalu ada satu sama lain. Ketika keluarga itu melalui banyak pencobaan berikutnya, mereka memegang teguh janji ini.

Tidak lama setelah itu, ayah mereka yang sedang berduka kehilangan pekerjaannya sebagai penjual mobil. Dia meminta tunjangan pengangguran untuk menghidupi anak laki-lakinya, tetapi dengan sumber daya yang terkuras, mereka mulai jatuh ke dalam kemiskinan. Dari rumah kontrakan, mereka pindah ke apartemen kontrakan. Ketika Griffin berusia tujuh tahun, mereka diusir dan mulai berpindah-pindah antara teman dan kerabat serta hotel. Pada saat dia berusia sembilan tahun, mereka tinggal di tempat penampungan tunawisma.

Mereka tidak punya rumah, tidak punya mobil, dan sering kelaparan. Dia ingat berbagi kamar dua tingkat yang kotor dan tanpa pemanas dengan keluarga lain di Wayside Christian Mission di Louisville, Kentucky, namun dia memandang pengalaman itu sebagai ujian daya tahan.

Ia memilih untuk mengambil “sikap bersyukur” atas hal-hal positif dalam hidupnya. Griffin menyampaikan pada Vision Times “Ketika saya merasa malu di sekolah, berjalan bermil-mil untuk mencari makanan, atau tidak bisa tidur di malam hari,” salah satu hal utama yang membuatnya tetap termotivasi adalah “memiliki keluarga yang saling sayang yang mendukung setiap langkah saya. Kakak dan ayah saya mendukung saya pada saat senang maupun susah. Saya tidak ingin menyerah pada mereka atau pada ibu saya.”

Seperti yang sering terjadi, sikap positifnya membawa perubahan positif. Nenek dari pihak ayah di Florida menawarkan untuk menampung kedua anak laki-laki itu untuk beberapa waktu. Tahun itu, ketika dia berusia 11 tahun, Griffin mendapat nilai A di sekolah. Kakaknya mendorongnya agar terus mempertahankan nilainya dan menjadi Valedictorian (murid dengan prestasi tertinggi yang membacakan pidato perpisahan di saat kelulusan sekolah), dan itulah yang dia lakukan.

Cobaan berlanjut, dan dia berkata “butuh kesabaran, waktu, dan daya tahan untuk terus mengamati dunia di sekitar saya dan membuat pilihan untuk melakukan yang lebih baik.” Memiliki mimpi, atau cita-cita itu membantu. “Menciptakan tujuan yang jelas membuat saya tidak sabar untuk bangun keesokan harinya, meskipun itu di tempat penampungan.” Selama tujuh tahun, dia menjadi siswa teladan, mendapatkan nilai tertinggi dan tidak pernah melalaikan tugas.

Bisbol membantunya membawa beberapa momen ke dalam situasi yang normal dan cerah di masa muda Griffin yang tidak stabil. Meskipun begitu, saat dia menceritakan kepada Sports Illustrated, dia pernah kehilangan konsentrasi saat berada di atas gundukan pitcher berjam-jam setelah dia mengetahui bahwa dia akan menjadi tunawisma lagi, dua bulan sebelum kelulusan sekolah menengahnya. Dia tidak bisa menahan diri untuk berpikir, “Apa yang akan saya makan untuk makan malam? Di mana aku akan tidur?”

Kali ini orang tua pacarnya menerima dia tinggal di tempat mereka, mendukung usahanya untuk mendaftar ke perguruan tinggi, sementara dia sedang belajar untuk ujian akhir. Pacar Sean mendesaknya untuk membagikan ceritanya pada pers, dengan gagasan mungkin memberinya peluang mendapatkan beasiswa. Akhirnya begitu dia setuju, dia dengan cepat menemukan dirinya berada di TV.

Di ABC News, Griffin mengungkapkan kepada dunia bahwa keluarganya baru-baru ini kehilangan rumah sewaan mereka karena mereka tidak mampu untuk tinggal di sana. Teman-teman sekelas dan guru-gurunya semua terkejut dengan ceritanya, dan seorang siswa teladan bahkan menceritakan bahwa dia juga pernah mengalami keadaan tidak punya tempat tinggal.

Dalam wawancara yang menyentuh dengan NBC News, dia berbagi bahwa ibunya menginginkan yang terbaik untuknya, dan dia berharap ibunya bisa berada di sana pada saat kelulusannya. Guru, teman, dan kerabat semuanya mengungkapkan kekaguman mereka kepada cendekiawan muda itu, yang “tidak pernah bolos sekolah” dan “tidak pernah meminta apa pun kepada siapa pun.” Publisitas yang tiba-tiba mendorong penggalangan dana online oleh teman-temannya mengumpulkan lebih dari $69.000 untuk biaya kuliahnya.

Griffin masuk ke Florida State University dengan beasiswa akademik penuh dan lulus magna cum laude dari program studi Teknik.

Meskipun pelajaran akademis nampak mudah bagi Griffin, dia berbagi dengan Vision Times betapa sulitnya pelajaran itu sebenarnya, “Sedikit yang orang tahu, tetapi saya gagal berkali-kali sepanjang hidup saya dan telah membuat banyak pilihan yang buruk. Saya gagal dalam ujian tabel perkalian di kelas tiga, saya gagal menulis esai di kelas lima, saya gagal dalam banyak Ujian AP di sekolah menengah, dan saya gagal dalam tugas kuliah pertama saya.”

Dengan keuletan yang luar biasa, dia melewati semua rintangannya, “Saya pikir apa yang membantu saya adalah belajar bagaimana berpikir secara mendalam, menjadi lebih sadar akan hari-hari saya, dan menentukan cara untuk memperbaiki diri. Saya membuat pilihan untuk lebih sering fokus pada prioritas saya, yang dalam kasus saya adalah: pendidikan, olahraga, dan keluarga saya.”

Saat ini, dia adalah seorang insinyur sipil dan calon penulis.

Griffin memperlakukan pendidikannya sebagai investasi penting untuk masa depan, karena dia tidak pernah ingin hidup dalam kemiskinan lagi. Dia berbagi kisahnya untuk menginspirasi orang lain agar berbuat lebih baik, dan menegaskan bahwa pola pikir positif adalah faktor kunci kesuksesannya. (visiontimes/sia/feb)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI